Ancaman Kematian Massal bagi Umat Manusia: Refleksi Penanganan AIDS & Flu Burung di Indonesia

Penyakit merupakan suatu keniscayaan dalam siklus kehidupan manusia. Penyakit bisa menyebabkan kematian, tapi tidak semua kematian disebabkan oleh penyakit. Varian dari suatu penyakit banyak sekali, mulai dari penyakit ringan sampai penyakit mematikan. Fokus pembahasan kita di sini adalah mengenai penyakit menular yang mematikan dalam skala global. Klasifikasi secara umum menempatkan tiga macam penyakit menular ini. Yang pertama adalah jenis epidemik. Jenis ini hanya menjangkiti suatu wilayah (region) tertentu. Yang kedua adalah endemik dimana mulai terjadi penularan dari suatu region ke region lainnya. Suatu penyakit endemik terjadi pada laju yang konstan, namun cukup tinggi pada suatu populasi. Dan terakhir adalah jenis pandemik yang skalanya sudah mengglobal.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan suatu kondisi bilamana terjadi suatu pandemik penyakit apabila : pertama, timbulnya penyakit bersangkutan merupakan suatu hal baru pada populasi bersangkutan, kedua, agen penyebab penyakit menginfeksi manusia dan menyebabkan sakit serius, dan yang terakhir agen penyebab penyakit menyebar dengan mudah dan berkelanjutan pada manusia.

Pandemik Flu Burung (Avian Influenza) merupakan salah satu pandemik yang bisa menyebabkan kematian massal secara global. Contoh lainnya yang secara lambat namun pasti menjadi pandemik global adalah AIDS. AIDS merupakan sebuah epidemik global, dan dari data terbaru tahun 2005 menyebutkan sekitar 38,6 juta orang di dunia ini terjangkit virus HIV. Dari jumlah itu, sekitar 4,1 juta orang menjadi pengidap baru HIV dan sekitar 2,8 juta orang meningal karenanya. Dan suka tidak suka perkembangan virus ini terus menjangkiti dan menyebar secara lambat namun pasti, terutama di negara-negara berkembang dan tertinggal yang nota bene kesadaran kesehatannya masih kurang. Indonesia sendiri menurut data UNAIDS 2006 merupakan salah satu negara yang tingkat penyebaran virus HIV nya terus meningkat bersama dengan China, Vietnam dan Papua Nugini. Parahnya lagi, kebanyakan wabah pandemik seperti Flu Burung dan AIDS ini belum ada vaksinnya sampai sekarang.
Sebelum lebih jauh membahas mengenai ancaman wabah penyakit global ini ada baiknya kita membahas sedikit dari perspektif teologis. Fenomena kontemporer (terutama dalam konteks Indonesia) menjadikan kesembuhan dari penyakit sebagai salah satu perhatian utama. Maka muncullah konsep kesembuhan ilahi (divine healing/faith healing) yang banyak muncul, terutama di kalangan Kristen Kharismatik / Pentakosta. Penyembuhan ilahi merupakan suatu proses dimana seseorang dipulihkan kesehatan fisik, mental, ataupun spiritualnya dengan apa yang dipercayai sebagai intervensi langsung dari kuasa ilahi. Nature dari suatu penyakit inilah yang kemudian menjadi perdebatan diantara kaum teologis Kristen sampai sekarang. Apakah suatu penyakit tersebut itu memang berasal dari setan atau roh-roh jahat sehingga harus disembuhkan, atau penyakit tersebut merupakan suatu keadaan atau kondisi alamiah dari manusia terlepas dari kondisi “rohani” seseorang, dan ataukah keberadaan penyakit tersebut merupakan suatu “pertanda” dari Tuhan untuk mengingatkan manusia menuju kehidupan yang lebih baik. Spekulasi-spekulasi secara teologis yang banyak mengemuka mengenai penyakit ini terus mengemuka seiring perkembangan penyakit yang juga terus mengancam eksistensi umat manusia.

Keberadaan suatu pandemik menorehkan sejarah kelabu bagi umat manusia. Kita tentu masih ingat peristiwa “Black Death” yang pada mulanya menjangkiti Asia tapi dampak terbesarnya justru di benua Eropa yang menelan puluhan juta umat manusia. Setelah wabah pes ini, terjadi pula pandemik influenza besar yang terjadi selepas Perang Dunia I. Peristiwa ini menjadi salah satu titik balik bagaimana pentingnya sebuah upaya global bersama (global collective action) dari semua negara untuk mengatasi suatu pandemik global. Atau dengan kata lain, untuk mengatasi suatu wabah penyakit global tidak mungkin suatu negara bertindak sendirian. Kerjasama dengan negara lain mutlak diperlukan.

Dalam konteks Indonesia ancaman pandemik mematikan seperti flu burung dan AIDS patut mendapat perhatian lebih dari semua pihak.. Bahkan dirasa perlu secara tegas menekankan bahwa ancaman pandemik global seperti flu burung ini lebih urgent penanganannya daripada bencana penyakit lokal. Tingkat urgensinya bukan hanya diukur dari jumlah korban dan kerugian yang ditimbulkan, tapi juga potensi penyebaran wabah penyakit ini dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Seperti flu burung, penyebarannya sudah bukan dalam hitungan tahun, ataupun bulan, tapi sudah dalam hitungan hari bahkan setiap detik penyakit ini terus berkembang.

Sejak pertama kali virus flu burung ini dideteksi di Hong Kong tahum 1997, dalam tempo cepat, mulai tahun 2004, virus ini menyebar ke ternak-ternak unggas di Vietnam, Kamboja, China, Jepang, Laos, Korea Selatan, Taiwan, dan Taiwan. Tercatat puluhan juta ayam sakit dan harus dibantai secara massal. Di Indonesia sendiri sejak pertengahan 2003 sampai Januari 2004 tercatat 16 juta ternak unggas yang telah terinfeksi flu burung. Tinggal menunggu waktu saja virus ini menelan korban manusia. Tapi pemerintah terkesan menutup-nutupi data ini, baru pada Februari 2004, pemerintah mengumumkan wabah flu burung sebagai situasi darurat. Akibat kekurangtanggapan ini korban jiwa mulai berjatuhan dan menjadikan Indonesia negara dimana virus ini paling besar memakan korban manusia.

Di sisi yang lain, penyakit AIDS yang disebabkan virus HIV masih menjadi momok seluruh umat manusia. Penyakit yang menurunkan kekebalan tubuh manusia ini lambat namun pasti menyebabkan meninggalnya jutaan umat manusia setiap tahun. Belum ditemukan vaksin yang benar-benar efektif dan penularannya yang melalui hubungan seksual dan bersama narkoba menjadi penyebab utamanya. Tahun 2005 tercatat ada sekitar 145.000 sampai 170.000 pengguna narkoba, terutama narkoba suntik, di Indonesia yang potensial menyebarkan virus HIV ke pengguna yang lain.Goodwill dari pemerintah untuk tidak mengulangi kesalahan dan terutama kelambatan penanganan suatu bencana tentu menjadi faktor utama penanganan ancaman wabah penyakit global ini. Dengan tidak melupakan kerjasama dengan negara-negara lain yang sudah menjadi suatu keharusan, penanganan di tingkat nasional harus lebih ditingkatkan. Kalau perlu dibentuk tim nasional (timnas) penanganan flu burung atau AIDS. Mengingat untuk bencana di tingkat lokal seperti Lumpur lapindo saja kita mempunyai tim nasional, kenapa untuk bencana yang skalanya global kita tidak mempunyai suatu tim penanganan khusus. Keywordnya adalah suatu manajemen krisis yang cepat dan tepat dalam menghasilkan suatu kebijakan untuk merespon ancaman ini secara strategis.

Benturan-benturan kepentingan seperti kejadian penyalahgunaan sampel virus H5N1 dari Indonesia yang ternyata disalahgunakan demi kepentingan komersial kemudian membuat pemerintah “kapok” bekerjasama lagi dengan pihak luar juga tidak perlu terjadi lagi. Apalagi kasus seperti ini sudah dikategorikan sebagai “Kejadian Luar Biasa” yang memerlukan penanganan lebih intensif. Status Indonesia sebagai negara dengan korban jiwa akibat flu burung terbesar dan ditemukannya beberapa kluster flu burung pada sekelompok manusia di beberapa daerah memperlihatkan potensi mematikan penyakit ini. Kedaulatan bangsa merupakan aspek penting yang tidak boleh kita tinggalkan, tapi urgensitas penanganan pandemik global membuat prioritas penanganan bersama dengan dunia internasional harus diutamakan.
Sektor pendidikan juga menjadi kunci utama usaha preventif dari ancaman penyakit global ini. Pendidikan kesehatan, termasuk juga pendidikan seks, yang diberikan sejak sekolah dasar diharapkan mampu mengeliminir budaya hidup kurang sehat masyarakat kita. Berkaca dari penelitian di Uganda yang menyebutkan bahwa seorang anak yang putus sekolah (drop-out) resikonya terkena HIV tiga kali lebih besar pada masa remajanya daripada mereka yang menyelesaikan pendidikan dasarnya. Belum lagi akses kepada pelayanan kesehatan yang baik yang merupakan amanah dari konstitusi negara kita.

*Forum Diskusi Jum’atan Pustakalewi, 13 April 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: