Orissa: Kekerasan Bermotif Agama yang Semakin Memanas

Wilayah Orissa mungkin tidak seterkenal Mumbay, New Delhi, atau tempat lain di India. Tapi Orissa merupakan tempat dimana berbagai kekerasan bermotif agama terjadi beberapa tahun terakhir ini.

Seperti yang kita ketahui, secara nasional, 1,1 milyar penduduk India didominasi oleh pemeluk Hindu yang mencapai 80,5%, kemudian umat muslim yang mencapai 13,4%, dan Kristen sekitar 2,3% (data terakhir dari CIA World Factbook 2008 berdasar sensus 2001). Di Orissa sendiri, kontur demografisnya relatif sama. Dengan sekitar 36,7 juta penduduk, 94,3% merupakan pemeluk Hindu, kemudian Kristen sekitar 2,4%, dan Islam berjumlah 2%.

Kekerasan antara pemeluk Hindu dan Kristen merupakan sejarah tersendiri bagi penduduk negara bagian terbesar ke-sembilan di India ini. Pada 22 Januari 1999, misionaris Australia yang bekerja dengan Evangelical Missionary Society of Mayurbhanj, Graham Staines dibakar bersama kedua anaknya di dalam mobilnya oleh gerombolan pemeluk fanatik Hindu. Kerusuhan massa terjadi lagi pada Desember 2007 yang mengakibatkan lima gereja Katolik rusak berat. Belasan rumah pemeluk Hindu dan Kristen juga ikut menjadi korban di Distrik Kandhamal.

Situasi semakin keruh ketika salah satu pemimpin umat Hindu setempat, Swami Lakshmanananda, dibunuh pada 23 Agustus 2008, dan diduga kuat pemberontak Maoist menjadi pelakunya. Secara terang-terangan pula, salah satu pemimpin pemberontak Maois mengumukan bahwa merekalah yang membunuh Swami Laksmananda. Parahnya lagi, pemberontak Maoist ini diduga berafiliasi dengan aliansi Kristen. Tak ayal, pembunuhan ini menjadikan isu kekerasan di Orissa terangkat ke tataran nasional karena banyaknya reaksi keras dari masyarakat seluruh India. Insiden-insiden lain turut mewarnai kekerasan sepanjang 2007 dan 2008 ini. Dewan Gereja di Seluruh India (the All India Christian Councill) pada awal tahun menyebut tragedi ini sebagai “insiden terburuk dalam sejarah India”, seraya membeberkan data bahwa 95 gereja telah dirusak dan 730 rumah milik pemeluk Kristen telah dirusak.

Tak urung, hal ini menjadi salah satu isu nasional yang juga mengundang perhatian beberapa pihak internasional. Perdana Menteri India, Manmohan Singh mengutuk keras terjadinya perusakan tempat ibadah serta serangan terhadap umat Kristen di Orissa. Dari dunia internasional, Human Rights Watch, menaruh perhatian pada merebaknya isu-isu dan gerakan anti Kristen yang dilakukan beberapa tahun terakhir ini dengan dimotori oleh kelompok-kelompok sayap kanan Hindu yang terkenal fanatik. Paus Benediktus XVI pada 27 Agustus 2008 juga secara keras mengutuk berbagai insiden kekerasan ini seraya mengajak berbagai kelompok keagamaan dan otoritas yang berwenang di India untuk mengembalikan situasi harmonis antar umat beragama di Orissa khususnya.

Meskipun kurang mendapat publikasi luas secara internasional, tragedi kekerasan Orissa ini merupakan tendensi awal bahwa kekerasan bermotif agama masih dan sangat bisa terjadi dalam bentuk yang konvensional, kapanpun, dan dalam situasi apapun. Eskalasi konflik yang berujung pada ruang lingkup ruang dan waktu, setidaknya menjadi isu nasional di India juga menjadi catatan tersendiri kenapa konflik ini berlarut-larut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: