Time Travel: Is it Possible ? (and worthy…?)

There was a young lady of Wight,
Who traveled much faster than linght,
She departed one day,
In a relative way,
And arrived on the previous night.

Time travel atau perjalanan lintas waktu bukan sesuatu yang tidak kita ketahui. Terlepas dari anda membenci atau tidak, menilainya sebagai sesuatu yang irasional atau bahkan di luar Firman Tuhan, fenomena ini tetap menjadi salah satu materi yang paling menarik untuk diteliti sekaligus menjadi sebuah diskursus spesial, terutama bagi ilmuwan fisika. Fenomena ini juga menjadi salah satu ide bagi para produser dan sutradara film fiksi ilmiah, terlepas dari apakah mereka benar-benar memahaminya atau tidak, yang mungkin menjadi konsumsi favorit kita.

Kembali kepada eksistensi kita sebagai manusia yang sekarang hidup di awal abad ke-21. Penulis akan mengajak anda untuk sedikit berimajinasi untuk melatih otak kiri anda yang selama ini mungkin terlalu banyak anda gunakan untuk menggosipin orang lain. Siapa yang pertama kali punya ide tentang perjalanan lintas waktu ini tentu saja tidak diketahui secara tepat, kalau begitu kita sebut saja Mr. X. Dengan sedikit memakai psikoanalisis kita coba meraba-raba apa yang mendasari pemikirannya tersebut. Mungkin Mr. X ini berasal dari keluarga broken home yang sering kita lihat di sinetron, dan berencana untuk kembali ke masa lalu untuk memilih ortunya. Atau dia seorang mahasiswa yang salah memilih jurusan dan berangan-angan untuk kembali mengikuti SPMB satu tahun yang lalu. Atau dia seorang bekas menteri yang baru saja menjadi korban reshuffle dan memutuskan untuk pindah partai politik di masa lalu. Selalu ada banyak kemungkinan. Dan tentu saja tidak ada jawaban tunggal bagi kita yang berkecimpung di ilmu-ilmu sosial.

Dari pemikiran ilmuwan eksak mungkin kita bisa mencari proposisi yang lebih konkrit. Tapi terlebih dahulu kita harus memahami konsep waktu dan ruang. Menurut postulat teori big bang mengindikasikan bahwa alam semesta ini punya awal, konsekuensi logisnya tentu akan ada akhir. yang menjadi pertanyaan utama, mulai kapan waktu (time) ini eksis. Permulaan big bang mengindikasikan adanya suatu awal dari sebuah singularitas, dimana semua hukum fisika tidak berlaku. Meletusnya big bang dari sebuah benda yang super massive kira-kira 15 miliar tahun yang lalu dan terjadi pada waktu t=sepuluh pangkat negatif empat puluh tiga detik (planck time). Inilah awal terjadinya waktu dan ruang dalam alam semesta yang terus berekspansi ini.

Sepuluh miliar tahun yang lalu tata surya kita terbentuk. Kemudian DNA pertama terbentuk entah bagaimana ceritanya, membentuk sesuatu yang kita namakan kehidupan (life), yang terdiri dari rangkaian atom-atom karbon, dan sedikit unsur atom lain seperti nitrogen dan fosfor. Kemudian DNA ini dengan membawa informasi dan ilmu pengetahuan terus berkembang dari keturunan manusia ke keturunan selanjutnya melahirkan manusia yang semakin lama semakin kompleks pemikirannya. Meloncat kepada pemikiran fisika klasik dimana kita menjumpai seorang Katolik yang sangat taat bernama Sir Isaac Newton yang melahirkan suatu dasar mekanika klasik. Ruang dan waktu dipandang sebagai sesuatu yang konstan. Pandangan ini kemudian direvolusi oleh seorang keturunan Yahudi yang besar di Jerman bernama Albert Einstein. Einstein menyatakan ruang dan waktu tidak tetap dan tidak tak-berubah. Sebaliknya, ruang dan waktu ini seperti karet yang bisa memanjang dan memendek. Ruang dan waktu mengatur diri mereka sendiri untuk menjaga sesuatu yang lain, kecepatan cahaya, konstan, tidak peduli pergerakan benda itu mendekati atau menjauhi berkas cahaya. Teori relativitas khusus dan umum  mengenalkan kita kepada 4 dimensi (3 dimensi ruang, 1 dimensi waktu).

Kemudian kembali kepada permasalahan utama kita, apakah keberadaan teori ini memungkinkan adanya time travel ? Einstein menyimpulkan tidak mungkin, tapi ironisnya, salah satu pengembang teori relativitas umumnya , yaitu Goedel, justru menyimpulkan bahwa relativitas memungkinkan yang namanya perjalanan lintas waktu. Tapi argument yang diajukan Goedel banyak ditampik karena justru mengindikasikan suatu alam semesta yang statis. Fantasi lain yang juga merupakan “saudaranya” time travel adalah kemampuan untuk melakukan perjalanan lintas ruang dengan kecepatan super. Katakanlah seperti pintu ajaibnya Doraemon. Konsep ini memunculkan suatu istilah wormhole (lubang cacing) yang berguna sebagai shortcut kita untuk memperpendek ruang. Tapi ini juga sangat sulit dilakukan mengingat kita harus memerlukan energi yang sangat besar, dan super energi, untuk menimbulkan akselerasi di atas kecepatan cahaya, 3 x 108 meter/detik.  Tapi teori kuantum memungkinkan prasarat di atas terjadi.

Secara garis besar ada dua kemungkinan yang diajukan Hawking sebagai resolusi untuk menjawab pertanyaan utama kita. Pandangan pertama disebut Pendekatan Historis Konsisten. Dalam pandangan ini sejarah adalah sesuatu yang konsisten dan tetap, sekalipun kita bisa melakukan perjalanan lintas waktu ke masa lalu kita, tentu saja kita harus terlebih dahulu menemukan persamaan fisika yang konsisten pula. Konsekuansinya kehidupan akan sangat deterministik, kita tidak bisa mengubah pemikiran kita dan tidak memungkinkan untuk free will. Pendekatan kedua adalah Pendekatan Historis Alternatif. Penjelasan dari pendekatan ini digambarkan secara dramatis oleh Steven Spielberg dalam trilogy film Back to the Future. Kita bisa melakukan perjalanan lintas waktu, konsekuensinya akan ada banyak alur waktu dan sejarah, dunia kita tidak memiliki hanya satu alur sejarah. Ada ratusan, mungkin ribuan bahkan jutaan skenario kehidupan dimana mungkin kita lahir di Suriname atau di Honduras.

Terlepas dari semua spekulasi ilmiah di atas kita coba memakai logika awam. Salah satu argumen yang patut diajukan adalah logika Hawking mengenai pendatang dari masa depan. Kalau memang kita bisa melakukan time travel di masa mendatang, kenapa sampai saat ini tidak ada orang dari masa depan yang mengunjungi kita ? Kenapa tidak ada seorang seperti Terminator yang datang untuk menyelamatkan kepentingannya ? Jawabannya adalah yang disebut sebagai Chronology Protection Conjecture : semua hukum fisika berkonspirasi untuk mencegah time travel, dalam skala makroskopik. Bisa kita bayangkan jika time travel benar-benar terjadi, apa yang terjadi jika saya kembali ke masa lampau kemudian membunuh orang tua saya sebelum melahirkan saya ? Konsekuensi moral, histories, sains, bahkan teologis sangatlah besar dipertaruhkan di sini.

Tapi ingat semua spekulasi, hipotesis, maupun jawaban dari ilmu fisika hanya mampu untuk menjawab pertanyaan How, belum atau tidak untuk menjawab pertanyaan Why. Science is about learning how Nature works, not addressing why She works like the way She does !!!  Jika ilmu fisika sudah mampu menjawab pertanyaan Why, maka fisika akan menjadi subordinat filsafat. Dan mungkin itulah the end of science….

So.., jawaban dari apakah sains dan teknologi akan memungkinkan suatu time travel,..sorry, I don’t think so… meminjam adagium dari mazhab fisika kuantum, Does God play dice…? Mungkin saja , Tuhan kadang-kadang melempar dadu ke arah yang tidak bisa kita tebak…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: