Khitan: Antara Budaya dan Agama

(Sebuah perspektif dari tulisan Bambang Noorsena, SH, MH, DEA “Khitan dalam Perspektif Kristen : Latar Belakang Yahudi dan Paralelisasinya dengan Islam”)

Khitan atau yang sering dikenal dalam masyarakat sebagai sunatan bisa dipandang dari dua perspektif, budaya dan agama. Ini tak lepas dari asal usulnya yang ternyata mengindikasikan nilai budaya lebih dahulu mengemuka lebih dahulu. Tradisi khitan pada masyarakat Mesir Kuno misalnya yang mendapat indikasi dari lukisan pada tembok Saqqara yang ditemukan di makam Ankh-Mahor dari Dinasti VI Old Kingdom (2350 SM). Bandingkan dengan tradisi khitan yang pertama tama tercatat dalam Alkitab pada masa Abraham (kurang lebih 1900 SM). Ritual khitan juga telah dikenal di kalangan Arab kaum Arab pada masa pra-Islam. Flavius Yosephus, seorang sejahrawan Yahudi dari abad pertama Masehi, menyebut ritual sunat juga dikenal suku-suku Arab pada saat itu. Sehingga bisa disimpulkan bahwa tradisi khitan bukanlah tradisi asli bangsa Ibrani maupun Islam.

Terminologi “khitan” memang identik dengan bahasa Arab. Istilah yang paralel dengan terminologi tersebut dalam bahasa Ibrani adalah khatan, tetapi istilah lain dalam bentuk kata kerja mul lebih sering muncul. Term khitan dalam Bahasa Indonesia diambil dari bahasa Arab khitan, berasal dari akar kata kh-t-n yang dikenal dalam semua bahasa di kalangan suku-suku semitis utara.

Dalam tradisi Islam, aturan-aturan mengenai khitan ini tidak dijumpai dalam Al Qur’an, dan hanya disebutkan dalam hadits. Karena itulah para ulama dari berbagai mazhab banyak yang berbeda pendapat mengenai wajib atau tidaknya khitan. Selain itu juga masih menjadi kontroversi mengenai boleh tidaknya dilakukan khitan pada perempuan. Menurut mazhab Hanafi dan Maliki, dan salah satu riwayat Hanbali berpendapat bahwa khitan hukumnya sunnah bagi lelaki dan keutamaan bagi perempuan. Sedangkan Mazhab Syafi’i dan Hanbali berpendapat bahwa khitan hukumnya wajib bagi laki-laki dan perempuan. Pendapat yang lain datang dari Ibnu Qudamah yang berpendapat bahwa khitan hukumnya wajib bagi lelaki dan sunnah bagi perempuan.

Dalam Perjanjian Lama kita bisa mendapati suatu istilah teologis “B’rit Millah” atau perjanjian Khitan. perjanjian antara Allah dan umat-Nya (Kejadian 17:10-11) yang mula-mula diwahyukan kepada Abraham/Ibrahim, Bapa kaum beriman yang juga menjadi akar dari lahirnya tiga agama samawi : Yahudi, Kristen, dan Islam. Saat perintah sunat yang merupakan simbol perjanjian Allah dan umat-Nya itu, Abraham sudah berusia 99 tahun, dan juga sudah mempunyai seorang anak Ismael (Ismail) dari hambanya Hagar (Siti Hajar). Selanjutnya perintah untuk menyunat tersebut diwajibkan bagi setiap anak Israel pada umur 8 hari (Kejadian 17:12). Perintah ini dilaksanakan Abraham kepada Ishak. Ishak dalam hal ini adalah simbol umat yang dipilih Tuhan, yang melaluinya janji Allah kepada Abraham digenapi. Dalam hal ini sunat adalah tanda kasih karunia Allah kepada umat-Nya (Kejadian 17:7 ; Ulangan 10:15).

Akan tetapi dalam perkembangan selanjutnya, pemaknaan orang Yahudi terhadap makna simbolis ini tenggelam oleh fungsinya sebagai identitas bangsa yang dipilih Tuhan. Sunat akhirnya hanya dipandang sebagai ritual semata. Bahkan sunat dalam pandangan legalisme Yahudi, menjadi pembeda antara bangsa mereka dengan bangsa lain yang tidak bersunat dan bahkan dianggap sebagai bangsa kafir. Pendangkalan pemaknaan sunat ini banyak ditentang oleh Nabi Musa serta Yeremia pada masa Perjanjian Lama dan Rasul Paulus pada masa Perjanjian Baru. Mereka menegaskan sunat bukan hanya mengerat daging kulup manusia, tetapi yang lebih penting adalah sunat hati yang tercermin dalam ketaatan, bukan sikap tegar tengkuk melawan Allah (Ulangan 10:16). Rasul Paulus juga mengambil sikap seperti ini ketika memutuskan untuk tidak menyunat Titus. Karena sunat perjanjian sunat dalam perspektif iman Kristen tinggal makna eksotesisnya, yaitu penyucian tubuh yang tidak ada kaitannya dengan keselamatan kekal. Sunat yang dimaksud juga bukan sunat yang dilakukan manusia, tapi sunat Kristus, yang terdiri dari penanggalan tubuh yang berdosa (Kolose 2:11-12).

Pemahaman iman Kristen sekarang juga harus melihat sunat bukan sebagai alasan maupun jawaban teologis, tapi sebagai ritual budaya ataupun dengan alasan kesehatan. Jangan sampai kita terbelenggu oleh tafsiran tekstual seperti bangsa Yahudi dulu.

Dalam konteks kehidupan kita dalam wilayah Negara Indonesia yang mayoritas Islam, ritual sunat memang kental dengan nuansa Islam, meskipun kita tahu itu tidak sepenuhnya benar seperti pembahasan di atas tadi.  Dalam bahasa Jawa misalnya, khitan disebut dengan selaman (pengislaman), dan ungkapan “sampun dipun selamaken (sudah dikhitankan)” bisa diterjemahkan “sudah diislamkan”. Untuk menghindari kesalahpahaman ataupun salah tafsir kita harus mendasarkan tindakan dan pemikiran kita dengan Firman Tuhan. Sunat atau tidak sunat tidak ada kaitannya dengan alasan maupun jawaban teologis. Penggunaan alasan budaya maupun kesehatan bisa menjadi alasan utama pelaksanaan sunat, tapi penggunaan dasar teologis untuk melaksanakan sunat bisa menimbulkan kesalahpahaman secara budaya maupun teologis itu sendiri. Dengan catatan penggunaan alasan budaya bisa kita tolak apabila tidak sesuai dengan Firman Tuhan.

Agama memang tidak bisa dilepaskan dari budaya. Agama tumbuh dan berkembang seiring dengan budaya. Tak jarang agama menggunakan instrumen-instrumen budaya setempat dalam menyebarkan agama. Sikap protektif dari agama dan bahkan menolak budaya dari suatu masyarakat justru bersifat kontraproduktif terhadap perkembangan agama tersebut. Sunat atau khitan juga merupakan budaya yang pernah digunakan Tuhan sebagai simbol perjanjian dengan umat-Nya. Sunat bukan merupakan budaya asli agama tertentu, tapi telah ada sejak jaman dahulu. Jadi klaim beberapa agama tertentu yang menempatkan ritual sunat sebagai tradisi asli agama mereka tentu saja kurang tepat. Dan yang lebih penting lagi adalah pemaknaan terhadap sunat itu sendiri. Menyunat hati kita dengan meninggalkan tubuh lama kita yang penuh dosa menuju pertobatan lebih penting daripada menyunat kulup badan kita.

Bambang Noorsena merupakan pendiri Institute for Syriac Christian Studies (ISCS), alumnus Kajian Perbandingan Agama pada Dar Comboni for Arabic Studies Institute, Kairo, Mesir.
Tulisannya ini disampaikan dalam diskusi di Surabaya, 13 Februari 2007.

4 Responses

  1. Terimakasih atas catatan sebuah deskripsi tentang khitan yang jelas khitan adalah syariat yang sudah berkembang dan diterapkan pada zaman Nabi Ibrahim as. dan bukan sebuah entitas budaya tapi syariat yang harus dilaksanakan.
    dengan khitan akan tercermin pribadi anak yang soleh dan taat beribadah kepada Allah SWT, selain itu khitan dijadikan para meter dalam kesempurnaan beribadah

  2. Terimakasih pula atas komentarnya bapak hendayana. Perspektif atau penggunaan pendekatan alternatif, seperti historis ini memang jarang temui dalam pembahasan masalah-masalah vital, apalagi mengenai agama, yang seharusnya menjadi sesuatu yang sakral dan untouchable dengan klaim kebenaran yang sangat absolut. Tetapi begitu kajian agama masuk (dan dimasukkan) ke ranah akademis, maka konsekuensi yang muncul adalah agama ‘kehilangan’ status istimewanya dan harus rela dikaji sama dengan subyek penelitian akademis lain, walaupun tentu saja tidak bisa meninggalkan prasangka-prasangka atau sentimen keagamaan di dalamnya.

    Kajian mengenai teologi Islam (Usul al Din) yang diajarkan di Indonesia, mengutip Bpk. Harun Nasution, pada umumnya teologi dalam bentuk Tauhid (Asy’ariah) yang kurang bersifat filosofis, dan biasanya pembahasannya sepihak. Nah sengaja pendekatan-pendekatan alternatif seperti ini saya hadirkan, bukan hanya dalam agama, tapi juga ilmu-ilmu humaiora, dengan maksud memberi warna lain dalam paradigma pemikiran sekaligus memperkaya wacana dan khasanah kita. Dan sekaligus secara tidak langsung menguji kebajikan kita bagaimana kita menyikapi sesuatu yang ‘lain’ atau ‘aneh’ menurut kita.

    Apresiasi saya terhadap bapak tentunya tidak menutup sedikit kritik terhadap penggunaan bahasa yang digunakan. Penggunaan kata-kata dan intonasi yang saya tengkap seperti “yang jelas” saya rasa hampir mirip dengan kata-kata “pokoknya” atau “ini lho yang benar yang lain salah”, saya rasa akan menutup dialog dan diskusi kita secara ilmiah, karena saya membuka forum ini dengan asumsi suasana ilmiah dan dialog akademis yang tercipta, konsekuensinya saya harus menyiapkan mata dan telinga untuk melihat dan mendengarkan tanggapan dengan model dan aliran apapun juga, dan itu akan memperkaya pemikiran saya yang terus belajar ini.

  3. bapak, apakah betul jika sunat perempuan dilakukan setelah sara menyunat siti Hagar karena dia cemburu ataukah ada cerita yang merupakan asal dari adanya sunat perempuan? terima kasih atas jawabannya

    • Pertama-tama, saya minta maaf dulu bung karena saya bukan dalam kapasitas untuk menjawab pertanyaan tersebut dari sisi referensi suatu agama tertentu. Saya juga sulit untuk melihat relevansi kedua hal tersebut, karena dalam kacamata saya, unsur manusia masih sangat dominan dalam agama,dalam artian agama banyak digunakan sebagai “alasan pembenar” perbuatan manusia.

      Saya berusaha menyajikan perspektif yang lain dari sisi historis maupun sosiologisnya. Sunat perempuan, dalam bahasa medis disebut sebagai female genital cutting/female genital mutilation, menurut pandangan pribadi saya lebih terkait erat dengan budaya patriarki (penaklukan status dan kedudukan wanita di bawah pria). Asumsi sosial ini kebanyakan didasari pada rujukan penafsiran agama tertentu bahwa wanita mempunyai “nafsu” yang lebih besar daripada laki-laki, karena itu harus harus “dikontrol” supaya tidak selingkuh atau melakukan perbuatan yang nista dalam kosakata agama. Penjelasan seperti ini dalam pengalaman saya sering ditemui di wilayah negara kita yang menerapkan tradisi ini, seperti di wilayah Banten dan Jawa Barat.

      Di luar negeri, kita juga menemukan tradisi serupa di negara-negara Islam di Afrika, Timur Tengah, serta di suku-suku primitif di Amerika Latin maupun Australia yang non-Muslim dan ada jauh sebelum tradisi ini muncul di dunia Arab. Yang pasti, dari sisi kesehatan, setahu saya tradisi ini telah dilarang karena sangat membahayakan diri si wanita tersebut. Jadi karena tidak ada kegunaannya bagi si perempuan tersebut (secara medis), dan hanya mencukupkan kebutuhan pasangan prianya (yang juga tidak bisa kita pastikan untuk tidak selingkuh), atau kebutuhan lingkungan sosialnya (yang belum tentu juga kebenarannya), menjadi alasan utama pihak-pihak menolak tradisi ini.

      Bagaimana menurut anda sendiri?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: