Sedikit Mengenal “Teologi Chen Tao”

Keberadaan berbagai macam aliran keagamaan, atau lebih netralnya disebut sebagai aliran kepercayaan, menjadi salah satu aspek dominan yang menghiasi corak kehidupan lebih dari 6 milyar jiwa penduduk planet bumi ini. Bentuk masyarakat paling primitif sampai masyarakat urban paling modern pun tak bisa dilepaskan dalam relasinya dengan kepercayaan supranatural yang melampaui pemikiran, perasaan, dan observasi ilmiahnya.

Di samping agama-agama besar yang telah dominan, seperti Kristen, Katolik, Islam, Budha, Hindu, dan Bahai, selalu ada varian-varian maupun sekte-sekte keagamaan yang muncul dari kepercayaan mainstream ini. Bisa bereksistensi sebagai pecahan, baik pro maupun kontra, atau yang paling dominan, menjadi semacam percampuran pemikiran-pemikiran religius kontemporer.

Teologi Chen Tao (bisa diartikan secara bebas sebagai “jalan yang benar”) sedikit banyak merupakan contoh menarik dari aliran religius yang bisa digolongkan sebagai non-mainstream. Pemikirannya bukan hanya merupakan suatu sintesis kepercayaan tertentu, tapi juga merupakan suatu cerminan persinggungan kebudayaan barat dan timur. Karena keterbatasan pemahaman serta untuk memadatkan isi, maka artikel ini tidak akan membahas secara mendalam mengenai beberapa perspektif alternatif yang disinggung dalam relasinya dengan keberadaan Teologi Chen Tao.

Sebagai catatan, informasi yang dirangkum penulis murni merupakan hasil dari studi kepustakaan, dan tujuan dari penulisan ini bukannya mempromosikan suatu aliran tertentu, kemudian menilai atau menghakiminya menurut sudut pandang tertentu. Pengenalan terhadap pemikiran-pemikiran alternatif seperti ini diharapkan mampu semakin meningkatkan kepekaan kita terhadap pluralitas masyarakat dan pemikiran yang dinilai sangat relevan terhadap kondisi masyarakat Indonesia sekarang ini.

Hon-Ming Chen dan God’s Salvation Church
Tidak bisa dipungkiri, keberadaan pemimpin-pemimpin karismatik dalam suatu bentuk komunitas religius sama pentingnya dengan esensi dari kepercayaan tersebut. hal ini berlaku pula bagi God’s Salvation Church yang merupakan artikulasi dari Teologi Chen Tao. Untuk lebih mengenal aliran kepercayaan yang bisa diasosiasikan dengan gerakan zaman baru (new age movement) ini, ada baiknya kita mengenal tokoh utamanya: Hon-Ming Chen.

Tidak banyak informasi yang bisa diperoleh mengenai masa kecil Hon-Min Cheng. Lahir pada 22 April 1955 di kota Chai’i, Taiwan, masa kecilnya ditandai dengan kehilangan kedua orangtuanya. Ayahnya meninggal karena stroke hanya selang beberapa tahun setelah kematian ibunya. Latar belakang religius keluarganya merupakan penganut Buddha dan tentu saja kepercayaan tradisional masyarakat Taiwan.

Hon-Min Chen seperti kebanyakan pemuda Taiwan saat itu juga menikmati pendidikan sampai taraf cukup tinggi. sebagai bukti, gelar sarjana ilmu politik berhasil disandangnya dan pada saat usianya menginjak 28 tahun, Chen sudah dipercaya untuk mengajar ilmu-ilmu sosial sampai tahun 1993 di Chai-Nan Junior College of Pharmacy.

Titik balik kehidupan religiusnya terjadi pada tahun 1992. Setelah sebelumnya mengaku sebagai atheis pada awal hidupnya, Chen mendapat pengalaman spriritual yang diartikannya sebagai perintah dari Tuhan untuk menempuh jalan religius dalam kehidupannya. Setelah itu, dia menekuni berbagai macam kitab suci mulai Injil sampai Kitab Tao. Selain itu, secara intensif cheng juga berkonsultasi dengan para penganut aliran zaman baru, sampai akhirnya dia bergabung dengan salah satu aliran keagamaan UFO tahun 1992. Tapi tak bertahan lama, karena ada masalah dengan kelompok religiusnya itu, Chen bersama beberapa orang yang berhasil dipengaruhinya keluar dan mendirikan Soul Light Resurgence Association (SLRA). Berpusat di Tainan City, Chen mulai mendirikan gereja bersama pengikutnya.

Tak diketahui secara pasti bagaimana perkembangan SLRA ini di Taiwan. Dan secara mengejutkan, pada tahun 1995, Chen menyuarakan klaim ilahinya bahwa wilayah Amerika Utara merupakan “pureland of God”. Konsekuensinya, pada tahun 1997, Chen dan 25 pengikutnya hijrah ke San Dimas, suatu wilayah suburban di Los Angeles. Di tempat inilah kemudian nama God’s Salvation Church secara resmi dipakai. Beberapa bulan kemudian, pusat dari komunitas God’s Salvation Church pindah ke Garland, Texas.

Prinsip-prinsip dari teologi Chen Tao ini disebut-sebut berbagai pengamat keagamaan sebagai campuran yang kompleks dari elemen-elemen Kristen, Budha, Taoisme, kepercayaan tradisional Taiwan, kisah fiksi ilmiah, serta tak lupa corak new age yang sangat kental. Unsur agama UFO juga menjadi ciri generik dari kepercayaan-kepercayaan berbasis new age, tak terkecuali Chen Tao.

Bagaimana prinsip-prinsip utama dari ajaran Chen Tao ini memang sangat samar-samar untuk dikaji secara jelas. Selain bersumber dari rilis-rilis resmi yang dikeluarkan oleh Chen, sumber utama yang bisa dipakai untuk mengkaji aliran ini berasal dari buku utama yang diklaim ditulis oleh Chen berjudul “God’s Descending in Clouds (Flying Saucers) on Earth to Save People; The Practical Evidence and Study of the World of God and Buddha”, yang terbit tahun 1997. Selain itu, buku yang juga ditulis Chen sebelum hijrah ke Amerika Serikat, berjudul “The Practical Evidence and Study of the World of God and Buddha”, juga bahan penting yang mengungkap cara pandang Chen dan basis pandangan apokaliptiknya.

Mengenai eksistensi dari kehidupan, mereka percaya bahwa semua berasal dari energi Tuhan, yang energi cahanya terpisah dalam beberapa bentuk. terciptalah strata-strata atau tingkat kehidupan dimana semua bentuk kehidupan bisa mencapai tingkat tertinggi, yakni tingkat ilahi yang telah memperoleh pencerahan, atau disebut oleh mereka sebagai Bodhisattva. Untuk mencapai tingkat ini, manusia harus melalui proses pemurnian (purity) jiwa yang utama, sebagai bagian dari tiga jiwa yang ada dalam manusia selain fisik dan kesadaran sementara. Jiwa yang utama inilah yang nantinya akan menghasilkan energi spiritual surgawi seperti yang ditegaskan oleh Chen.

Konsep transmigrasi jiwa untuk mencapai tingkatan tertinggi ini bukannya sesuatu yang mudah. Teologi Chen Tao juga mengenal bentuk jahat dari suatu keberadaan, yang mungkin bisa kita samakan dengan konsep setan, yang menghambat proses menuju keilahian ini. Bentuk jahat ini disebut sebagai jiwa luar (outside souls).

Konsep “Tuhan” sendiri dalam ajaran Chen juga sangat sulit untuk dipahami. Secara tegas Chen menolak konsepsi mengenai Tuhan seperti yang ada dalam Injil yang disebutnya terlalu berpikiran sempit dan kejam. Mengenai eksistensinya, meskipun lebih dekat ke arah impersonal, tapi keberadaan Tuhan diklaim sebagai sebuah bentuk sekaligus bukan bentuk, ditambahi keterangan maha berada dan merupakan energi yang tidak berakhir.

Dogma-dogma keagamaan dari Chen Tao tidak melulu membahas aspek religius, tapi juga sampai menyinggung aspek historis, politik, sampai kosmologi. Ini bisa dilihat dari pandangan apokaliptiknya mengenai dunia ini. Seperti kepercayaan kristiani, Teologi Chen Tao juga mengenal konsep masa kesengsaraan (tribulation). Masa kesengsaraan besar yang terjadi pada masa perang nuklir 4,5 milyar tahun yang lalu disebut-sebut menghasilkan sistem tata surya kita sekarang ini.

Sensasi dan Kontroversi
Tak pelak, keberadaan God’s Salvation Church semakin mendapat sorotan luas dari masyarakat dan media setelah hijrah ke Amerika Serikat. Sebagai sebuah kelompok agama minoritas yang berasal dari timur (Taiwan), pada mulanya keberadaannya tidak terlalu mendapat banyak perhatian, tapi setelah berpindah ke Garland pada 1997, berbagai ramalan yang dikeluarkan oleh Chen mengundang sensasi sekaligus kontroversi.

Agustus 1997, Chen meramalkan bahwa pada 25 Maret 1998, pukul 12:01 siang, Tuhan akan terlihat di 18 saluran televisi di seluruh Amerika Utara. Sebelumnya, Chen juga sudah membuat ramalan mengenai “Yesus dari Barat” yang mirip Abraham Lincoln” dan lahir di Kanada, Amerika Utara. Bukan itu saja, Chen juga memprediksikan bahwa Cina akan menyerang Taiwan pada Februari 1999 atau 22 April 1999. Kemudian Chen juga meramalkan bahwa akan terjadi air bah melanda kawasan Asia Timur pada bulan Juli 1999.

Berbagai prediksi dan ramalan yang bersifat sensasional ini ternyata tidak ada satupun yang tepat. Nama Chen sekaligus God’s Salvation Church menjadi tercoreng. Meskipun kemudian Chen menyangkal pernyataannya bahwa dia telah membuat ramalan dan berusaha menginterpretasikan kembali ucapan-ucapannya, reputasinya di mata publik sekaligus pengikutnya telah jatuh. Salah satu usaha pembelaan Chen sekaligus untuk memperkuat pandangan-pandangan apokaliptiknya ini tercantum dalam buku ketiganya, “The Appearing of God and Descending of the Kingdom of God –Saving Human Beings by Means of God’s Space Aircrafts”.

Setelah kegagalan besar dalam usaha ramalan-ramalannya, pengikut Chen Tao semakin sedikit jumlahnya. Tercatat jumlahnya hanya tersisa sekitar 30 orang. Tapi itu tak mengendurkan semangat Chen untuk terus membuat ramalan-ramalan. Pada tahun itu juga, fokus ajaran sedikit berubah dengan lebih menekankan pada ramalan-ramalan mengenai akhir dunia. Ini justru semakin menimbulkan kekhawatiran bagi publik mengingat kecenderungan dari kelompok-kelompok religius penanti hari akhir yang dekat dengan bunuh diri massal.

Setelah tahun 1999, keberadaan kelompok kepercayaan ini hampir tidak terlacak nasibnya. Demikian pula dengan Hon-Ming Chen. Bahkan situs resmi merekapun sudah tidak dapat diakses lagi. Beberapa lembaga studi keagamaan yang berhasil diakses penulis lewat internet seperti The Religious Movements Homepage Project dari Universitas Virginia, juga tidak berhasil mencatat keberadaan terakhirnya. Hanya bisa diperoleh keterangan bahwa tersisa 30 pengikut dari Chen Tao, yang terbagi dalam dua kelompok di Olcott dan Brooklyn, New York.

Penutup
Beberapa premis utama dalam teologi Chen Tao dilihat dari sudut pandang rasionalitas hasil pendidikan kita mungkin merupakan sesuatu yang arasional sekaligus menggelikan. Terserah bagaimana kita memaknainya, dengan menertawakan, mengejek, menghujat, mendoakannya supaya bertobat, atau malah mendukungnya, itu merupakan hak pribadi kita, tetap dengan catatan bahwa kita juga harus berpikir reflektif.

Bagi kalangan teolog konservatif, pemikiran Chen Tao yang kemudian berkembang di dunia barat ini bisa dipandang sebagai krisis dari rasionalitas maupun mulai runtuhnya pengaruh dua agama besar, Kristen Protestan dan Katolik. Keunikan teologi Chen Tao yang menggabungkan nafas-nafas agama timur dan barat dengan nuansa new age yang kental bukan pemandangan yang asing lagi di dunia barat kontemporer. Tidak bisa disangkal, popularitas agama-agama timur semakin naik, demikian pula kepercayaan-kepercayaan berbasis new age yang seringkali sulit kita bedakan. Di sisi yang lain, interaksi dan komunikasi masyarakat di negara-negara maju yang berbasis industri dan teknologi mengalami kehausan dalam pemenuhan kebutuhan spiritualnya, salah satu kebutuhan mendasar bagi manusia manapun. Dan inilah titik balik dimana aliran-aliran keagamaan alternatif, terlepas dari segala kontroversinya, mengisi ruang tersebut secara perlahan dan pasti. Yang menjadi pertanyaan selanjutnya, apakah fenomena ini juga akan terjadi di masyarakat negara-negara berkembang seperti Indonesia?

sumber: Wikipedia, The Religious Movements Homepage Project Virginia University, Marburg Journal of Religion.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: