Oikoumene Sebagai Sebuah Cara Pandang (Alternatif) dalam Melihat Permasalahan Sosial

logofitur-520x245

“Oikoumene” sebagai  sebuah terminologi khas dalam khazanah Kekristenan sering dipahami sebagai sebuah kondisi atau tujuan akhir akan suatu keadaan ideal yang diinginkan. Misalnya adalah sebuah kondisi dimana semua unsur Kekristenan hidup bersama secara harmonis bersama-sama dengan makhluk ciptaaan Tuhan yang lain. Logo “Oikoumene” yang sekarang dipakai oleh lembaga-lembaga ekumenis (seperti PGI, GAMKI, PWKI, GMKI, dan WCC), juga menyiratkan pemaknaan mendalam terhadap seluruh karya ciptaan Tuhan. Aspek universalisme menjadi salah satu hal yang penting selain aspek membawa “kabar baik”.

Pemaknaan di atas juga harus dibarengi dengan menempatkan Oikoumene sebagai sebuah medan perjuangan akan kondisi sosial yang bernuansa ilahiah. Perjuangan yang bisa diartikan sebagai gerakan sosial ini memformulasikan dan mengoperasionalisasikan spirit-spirit Kekristenan dalam kerja-kerja pelayanan di seluruh bidang, termasuk berbagai permasalahan sosial yang ada di sekitar kita. Di sinilah titik yang menentukan apakah Kekristenan Indonesia bisa menjadi salah satu solusi permasalahan atau justru menjadi bagian dari masalah itu sendiri.

Dalam konteks internal Kekristenan, prinsip-prinsip Oikoumene dipahami dalam kerangka hubungan antar sesama umat Kristen. Meskipun terlihat mudah, namun justru inilah tantangan terbesar bagaimana mengaplikasikan prinsip-prinsip Oikoumene mengingat jurang perbedaan yang besar dan sangat beragam dari berbagai komunitas Kristen di seluruh dunia. Continue reading

All About Lily Chou-Chou: Kisah Heroik dari sebuah Ketidakberdayaan

15112

Bullying, ijime, perundungan, menjadi masalah serius dari suatu masyarakat. Hal yang paling horor dari bully bukan karena dampaknya yang menciptakan lingkaran setan kejahatan, namun dari fakta bahwa hal ini menjadi bagian inheren dari sebuah sistem masyarakat modern.

Sutradara Shunji Iwai menangkap bagian kecil, namun vital, dari kengerian ini, bullying pada anak-anak sekolah yang dilakukan oleh sesama anak-anak sekolah. Bullying pada level ini secara akurat digambarkan menciptakan lingkaran kekerasan yang seolah-olah muncul secara alamiah, dan ironisnya, tidak ada satupun orang dewasa maupun sistem pendidikan atau sistem sosial masyarakat yang berdaya menghadapinya.

Yuichi (diperankan Hayato Ichihara) menjadi tokoh sentral yang menjembatani relasi tokoh-tokoh lain dalam film yang bersetting suburban ini. Yuichi Hasumi punya cerita klise yang jamak ditemukan dalam diri anak-anak seusianya. Dia baru saja masuk SMP, menjalin relasi pertemanan, flirting terhadap lawan jenisnya, berinteraksi melalui dunia maya, dan menemukan hal-hal baru menjelang puberitasnya. Continue reading

Sekilas tentang Pemilihan Umum Nasional Australia

6a00e54ecc070b883301b7c86e7abd970b-800wi

Australia, negara tetangga Indonesia yang terkenal akan asosiasinya dengan logo kangguru ini akan menggelar pemilihan umum nasional atau pemilihan tingkat federal pada Sabtu, 2 Juli 2016. Dinamika politik dalam negeri Australia secara umum tidak diikuti secara intensif oleh masyarakat Indonesia, namun beberapa hal terkait pelaksanaan pemilu ini cukup menarik untuk dibahas sebagai bahan pembelajaran bersama.

Dekat di mata namun jauh di hati, mungkin adalah ungkapan yang bisa menggambarkan secara tepat bagaimana perspektif masyarakat Indonesia dalam konteks pemilu Australia selama ini. Relatif dekat secara geografis namun memiliki kultur budaya yang sangat jauh berbeda adalah alasan pertama mengapa tidak timbul chemistry antar kedua masyarakat. Orientasi politik luar negeri kedua negara juga bertolak belakang. Australia dikenal  sangat kental dengan kepentingan Barat dan menjadi sekutu penting Amerika Serikat di wilayah.

Beberapa insiden diplomatik terkait relasi kedua negara juga menjadi kerikil dalam sepatu. Isu-isu separatisme, hak asasi manusia, penyadapan, dan terakhir kontroversi yang dimunculkan Perdana Menteri Australia saat itu, Tony Abbot, terkait bantuan kemanusiaan mendominasi pembahasan hubungan bilateral kedua negara. Continue reading

The Great Hypnotist (2014): Rekonsiliasi di Alam Bawah Sadar

the-great-hypnotist-movie-review

Rekonsiliasi menjadi bahasan moral yang tak pernah ada habisnya. Baik di tingkat personal maupun publik. Dalam pemahaman lebih mendalam, rekonsiliasi bukan sekedar mendamaikan konflik batin maupun interpersonal, tapi juga menjadi tolak ukur apakah proses pembelajaran sosial pribadi atau komunitas masyarakat berhasil atau tidak.

Konsep rekonsiliasi ini juga mengingatkan kita akan bagaimana suatu komunitas bangsa-negara mengatasi trauma sejarahnya, terutama konflik-konflik yang ditimbulkan oleh sesamanya. Secara konseptual akademis kita mengenal berbagai strategi rekonsiliasi. Bangsa Afrika Selatan misalnya mencoba tetap mengingat trauma bernama politik apartheid dengan tetap menyimpan ingatan namun memaafkan kesalahannya (forgiven but not forgotten).

Sebaliknya, beberapa negara Eropa Timur menempuh strategi yang lebih keras dengan tetap mengingat dan menghukum rezim-rezim totalitarian di sana (not forgotten, not forgiven). Bangsa Indonesia sendiri tampaknya cukup “sopan” ketika harus mendamaikan hantu komunisme-nya dengan strategi rekonsiliasi samar-samar yang bahkan sulit ditentukan apakah itu faktual historis  atau tidak. Continue reading

Lunchbox, Ketika Bekal Makan Siang Jadi Picisan

dabba

Mumbai, kota paling sesak dan wilayah paling padat India dengan lebih dari 18 juta penduduk, tidak hanya memperlihatkan wajah metropolitan dan arogansi modernitas India. Keberadaan berbagai pusat finansial dan keuangan serta ekonomi yang sebagian besar beroperasi lintas negara dan lintas benua tidak mampu menyembunyikan wajah komunal masyarakat India.

Secara fisik, selain bangunan-bangunan megah dengan berbagai pernak-pernik modernitas, yang mencolok mata adalah kehidupan “kumuh” yang tentu saja belum tentu dianggap “kumuh” oleh masyarakat India yang dikenal memegang teguh nilai-nilai tradisionalnya. Kumuh versi urban tentu saja disimbolkan melalui keberadaan rumah-rumah susun, apartemen sederhana, atau flat kecil yang didalamnya orang-orang yang tinggal di situ masih membawa unsur-unsur komunalnya.

Adalah Ritesh Batra (penulis dan direktor) serta Guneet Monga, Anurag Kashyap, dan Arun Rangachari (produser) yang mampu membawa satu unsur komunal masyarakat India urban ini dalam satu sinema bergenre romantis berjudul Dabba (Lunchbox) yang dirilis tahun 2013. Continue reading

Snouck Hurgronje

Christiaan_Snouck_Hurgronje

Christiaan Snouck Hurgronje (1857-1936) mencatatkan dirinya sebagai suatu eksemplar dari intelektual yang berdiri di persimpangan kekuasaan dan ilmu pengetahuan. Riwayat dan perjalanan intelektualitasnya menjadi perdebatan tiada henti tentang apakah kekuasaan adalah tuan ideal bagi ilmu pengetahuan. Tapi, bagaimanapun juga, kontroversi ini seharusnya tidak meremehkan sumbangsih besarnya bagi dunia ilmu pengetahuan itu sendiri.

Studi yang mendapat banyak sumbangan dari Snouck Hurgronje diantaranya adalah studi tentang masyarakat Timur Tengah (Arab), Islam (baik di Arab maupun Indonesia), dan tentunya pendekatan kelimuan antropologis dan etnologis yang sampai saat ini masih menjadi rujukan bagi para akademisi.

Pandangan sejarah keilmuan yang simplistik, terutama yang terasa di Indonesia, cenderung menempatkan sosok Snouck Hurgronje dari sudut pandangan kontribusi ilmiahnya yang berdampak langsung terhadap kebijakan kolonial Belanda di masa Perang Aceh. Posisi ini diperkuat dengan label “Orientalis” yang akrab dengan pemahaman “superioritas Barat”. Melihat dari sudut pandang ini untuk melihat secara keseluruhan karya Snouck Hurgronje tentu sah-sah saja, tapi konsekuensinya adalah gambaran keseluruhan tentangnya tidak akan mampu didapat. Continue reading

Kaum Injili dan Politik

preston

Keberadaan kelompok-kelompok Kristen dengan dinamikannya di negara-negara dunia ketiga cukup menarik perhatian untuk dijadikan bahan studi. Bukan hanya aspek perkembangannya yang cukup fenomenal, tapi juga bagaimana relasi Kekristenan dengan politik yang cukup berharga untuk diangkat dan dilihat sebagai hal yang inheren.

Paul Freston, pengajar Sosiologi di Universidade Federal de São Carlos Brasil, menyadari adanya kekurangan studi dalam menjelaskan fenomena ini dan mencoba memberikan upaya awal dalam karyanya, Evangelicals and Politics in Asia, Africa and Latin (Cambridge University Press, 2001). Karyanya ini bukan sebuah studi kasus biasa, tapi menarik fenomena-fenomena umum ini dalam aspek komparatif yang jarang kita temui.

Akhirnya, muncullah sebuah karya komparatif menarik tentang dinamika kaum Injili dengan politik di Asia (Korea, Filipina, Malaysia, Indonesia, India, Myanmar, dan Cina), Afrika (Sudan, Angola, Mozambik, Zimbabwe, Malawi, Rwanda, Uganda, Ghana, Kenya, Zambia, Afrika Selatan, dan Nigeria), dan di Amerika Latin (Argentina, Mexico, Cili, Kolombia, Peru, Nikaragua, dan Guatemala). Continue reading

%d bloggers like this: