Feyerabend dan Anarkhisme Metodologi

“Cinta adalah segala-galanya dalam kehidupan”
– Feyerabend, Killing Time, 1995

Bersama-sama dengan Imre Lakatos, Karl Popper, dan Thomas Kuhn, Paul Feyerabend (1924-1994) dikenang salah satu sebagai tokoh utama perlawanan terhadap kemapanan positivis sebagai hegemon dalam perkembangan ilmu-ilmu pengetahuan. Seperti kolega-koleganya, Feyerabend juga berasal dari latar belakang ilmu eksak (fisika) yang justru lebih berdampak besar terhadap perkembangan filsafat keilmuan dalam area kajian humaniora daripada ke wilayah ilmu-ilmu alam.

Arah pemikiran yang liar mungkin menjadi salah satu ciri utama yang tidak bisa dilepaskan dari sosok pemuda kelahiran Wina, tahun 1924 ini. Karya momumentalnya, Against Method (1975), manjadi titik tolak pemikirannya untuk mendobrak semua tatanan metodologis keilmuan yang seolah sudah terikat erat setiap sekatnya. Dari buku inilah kemudian muncul frasa antikredo “anything goes” yang kemudian identik dengan pemikirannya.

Anything goes sebenarnya merupakan salah satu dari beberapa inti pemikiran anarkhisme metodologi Feyerabend. Selain anything goes, prinsip kontra induksi (counter inductive) wajib dipertimbangkan sebagai sarana metodologi yang baru. Kontra induksi dimaksudkan untuk mengatasi masalah kesenjangan teori dan fakta akibat penerapan sistem induksi dengan instrumen verifikasi maupun falsifikasinya. Fakta-fakta yang terpinggirkan karena tidak memenuhi syarat-syarat dalam sistem induksi inilah yang oleh Feyerabend berusaha diakomodasi dan digunakan sebagai standard kritik dalam konsep kontra induksinya, tetap dengan tidak berusaha mengganti sistem induksi tersebut.

Prinsip kontra induksi ini yang kemudian bertautan dengan pandangan Feyerabend terhadap ketergantungan observasi pada teori (masih tetap dalam tema menyerang sistem induksi!). Observasi memang masih merupakan instrumen utama dalam memperoleh ilmu pengetahuan, tapi Feyerabend menolak klaim bahwa terdapat observasi murni (bare observation) yang menegasikan subyektivisme manusia. Pengamatan apapun oleh manusia akan sangat dipengaruhi oleh teori maupun konsep (theory-laden). Di sisi yang lain, pemikiran ini berlanjut pada aspek keterkaitan bahasa dengan teori. Postulat positivisme laogis dengan picture-theory-nya ditentang keras karena potensi distorsi yang terjadi membuat bahasa tidak lagi sebagai alat untuk menggambarkan realitas, tapi juga membentuk kejadian.

Prinsip lain yang diajukan merupakan prinsip ketidaksepadanan dalam melihat, dengan meminjam konsepsi Thomas Kuhn, perubahan paradigma yang terjadi. Contoh-contoh dari perubahan revolusioner dalam perkembangan ilmu fisika menjadi pertimbangan utamanya. Ketidakcocokan dan inkonsistensi antara teori satu dengan teori yang lain dalam beberapa kajian keilmuan sudah dianggap lumrah, dan tentu membuka jalan untuk semakin menyebarkan pandangan-pandangan pluralis mengenai keilmuan.

“Anything goes” dalam “Against Method” disebutnya sebagai satu-satunya prinsip yang harus dipertahankan dalam setiap tahap perkembangan manusia. Sebegitu pentingkah “apapun boleh” ini bagi feyerabend? Apakah tidak ada suatu standar dalam perkembangan keilmuan seperti yang digembar-gemborkan oleh positivisme selama ini?

Feyerabend sebenarnya tidak ingin terlalu menyebarkan pandangan “aneh”nya ini. Tetapi, pengaruh dari pemikiran-pemikiran Kuhn, kemudian gurunya, Sir Karl Popper, serta sahabatnya, Imre Lakatos, serta mulai menggeliatnya mazhab fisika kuantum dalam menggoncangkan pondasi klasik newtonian, menyebabkan Feyerabend tak kuasa lagi untuk bergabung dengan pendekar-pendekar keilmuan ini untuk terjun langsung ke gelanggang filsafat keilmuan. Mengenai Lakatos, Feyerabend bahkan mempunyai kesan unik, dalam suatu acara Lakatos mendorong kemudian mengancam Feyerabend untuk segera menulis ide-ide anehnya tersebut.

Sikap keras dan cara berpikir emosional yang seakan-akan menjadi karakter Feyerabend di satu sisi membuatnya mendapat apresiasi karena konsistensi pemikirannya, tapi di sisi lain lain juga menimbulkan reduksi dengan munculnya anti-simpati terhadap pernyataan-pernyataannya. Lihat pesimisme Feyerabend terhadap filsafat yang dianggap tidak bisa menyediakan metodologi atau rasio dalam ilmu pengetahuan. Semua teori ilmiah yang diciptakan para ilmuwan selama ini hanya dilandasi irasionalitas dan subyektifitas. Atau bagaimana dalam suatu kesempatan, dia pernah menyamakan ilmu pengetahuan dengan dengan ilmu sihir atau astrologi. Dan ingin tahu bagaimana definisi Feyerabend mengenai para intelektual? Intelektual berarti orang yang lebih berpikir banyak hal dibanding orang lain.:p

Titik awal pemikiran mengenai metodologi keilmuan Feyerabend justru merupakan reaksi ketidaksetujuan terhadap pemikiran Popper yang notabene merupakan gurunya di London School of Economics. Feyerabend bahkan secara tegas menyangkal metode falsifikasi Popper. Falsifikasi Popperian sendiri mengasumsikan bahwa setiap teori keilmuan harus selalu difalsifikasi untuk mencapai sebuah teori yang lebih sempurna. Di sini Feyerabend memunculkan arus pluralis, bukannya memfalsifikasi, tapi terus memacu perkembangan teori-teori keilmuan baru dan terus mempertahankannya.

Sikap sentimen terhadap uniformitas ini mungkin bisa kita dapatkan gambarannya dari lagi-lagi buku “Against Method”. “Kebulatan suara dan pendapat mungkin cocok bila diterapkan di gereja, untuk para penakut, untuk para korban dari beberapa mitos kuno maupun modern, atau untuk mereka yang lemah, dan pengikut dari suatu tirani. Aneka ragam pendapat sangat diperlukan dalam mencapai pengetahuan yang obyektif.”, tulisnya.

Sudah jelas solusi apa yang diungkapkan oleh Feyerabend dalam mencapai perkembangan keilmuan, iya, lagi-lagi anything goes. Daripada menganut suatu bentuk metodologi tunggal dalam mengembangkan keilmuan (positivis?), munculnya metode maupun metodologi keilmuan yang berbeda untuk ikut berkontestasi dalam mengembangkan suatu disiplin keilmuan dirasa lebih berguna. Konsekuensinya, apapun hipotesis maupun teori yang digunakan, baik itu rasional maupun yang paling tidak masuk akal, harus diakui secara sebagai sebuah bagian dari metodologi keilmuan.

Kemudian tolak ukur keberhasilan dari teori-teori yang baru tersebut tidak harus selalu mengekor teori lama, ataupun harus mengacu kepada suatu bentuk yang dianggap mendekati sempurna. Kemunculan teori-teori baru itupun sudah dianggap sebagai kemajuan karena memang sangat sulit untuk memunculkan paradigma-paradigma lain dengan berbagai faktor akademis maupun budaya dan politik yang ikut mengekang jalannya suatu keilmuan. “Ada pemisahan antara negara dan gereja, tapi tidak ada pemisaha antara negara dan ilmu pengetahuan.”, demikian protes Feyerabend terhadap banyaknya “tangan-tangan gaib” yang ikut mendikte perkembangan suatu keilmuan tertentu.

Anarkhisme metodologis yang ditawarkan Feyerabend di sini bukan merupakan sebuah bentuk penggulingan status quo keilmuan. Konsentrasi justru lebih diarahkan pada munculnya paradigma-paradigma lain dengan tidak menegasi keilmuan yang terlebih dulu mendominasi. Kebebasan bagi status quo maupun metode-metode alternatif untuk terus mengembangkan keilmuan tanpa limitasi maupun hambatan dalam aspek epistemologis inilah yang merupakan karakter khusus dari anarkhisme metodologis a la Feyerabend.

Bukan rahasia lagi, seorang tokoh kontroversial akan lebih dikenal karena kontroversinya, akibatnya, prestasi maupun pencapaian positif akan tereduksi. Paul Feyerabend bukanlah seorang manusia yang anarkhis tindakan maupun gelagatnya. Masa muda Feyerabend memang jauh dari kondisi ideal walaupun dianggap sebagai suatu kelaziman saat itu. Geliat perang dunia II memaksanya memasuki sekolah militer saat usianya masih 18 tahun, bergelut dalam perang dan meninggalkan cacat di tubuhnya. Baru setelah perang mereda, Feyerabend mulai kembali masuk ke dunia akademis di Universitas Wina.

Pencapaian Feyerabend secara keilmuan memang banyak mengundang hujatan sekaligus tentangan karena keliaran pemikirannya. Sangat sulit untuk memahami bagaimana arah pemikiran anarkhis keilmuan ini. Mungkin satu-satunya manusia yang bisa memahami Feyerabend secara integral adalah istrinya sendiri. Grazia Borrini, yang pernah mengajar Feyerabend di Berkeley.

Sumbangsih terbesar Feyerabend dalam filsafat keilmuan bukan karena dia mengacaukan tatanan metodologis yang ada. Peran Feyerabend dalam terus memunculkan semangat mengakselerasi munculnya keragaman metode keilmuan untuk menghindarkan absolutisme dan potensi kejatuhan ilmu pengetahuan menjadi alat bagi tirani yang berkuasa. Feyerabend juga tidak membenci keberadaan ilmu pengetahuan (anti-scence). Potensi ilmu pengetahuan dalam perkembangan peradaban manusia yang kemudian rusak karena terjatuhnya para ilmuwan dalam keseragaman dan tirani itulah yang berusaha dinegasikan oleh Feyerabend.

Melihat realitas, memang sangat sulit sekali gagasan ideal Feyerabend ini tercipta karena kukuhnya dominasi suatu keilmuan tertentu yang kemudian dianggap sebagai suatu dogma yang tidak boleh diubah. Dalam kajian-kajian eksak, mazhab fisika kuantum mungkin telah sedikit banyak mengguncang pondasi-pondasi kuantifikasi dan status fisika sebagai “hard science”. Akan tetapi justru dalam kajian-kajian ilmu humaniora, metodologi positivis yang erat dengan metode kuantifikasi seakan tidak mempunyai rival pendamping yang sepadan. Apalagi, status quo yang didapat positivisme ini tak jarang juga mendapat legitimasi dari tirani yang berkuasa untuk terus melanggengkan kekuasaannya. Karena itulah, kondisi ideal dimana metode keilmuan yang dominan bisa bersanding dengan berbagai macam metode-metode alternatif akan sangat sulit terealisasi.

3 Responses

  1. Aku melihat bahwa yang dilawan Feyerabend bukanlah sains melainkan fundamentalisme sains, karena dengan menghancurkan metafisika sesungguhnya kita mengekalkan dogma baru.
    Dan yang dibela Feyerabend bukanlah anarkisme melainkan manusia, karena ia menempatkan manusia di atas metodologi, karena pengalaman kita lebih kaya dari metodologi.
    Tulisan lengkapnya bisa dibaca di
    http://onisur.wordpress.com/2009/05/31/membela-pendekatan-anarkistik-feyerabend/

  2. Tulisan yang menarik, kebetulan saya juga sedang mendalami pemikiran-pemikiran Feyerabend, terutama pengaruhnya dalam filsafat ilmu dan debat metode dalam ilmu-ilmu sosial.

    • trims, semoga bisa saling melengkapi, karena dalam tulisan ini saya hanya menyoroti sisi “human interest” dari Feyerabend…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: