may day…mayday…

Tanggal 1 Mei mempunyai kesan tersendiri bagi beberapa pihak yang berkepentingan. Kebebasan berekspresi di ruang publik dimanfaatkan oleh para aktivis buruh untuk berunjuk rasa secara massal menuntut perbaikan nasib buruh dan keadilan sistem ketenagakerjaan. Bagi para pemilik modal, hari pertama bulan Mei ini juga menjadi dilema tersendiri apakah meliburkan tenaga kerjanya atau tidak. Cashflow perusahaan pun bisa terancam apabila perbaikan sistem ketenagakerjaan yang menjadi isu sentral may day terwujud. Bagi pemerintah, satu mei juga menimbulkan kekhawatiran tersendiri dilihat dari aspek keamanan dan stabilitas ekonomi jangka pendek.

Ketika may day menjadi isu internasional, tingkat urgensitas dari esensi permasalahan ketenagakerjaan itu sendiri tampaknya belum tersampaikan secara layak. Publisitas dari may day masih berkisar pada demonstrasi massal di seluruh penjuru dunia. Esensi permasalahan, yaitu perbaikan nasib maupun keadilan sistem ketenagakerjaan dan pendapatan hanya disentuh pada aspek permukaan saja tanpa mengurai unsur struktural permasalahan tersebut.

Suatu usaha yang sia-sia saja bagi penulis melihat publisitas besar-besaran mengenai perbaikan hak para buruh jika tidak menyentuh aspek fundamentalnya: sistem perekonomian internasional. Logika-logika ekonomi dari sistem neoliberalisme akan mengeliminir aspek-aspek moral maupun normatif demi mencapai efektifitas dan efisiensi produksi (patologi modernitas). Dengan kata lain, selama pondasi dasar sistem internasional tidak diubah, nasib buruh di seluruh dunia tidak akan banyak berubah, mengingat aspek interdependensi ekonomi sangat kuat mempengaruhi negara-negara di seluruh dunia.

Yang menarik untuk dibahas adalah bagaimana aspek industrialisasi dan komunikasi mempengaruhi identitas buruh secara struktural (by design).

Georg Lukacs, salah satu revisionis dalam kerangka pemikiran new left, menyoroti aspek kesadaran kelas yang menurutnya salah satu determinan utama.Satu-satunya kelas yang sadar akan identitas dan posisi kelasnya adalah kaum pemegang modal. Kelas lain, seperti buruh atau kelas menengah perkotaan sampai rakyat miskin kota secara struktural kehilangan identitas kelasnya dan arus kapitalisme membawa air bah informasi yang mengintrusi aspek bawah sadarnya. Konsekuensinya, individu-individu tersebut akan selalu mengidentifikasikan identitas dirinya dengan identitas kaum pemegang modal (menengah ke atas)

Tuntutan libur may day pun seakan menjadi pelampiasan yang tak beralasan. kegiatan komsumtif dipastikan akan mewarnai hari libur buruh urban. Desain kota yang semakin tidak humanis dan ketiadaan ruang publik yang bersifat rekreatif (bukan konsumtif), menjadi alasan kenapa buruh urban tidak akan mempunyai pilihan lain selain melakukan kegiatan konsumtif.

Kota-kota besar di indonesia, seperti Jakarta, bandung, maupun Surabaya, masih belum mampu menyediakan suatu ruang publik rekreatif yang bebas dari kegiatan konsumtif yang sebenarnya tidak perlu. Kegiatan pada hari libur dialihkan menjadi kegiatan konsumtif di pusat-pusat perbelanjaan modern. Status buruh secara tradisional mengalami transisi sebagai buruh dalam artian yang lebih kontemporer (konsumen).

Kapitalisme lanjut yang menggantikan kapitalisme lama mendorong perubahan ini. Gelombang kapitalisme lanjut (spaatkapitalismus) secara absolut mempengaruhi setiap individu mulai tingkat bawah sadar sampai tingkat artikulatifnya. Mulai dari cara pembicaraan, gaya hidup, gaya pakaian, model rambut, sampai aspek seksualitas dijadikan komoditas yang mempengaruhi semua struktur pemikiran dan tindakan.

Status buruh dalam kapitalisme lanjut pun berubah. Mengikuti cara pandang Jean Baudrillard, eksploitasi di tingkat buruh tidak hanya berbentuk eksploitasi tanaga kerja, tapi juga eksploitasi konsumen. Karena itu, konteks konsep “buruh” di sini sangat luas. Buruh tidak lagi berada di pabrik-pabrik atau di rumah produksi, buruh tersebar di seluruh supermarket, di seluruh mall dan plaza, buruh adalah mereka yang mengkonsumsi tanda-tanda untuk membentuk identitas baru yang tentu saja semu (fake/false sign).

Dengan bumbu-bumbu budaya massa (mass culture), maka keberadaan individu maupun kelompok buruh tak ubahnya individu lain yang hidup dalam dunia imaji buatan kapitalisme. Dunia rekaan yang menciptakan apa yang dinamakan Baudrillard sebagai mayoritas diam (silent majority), suatu bentuk “kematian” pemikiran dan tindakan. Sinonim dari matinya “revolusi sosial”.

Dari uraian di atas, status dan identitas buruh menjadi dilematis, atau bahkan mati suri. Kaum buruh urban yang selama ini menjadi tumpuan utama revolusi sosial bagi kaum kiri seakan tertelan oleh rutinitasnya sendiri dan secara struktural kehilangan identitas kelas mereka.

Karena itu, semboyan yang paling realistis saat ini adalah bukan “wahai kaum buruh seluruh dunia bersatulah”, tapi “setiap individu buruh, sadarlah”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: