Konsep Collective Action & Human Security

Konsep collective action secara akademis diperkenalkan pertama kali oleh Mancur Olson, seorang pengamat hubungan internasional dalam bukunya berjudul “The Logic of Collective Action” yang terbit tahun 1965. Analisis yang diajukan oleh Olson dalam bukunya yang kemudian diterbitkan kembali tahun 1971 ini membuka pemahaman kita akan berbagai kelebihan maupun kekurangan bentuk collective action. Olson menyadarkan kita bahwa memang ada saatnya kepentingan-kepentingan dari beberapa aktor bisa dirumuskan secara rasional untuk mencapai suatu common interest, dan memnag benar kekuatan dari kelompok semacam ini sangat signifikan. Tapi di sisi lain, keadaan ideal ini hanya tercipta dalam suatu situasi dan kondisi tertentu saja dan sangat tergantung pada faktor tertentu (jumlah aktor, insentif, dan unsur paksaan).

Suatu collective action timbul ketika adanya suatu usaha dari dua atau lebih suatu individu diperlukan untuk memperjuangkan suatu hasil yang diinginkan. Dalam pengertian global, konsep ini meluas menjadi sebuah global collective action. Apa yang mendasari terjadinya collective action ini? Seperti disebutkan di atas adanya suatu kebutuhan untuk merealisasikan kebutuhan bersama menjadi salah satu premis dasar di sini. Kebutuhan bersama ini yang sering disebut sebagai human security.

Human security sendiri dapat kita artikan sebagai timbulnya suatu paradigma baru dalam memahami bahwa bahaya bahaya global yang mungkin timbul sekarang bukan hanya dominasi negara dalam mengatasinya, tapi juga menjadi kewajiban seluruh umat manusia (people-centered view), masalah yang mungkin timbul juga bukan hanya didominasi dalam artian high politics, tapi juga masalah-masalah seperi kesehatan, kesejahteraan, kemiskinan, lingkungan, yang justru mendapat perhatian utama. Human security di sini sebagai sebuah konsep yang dipandang baru dan tidak berusaha untuk menggantikan konsep-konsep lama seperti human rights ataupun human developments, tapi berusaha memberikan pemahaman baru dan menambahkan artian dalam human rights.

Kembali pada masalah collective action di atas, yang menjadi penyebab awal secara historis adalah kegagalan pasar (market failures), dalam konsepsi “The Invisible Hand” Adam Smith yang mendasari semua kegiatan ekonomi liberal. The Invisible Hand, menekankan kebebasan individu untuk menghasilkan suatu efisiensi dan efektivitas serta pengurangan peran negara sekecil-kecilnya atau dengan kata lain menyerahkan semuanya kepada mekanisme pasar. Pasar dalam konsepsi invisible hands ini harus komplet, dalam artian bahwa barang-barang harus diperdagangkan secara kompetitif, artinya ada sejumlah produsen dan konsumen yang ada tanpa adanya salah satu pihak yang mampu mengontrol atau menentukan harga secara sepihak dan adanya kebebasan dalam memperoleh informasi pasar bagi semua pihak yang terlibat. Ada dua faktor yang mengakibatkan kegagalan pasar yaitu, uncompensated interdependencies dan informasi yang asimetris.

Dua faktor di atas menjadi sebab utama kegagalan pasar terutama dalam menyediakan kebutuhan pokok manusia (public goods). Hal ini juga terjadi dalam skala yang lebih besar, yaitu perdagangan antar negara. Collective action sering dihubungkan dengan ketetapan dari suatu public goods murni, yang non rival dan non excludeable. Atau dengan kata lain, untuk mendapatkan barang ini kita tidak perlu bersusah payah atau harus bersaing. Dalam konteks global kita juga mengenal istilah Global Public Goods (GPGs) yang meliputi banyak aspek dalam kehidupan global, terutama mengenai masalah-masalah yang melintasi batas-batas negara dan meliputi seluruh spectrum dari agenda sustainable development (pembangunan berkecukupan), mulai dari masalah lingkungan global, stabilitas keuangan internasional, efisiensi pasar, sampai pada masalah masalah kesehatan pengetahuan, dan hak hak asasi manusia.

Tapi public goods ini juga mempresentasikan masalah yang dihadapi oleh suatu collective action. Masalah utama terlihat pada premis utama yang mendasari penulisan artikel itu, yaitu rasionalitas individu tidak akan mencukupi bagi rasionalitas kolektif. Walaupun dalam teori-teori psikologis disebutkan bahwa jika rasionalitas individu dibawa dan digabungkan dalam suatu kelompok dengan lainnya maka rasionalitas individu akan ditekan serendah mungkin, dan yang muncul adalah
rasionalitas kelompok, tapi kita juga harus memperhitungkan juga bahwa aktor ini juga mempunyai rasionalitas sendiri yang mendasar kepentingan mereka dalam suatu collective action. Bahkan mungkin kepentingan yang dibawa itu sudah tertanam kuat dan tidak bisa ditawar lagi (vested interest).

Contohnya adalah fenomena free rider atau penumpang gratis yaitu dilema mereka yang berbuat licik, menumpang gratis pada pada barang barang kolektif tanpa,membayar ongkos yang sepadan. Walaupun dipandang kurang baik, tapi justru
tindakan ini adalah strategi yang paling rasional yang dilakukan oleh aktor aktor dalam situasi dimana mereka hanya punya sedikit pilihan. Ada juga sebagian pihak yang melihat fenomena ini dengan memakai prisoner dilemma.

Dalam konteks interaksi internasional, ada dua hal yang dilakukan suatu aktor global dalam menanggapi suatu fenomena internasional, bertindak atau diam saja. Tergantung dari lingkugan dan kepentingan. Beberapa pertimbangan yang mendasari
terjadinya suatu collective action: ukuran dari grup itu, komposisi, aturan yang mengatur interaksi, strategi, informasi yang mendasari partisipan, dan urutan interaksinya. Interaksi dalam kelompok itu dan hubungannya dengan prisoner dilemma yang mementingkan self-interest. Contoh: keterlibatan beberapa negara dalam memerangi terorisme dengan mendukung AS dalam perang di Afghanistan, reaksi global dalam mencegah penipisan lapisan ozon.

Kalau dilihat secara timeline, saya sulit mendapat data yang akurat mengenai kapan suatu collective action pertama terjadi, tapi dari beberapa sumber menyebutkan bahwa Zapatista Movement, pada January 1994, menjadi tonggak sejarah timbulnya suatu collective action berbasis masyarakat global, dan yang paling intens adalah gerakan melawan globalisasi ,yang ditandai dengan “Battle of Seattle” 1997, terjadi di hampir seluruh penjuru dunia akhir-akhir ini. Contoh diatas memperlihatkan bagaimana aktor-aktor global saling bekerjasama dalam mencapai suatu tujuan tertentu.Tapi ada juga suatu tindakan dari
aktor hubungan internasional yang tidak bertindak apa-apa, atau global inaction.

Global inaction disebabkan beberapa faktor, antara lain, biaya yang harus ditanggung negara itu apabila mereka bertindak yang tentunya akan banyak merugikan daripada menguntungkan mereka, apalagi bila biaya yang harus dikeluarkan sangat besar, tidak adanya negara besar dalam suatu kawasan tertentu yang mampu menjadi leader atau penggerak suatu global action. Juga ketika suatu solusi yang efektif memerlukan peran dari banyak negara, serta suatu ketakutan bahwa global action itu nantinya akan memakan sebagian dari otonomi dan kedaulatan sebuah negara bila mereka terlibat didalamnya.

Dalam menciptakan suatu global action ini, ada beberapa faktor yang menjadi katalisatornya. Diantaranya adalah kemajuan teknologi informasi dan transportasi serta yang paling penting adalah globalisasi. Globalisasi di sini banyak mendapat
definisi yang buruk karena dianggap menjadi penyebab ketidakadilan global. Salah satu definisi yang saya ambil adalah globalisasi merupakan berkembangnya pengaruh dari pasar kapitalisme global atau berkembangnya pencapaian dari kepentingan kepentingan perusahaan dan finansial dalam tingkatan global.

Ada beberapa dampak negatif globalisasi ini yang sering dianalisis, diantaranya adalah :
1. Kinerja pasar yang akan “memakan” siapa saja yang kalah bermain dalam pasar global, terutama mereka yang kurang memiliki kemampuan dasar dan modal yang cukup.
2. Resiko kegagalan pasar yang cukup besar bagi mereka yang berada dalam posisi lemah dan kurang mempunyai bargaining position yang kuat.
3. Kekuatan – kekuatan ekonomi global yang mampu mempengaruhi decision making dalam suatu negara untuk menguntungkan mereka.

Itu semua adalah akibat yang bisa kita rasakan sekarang dari globalisasi. Bagaimanakah kita harus menanggapinya ? Jelas dalam suasana “Global Village” sekarang kita tidak mampu mengindari globalisasi. Yang harus dilakukan sekarang adalah bagaimana dengan suatu collective action akan mampu melindungi human security secara bersama-sama. Dan mau tidak mau kita harus melakukan suatu global action dalam suatu fenomena tertentu dan itu artinya mereka akan merelakan sebagian dari otonomi kita. Adanya suatu keadilan dalam negosiasi collective action juga harus mendapat perhatian utama, jangan sampai nanti terjadi dominasi dari beberapa negara tertentu yang menyebabkan kerugian pada pihak lain.

Referensi:
1. Wikipedia, The Free Encyclopedia, “http://en.wikipedia.org/wiki/Human_security”, access on March 12, 2006
2.  Robert A. Isaak, International Political Economic, diterjemahkan sebagai Ekonomi Politik Internasional, PT Tiara Wacana Yogya, Yogyakarta
3. Rosalie Gardiner (UNED Forum) and Katell Le Goulven (UNDP), Sustaining Our Global Public Goods, A Briefing Paper World Summit 2002, Johannesburg.
4. Nancy Birdsall, Center for Global Development, Working Paper No. 12, October 2002
5. Mancur Olson, The Rise and Decline of Nations: Economic Growth, Stagflation, and Social Regidities, diterjemahkan sebagai Kebangkitan dan Kemerosotan Perkembangan Bangsa-Bangsa: Dari Pertumbuhan Ekonomi ke Stagflasi-Inflasi dan Kemandegan Sosial, CV Rajawali, Jakarta: 1986.

2 Responses

  1. […] Konsep Collective Action & Human Security Posted on August 21, 2008 by savindievoice […]

  2. perhaps it’s increasingly better and more comprehensive if using theory of “securitization” by Barry Buzan that used theory of “discourse” by Habermas. Those theory could explain and re-understanding meaning of rationality inter-subjectively, and there are possibilities for rationality reconstruction through communicative action. And it could comprehend why human issues should be securitized since ‘human security’ is not a given meaning…
    it’s a such good writing…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: