Mencari (Cari) Pondasi Ilmu-Ilmu Sosial

Ilmu-ilmu sosial menempati peran yang sentral dalam kehidupan masyarakat. Kalimat ini mungkin sudah tercantum ribuan, mungkin jutaan kali dalam buku-buku teks. Tapi suka atau tidak, posisi dan status secara sosial ilmu dan ilmuwan sosial tampaknya tidak seindah kalimat di atas.

Ilmu-ilmu sosial punya tugas mulia dalam menjelaskan aspek-aspek hubungan antar manusia, interaksi sistem dengan manusia, hubungan manusia dengan budayanya, dan dalam tataran yang lebih dalam untuk memprediksi situasi sosial masyarakat ke depannya.
Misi ini sama beratnya dengan para ilmu matematika yang berusaha mengembangkan logika manusia secara sistematis, ilmu fisika yang ingin menemukan penyusun dasar semua materi di jagad raya, maupun ilmu biologi yang berusaha menjelaskan hubungan antar makhluk hidup di dunia ini.

Diskursus terjadi ketika ilmu-ilmu dan para ilmuwan dari berbagai disiplin, baik eksak, maupun non-eksak bertemu dalam suatu forum ilmiah, baik forum itu bertemu secara fisik maupun berdebat secara teks. Selain pertemuan antar status dan simbol sosial, epistemologis dan ontologis akan menjadi bahan pembicaraan utama.
Permasalahan pertama adalah posisi disiplin tersebut sebagai suatu “ilmu yang sebenarnya”. Kedua menyangkut hubungan antara ilmu dan ilmuwannya. Dan yang terakhir adalah masalah pengembangan ilmu tersebut ke depannya.
Permasalahan yang pertama menyangkut posisi disiplin tersebut sebagai suatu ilmu tidak bisa lepaskan dari aspek epistemologisnya. Dalam keadaan inilah muncul dikotomi ilmu eksak dan ilmu non eksak. Lebih jauh lagi secara abstrak diredefinisikan sebagai ilmu pasti dan ilmu tak pasti, dan ilmu sosial tentu masuk dalam kategori “tak pasti” tersebut. Posisi secara akademis dan status sosial ilmu sosial tentu lebih rendah dibandingkan ilmu eksak.
Apalagi ketika permasalahan epistemologi dipertanyakan. Jangankan mahasiswa, para doktor ilmu sosial pun belum tentu bisa menemukan jawaban mengenai pondasi-pondasi keilmuannya. Pondasi keilmuan sosial secara umum dipandang bermula dari filsafat (barat)yang merupakan ibu dari semua ilmu. Tapi pencarian pondasi filsafat ini bukannya tanpa masalah mengingat kecenderungan bahwa bukan filsafat yang menciptakan ilmu sosial, tapi ilmu sosial yang berusaha memakai filsafat sebagai pondasi keilmuannya. Sikap politisasi inilah yang sering mendatangkan kebingungan sekaligus cibiran bagi ilmu-ilmu sosial. Tapi jangan lupa, keadaan antagonisme politik seperti inilah yang juga menjadi ciri khas keilmuan ini.
Dalam perkembangannya, ilmu-ilmu sosial justru mengacu kepada perkembangan ilmu-ilmu eksak. Dimulai dengan filsafat positivisme logis, semangat ilmu-ilmu sosial untuk mengacu kepada ilmu-ilmu eksak mulai dirintis lewat behaviouralisme dan teori sistem yang diperlengkapi analisis fungsional-struktural.

Keadaan disiplin yang lebih abstrak muncul akhir abad ke-20 ketika semangat anti-fondasionalis filsafat postmodernisme berusaha memotong akar-akar keilmuan modern. Ilmu-ilmu sosial yang lebih dekat dengan postmodern daripada ilmu eksak mengalami dampak terbesarnya. Secara umum terdapat dua reaksi ketika ilmu-ilmu sosial bersentuhan dengan filsafat postmodern : penerimaan dan di sisi yang lain juga terjadi resistensi.
Penerimaan merupakan nilai lebih dari ilmu-ilmu sosial dalam mengembangkan konsep keilmuannya. Studi-studi interdisipliner dan multidisipliner bukanlah sesuatu yang diharamkan. Tetapi resistensi juga terjadi dari suatu status quo keilmuan yang sudah mapan, tujuannya Cuma satu : menghalangi perubahan sosial sebagai konsekuensi logis perkembangan ilmu sosial.
Permasalahan kedua mengenai hubungan antara ilmu dan ilmuwan tentu bukan kajian yang menarik bagi ilmu-ilmu non sosial. Diskursus semakin menarik jika melibatkan “cinta segitiga” antara ilmu, ilmuwan, dan obyek penelitian ilmu tersebut. Dalam aplikasi ilmu pada suatu penelitian, hubungan antara peneliti dan yang diteliti bisa bersifat dua arah, reflektif, tercipta korespondensi, ini terjadi karena obyek penelitian ilmu sosial adalah manusia.
Di satu sisi, hubungan dua arah ini dalam kacamata ilmu-ilmu eksak bisa menimbulkan bias penelitian dan keilmuan, tapi di sisi lain sifat ini bisa merupakan salah satu keunggulan pengembangan dan aplikasi ilmu-ilmu sosial yang tidak bisa melepaskan diri dari belenggu atmosfer sosial di sekitarnya.
Fenomena menarik terjadi pada transformasi ilmu-ilmu sosial kontemporer yang justru memunculkan ilmuwan-ilmuwan multidisiplin. Saat ini sulit sekali untuk mengklasifikasikan orang-orang seperti Jurgen Habermas, George Ritzer, Anthony Giddens, Jacques Derrida, Pierre Bourdieu, sampai Michel Foucault sebagai akademisi Hukum, Sosiolog, Politik, Linguistik, Sejarawan, atau Antropolog. Para filosof sosial kontemporer seperti merekalah yang justru mampu diterima semua disiplin ilmu sosial dan mulai menghapus sekat-sekat akademis yang selama ini membelenggu.
Masalah pengembangan ilmu-ilmu sosial ke depannya tentu menjadi perdebatan internal paling seru bagi para ilmuwan sosial. Permasalahan identifikasi ilmu sosial sebagai ilmu eksak justru akan memunculkan suatu parody (Soros, 1998). Sementara usaha identifikasi antar disiplin ilmu-ilmu sosial masih segan dilakukan dan justru memunculkan jurang perbedan didalamnya.
Ilmu sosial tidak akan diberi status istimewa dan dilekati stempel “lex specialis” oleh masyarakat ilmiah (barat) seperti halnya teologi maupun filsafat. Dalam artian bahwa ilmu-ilmu sosial akan terus digelitik keabsahannya. Ilmu sosial hanya akan diberi harapan semu jika terus mengacu pada pengembangan keilmuan ilmu-ilmu eksak. Para ilmuwan sosial akan terlihat berposisi sebagai bangsa terjajah yang terus berusaha menyamakan diri mereka dengan sang penjajah. Hasilnya, seperti yang dikatakan oleh Homi Babha : “almost the same but not quite, almost the same but not white”.
Tapi ada satu hal yang bisa kita banggakan : ilmu sosial tidak mengenal batas keilmuannya. Limit akhir atau jawaban terakhir dari suatu ilmu sosial akan terus berkembang searah jalannya peradaban manusia dan tentunya tidak akan bersifat kontraproduktif terhadap keilmuan sosial.
Ilmu matematika akan habis ketika logika-logika paling rumit mampu dijelaskan lewat suatu rumus. Demikian pula ilmu fisika akan berakhir ketika para peraih nobelnya mampu menemukan partikal dasar penyusun semua materi (building block). Ilmuan kimia akan berhenti bereksperimen jika semua kotak tabel periodik unsur-unsur sudah terisi penuh. Ilmu kedokteran juga akan berhenti ketika pemetaan DNA berhasil dilakukan disertai rekayasa genetika dan mampu mereproduksi manusia super kebal penyakit. Semua perkembangan ilmu-ilmu eksak akan mengarah pada suatu titik yang sama, Grand Unified Theory, teori unifikasi agung yang mampu menjelaskan semua fenomena alam.

Yang harus ditekankan bagi pengembangan ilmu-ilmu sosial adalah orientasi secara internal. Disiplin-disiplin ilmu sosial seperti Antropologi, Hubungan Internasional, Politik, Sosiologi, Kriminologi, Ekonomi, Psikologi Sosial dan Hukum perlu lebih mengembangkan konsep disiplin keilmuannya mengacu kepada perkembangan disiplin ilmu sosial yang lain. Bukan suatu pekerjaan yang mudah tentunya mengingat sudah terciptanya kotak-kotak disiplin yang sulit untuk dibuka walaupun berada dalam satu fakultas akademis. Ego keilmuan dalam kadar tertentu sangat diperlukan dalam pengembangan keilmuan, tapi jika sudah melewati batas tersebut justru akan memunculkan sekat-sekat keilmuan.
Dan yang tak kalah pentingnya adalah semangat ilmu-ilmu sosial awal seperti sifat utopia, interpretatif, normatif dan politis perlu dimunculkan kembali. Ini berarti minat dan usaha membongkar kembali filsafat keilmuan, metodologi, aspek epistemologis keilmuan menjadi tanggung jawab akademisi dan prakstisi ilmu-ilmu sosial. Para ilmuwan sosial tidak perlu mencari legitimasi keilmuan keluar, karena legitimasi ilmu sosial berada pada subyek dan obyek penelitiannya : masyarakat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: