Lika-Liku Infotainment

Definisi kamus dari infotainment adalah infromasi atau berita yang diperlakukan sebagai sebuah hiburan. Infotainment secara sederhana pula bisa kita definisikan sebagai berita mengenai aspek-aspek hiburan mayarakat modern, mulai dari pelaku hiburan tersebut (entertainer), penikmatnya, simpatisan, maupun pembuatnya. Definisi kita sepakati cukup sampai di sini dan tidak ada lagi perdebatan mengingat maknanya dalam konteks ini mungkin lebih dangkal.

Dalam konteks masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat penikmat televisi nasional, infotainment sudah menjadi bagian hidup. Betapa tidak, karena mulai pagi sampai menjelang malam kita bisa disuguhi minimal dua kali tayangan infotainment dari satu stasiun televisi saja.

Infotainment juga sudah diterima melalui konsensus tak resmi masyarakat pembuat dan media hiburan Indonesia sebagai salah satu komoditi utama melengkapi sinema elektronik (sinetron) kejar tayang, film-film hantu, kontes pemilihan bakat, dan reality show remaja.

Infotainment mungkin sedang mengalami proses internalisasi menjadi ritual sosial bagi masyarakat televisi Indonesia yang notabene mayoritas peminatnya adalah masyarakat menegah ke bawah.

Berbagai indikator seperti rating televisi maupun maraknya secara kuantitas media-media penunjangnya (seperti tabloid maupun majalah hiburan) mengatakan hal yang sama : aku menikmati gosip, maka aku ada, dan ini bisnis yang amat menguntungkan. Stasiun-stasiun televisi lokal yang dimaksudkan dalam mengimbangi acara-acara televisi nasional dengan muatan lokal, ternyata masih berkiblat pada acara yang laris di tingkat nasional, infotainment salah satunya. Lebih ironis lagi adaptasi di tingkat lokal dilakukan dengan infotainment yang memberitakan para selebritis lokal.

Menarik untuk disimak adalah perkembangan infotainment itu sendiri. Dulu di awal 2000-an hanya ada beberapa gelintir acara infotainment, itupun hanya stasiun televisi tertentu dan tak lebih dari satu kali sehari. Booming mulai terjadi beberapa terakhir ini. Salah satu penyebabnya secara psikologis adalah ketegangan hidup dan kondisi sosial-politik di tingkat elit maupun akar rumput yang terus bergejolak.

Kepenatan hidup dan mulai munculnya sikap apatis inilah yang secara perlahan mulai memunculkan resistensi penikmat media terhadap berita-berita politik, ekonomi, maupun sosial-budaya. Berita-berita mengenai para politikus ternyata tidak memberikan pendidikan politik, demikian pula pemberitaan mengenai ekonomi yang justru semakin meneror kehidupan.

Di waktu yang hampir bersamaan, banyak rumah produksi yang mampu menangkap momentum ini dengan berbagai acara pengalih perhatian dari kepenatan hidup, mulai dari sinetron, reality show, sampai infotainment.

Dalam perkembangannya, maraknya tayangan infotainment justru menuai banyak kritik. Beberapa hal yang sering dipermasalahkan dari infotainment diantaranya adalah isu pendidikan terhadap pemirsanya, isu normatif mengenai muatan beritanya, statusnya sebagai sebuah berita, dan status para pencari beritanya.

Isu pendidikan terhadap pemirsa maupun klaim-klaim normatif tampaknya bukan hal yang laku dijual bagi media massa kontemporer. Muatan berita yang dibawa oleh infotainment harus diakui adalah berita remeh-temeh para selebritis lokal, mulai dari gaya rambut, perkawinan, perceraian, perselingkuhan, sampai rebutan harta. Alur cerita para selebritis dikemas begitu dramatis oleh infotainment dengan ketegangan menyamai film thriller, di lain waktu mengharu-biru dengan kucuran isak tangis a la epik drama.

Isu-isu mengenai kehidupan rumah tangga orang lain, mungkin menarik, tapi bagi orang lain ini telah menabrak norma-norma masyarakat. Alhasil fatwa haram bagi infotainment pernah dikeluarkan oleh para agamawan walaupun kemudian hilang begitu saja.

Alasan normatif yang disuarakan memang sangat beralasan. Pemberitaan mengenai urusan pribadi orang dalam standard budaya timur dinilai cukup “vulgar”. Realitas dipermak sedemikian rupa agar sebisa mungkin menarik perhatian. Masyarakat penikmatnya dipaksa untuk mengidentifikasi diri mereka sebagai peeping tom.

Jika terpaksa, untuk memenuhi konsumsi pasar media, “rahasia dapur” akan dieksploitasi seintensif mungkin. Maka yang terlihat adalah adegan-adegan nyata yang mungkin hanya kita kira terjadi di sinetron, isak-tangis seorang ibu yang berebut hak waris anaknya, jeritan bapak yang sudah tidak diakui lagi oleh anaknya yang selebritis, seringai tawa seorang artis yang barusan bercerai, sampai adegan sebuah keluarga yang melabrak rumah selingkuhan ayahnya.

Yang juga masih menjadi pekerjaan rumah adalah profesionalisme para pencari berita infotainment. Memang mereka belum seganas paparazzi dalam mencari berita, tapi keluhan para selebritis mengenai sikap “nyamuk-nyamuk infotainment” ini cukup dirasa mengganggu. Memang cukup sulit untuk membedakan mana masalah pribadi atau publik dari diri seorang selebritis. Begitu dia berstatus sebagai selebritis, dia dibayar oleh uang publik. Logika yang kemudian sering menjadi apologetika bagi para wartawan infotainment adalah karena dia telah dibayar oleh publik, maka publik juga harus tahu semua sisi kehidupannya.

Belum profesionalnya para wartawan infotainment, terutama dalam pelaksanaan kode etik jurnalistik, ternyata juga diimbangi belum profesionalnya para selebritis lokal. Harus diakui, kemampuan berkomunikasi di depan pers, kemampuan berbahasa yang baik dan benar, sampai penguasaan emosi mayoritas selebritis kita masih belum nampak.

Yang menjadi permasalahan berikutnya adalah apakah informasi seperti itu layak disebut berita dan disebarluaskan melalui media massa ?

Status infotainment sebagai sebuah berita juga masih termasuk kontroversi. Dari segi teknis pemberitaan (5W-1H) sebenarnya tidak ada masalah, bahkan satu keunggulan dari pemberitaannya adalah usaha menyajikan liputan yang berimbang.

Kadar berita yang ringan kadang memang membuat pikiran penat menjadi rileks, tapi di sisi lain juga akan membiasakan kita untuk tidak berpikir. Informasi yang dibawa infotainment kadang tidak memerlukan pikiran untuk mencernanya, dalam intensitas yang lebih justru emosi dan perasaan yang akan dipacu untuk mengikuti alur pemberitaan.

Apalagi informasi yang dangkal ini akan terus diulang-ulang bahkan dalam satu hari oleh satu stasiun televisi. Masyarakat kita belum mengalami tahap “kebanjiran berita”, tapi sudah tidak lagi mempunyai pilihan berita. Kesadaran praktis yang tercipta akibat konsumsi infotainment secara berlebihan juga memicu rendahnya budaya baca dan tulis pada masyarakat. Komunikasi massa yang seharusnya tercipta ternyata menciptakan kontraproduksi dengan menimbulkan patologi baru. Komunikasi yang rasional membutuhkan pula kerasionalan informasi, unsure ini yang belum ada pada infotainment kita.

Tak bisa dipungkiri, media massa, terutama televisi juga merupakan sebuah ruang publik. Mungkin juga salah satu sarana komunikasi paling efektif bagi masyarakat Indonesia. Belum ada data akurat secara komprehensif, tapi penetrasi televisi pasti lebih luas daripada internet atau media massa cetak manapun. Potensi inilah yang seharusnya bisa dimanfaatkan secara optimal bagi pendidikan masyarakat, tinggal menunggu political will dari pemerintah sebagai regulator komunikasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: