Hak dan Tanggung Jawab Politik Warga Gereja: Sebuah Risalah dalam Menyambut Pelaksanaan Pemilihan Gubernur Jawa Timur 2008*

Bangsa Indonesia dan masyarakat Jawa Timur pada khususnya bersiap untuk menyambut dua gawe politik besar, yaitu pemilihan gubernur dan wakil gubernur Jawa Timur pada 23 Juli 2008 dan pemilihan umum tahun 2009.

Suasana pemilihan gubernur Jawa Timur masa bakti 2009-2013 sampai saat ini memasuki masa kampanye sekaligus masa-masa paling menentukan. Dari masa kampanye ini setidaknya kita bisa melihat kapasitas dan kapabilitas calon pemimpin Jawa Timur lima tahun kedepan. Apakah para kandidat ini dinilai mampu memimpin propinsi berpenduduk lebih dari 37 juta jiwa ini mulai bisa diuji dalam masa kampanye ini.

Sesuai keputusan KPUD Jawa Timur, muncul lima pasangan kandidat gubernur dan wakil gubernur Jawa Timur. Mereka adalah pasangan Dra. Khofifah Indar Parawansa – Brigjen Inf.(purn.) TNI Mudjiono, kemudian pasangan Ir. Sutjipto – Ir. HM Ridwan Hisjam, pasangan Dr. H Soenarjo Msi – KH DR Drs. Ali Maschan Moesa Msi, pasangan Dr. H. Achmady, Msi MM – Brigjen (Purn.) TNI H. Suhartono, dan terakhir pasangan DR H. Soekarwo SH. M.Hum – Saifullah Yusuf SH.

Yang menarik untuk kita cermati dari kelima kandidat pasangan ini tentu saja bukan hanya glamorisasi atau penampilan mereka secara fisik, tapi juga visi dan misi yang diusung beserta seperangkat program-program yang akan diusungnya. Beberapa isu vital yang menjadi permasalahan mendasar di Jawa Timur seperti isu kemiskinan, pemberdayaan ekonomi kerakyatan, pendidikan, dan ketahanan pangan menjadi sasaran utama kebijakan mereka. Bahkan beberapa isu berskala nasional seperti kebijakan di tingkat ekonomi makro dan kebijakan anggaran yang sebenarnya bukan menjadi kapasitas seorang kepala daerah tingkat I juga ikut-ikut disinggung.

Sementara itu, geliat politik di tingkat nasional juga semakin meningkat tensinya setelah KPU mengumumkan 34 partai politik yang lolos verifikasi untuk menjadi peserta pemilu 2009. Meskipun tidak sebanyak pemilu 1999 (48 partai politik), banyaknya kontestan peserta pemilu 2009 ini memunculkan banyak suara keprihatinan dari berbagai pihak. Tidak konsistenya acuan secara legal formal serta semakin banyaknya faksi-faksi internal dalam tubuh partai politik bisa dituding menjadi sebab utama semakin terfragmentasinya partai politik tanpa diiringi polarisasi ideologi yang jelas.

Dua agenda besar yang menentukan kehidupan berbangsa dan bernegara tersebut, mau tidak mau sedikit mengusik eksistensi kita sebagai warga negara. Dalam diskusi mingguan Pustaka Lewi kali ini, topik pembicaraan akan lebih menukik kepada hak dan tanggung jawab politik warga gereja.

Hak dan tanggung jawab politik dalam konteks kekristenan di Indonesia secara general tentu bukan termasuk tema yang “marketable” dalam lingkungan gereja dan warga gereja. bahkan isu-isu politik seakan menjadi hal yang tabu dibicarakan. Maka terciptalah dikotomi wilayah rohani dan duniawi/sekuler.

Dari ketiga narasumber yang diundang Pustaka Lewi kali ini untuk menyampaikan perspektifnya terhadap isu-isu politik kontemporer negeri dan sekaligus hubungannya dengan umat Kristen di Jawa Timur khususnya, muncul suara-suara keprihatinan kurangnya perhatian terhadap isu-isu politik dari umat Kristen.

Bapak Elia, yang aktif sebagai budayawan dan pegiat sosial, terutama di Kediri dan Yogyakarta, terlebih dahulu secara umum menyoroti terjadinya krisis kebudayaan yang mengakibatkan krisis kepribadian kita sebagai indovidu maupun sebagai warga negara. Arus kapitalisme dan konsumerisme seakan mengaburkan identitas-identitas lokal maupun pribadi kita yang unik dan ini terjadi tanpa perlawanan. Ini tidak hanya berimbas kepada aspek mental atau rohani, tapi juga telah menyentuh kepada aspek-aspek yang mendasar, seperti krisis dalam hal kemampuan bertahan hidup.

Dalam bidang politik, secara khusus beliau menyiratkan konsep inklusivitas yang harus diperjuangkan bukan hanya orang Indonesia yang beragama Kristen, tapi juga semua warga Negara Kesatuan Republik Indonesia ini. Secara khusus, beliau menyiratkan bahwa pandangan yang bersifat konfliktual yang dibawa politik Kristen harus diganti dengan perspektif yang membawa muatan kepentingan bersama.

Dalam visi misi serta perspektif yang dibawa oleh ke-34 partai politik peserta pemilu 2009 nanti misalnya, pasti ada poin-poin yang sejalan dengan semangat perjuangan politik Kristen di Indonesia. Di sisi yang lain, keberadaan dua partai politik bernafaskan Kristiani dalam pemilu 2009 serta keberadaan kader-kader Kristiani di berbagai partai politik dan kelompok kepentingan yang lain diharapkan mampu meningkatkan kualitas kader-kader Kristiani secara umum.

Sementara itu, politisi senior, bapak Sabam Sirait, dengan pandangannya yang kental nuansa nasionalisme kebangsaannya mengingatkan semua warga negara Republik Indonesia untuk menjaga dasar-dasar negara supaya tidak memecah konsepsi NKRI yang sudah final. Berbicara via telepon, beliau mengingatkan bahwa poin-poin penting kehidupan berbangsa seperti pentingnya Pancasila dan UUD 1945, serta vitalnya kebebasan beragama, merupakan sesuatu yang harus diperjuangkan, bukan untuk didiamkan atau dituntut saja. Hal ini berlaku pula untuk perjuangan para politisi Kristen di Indonesia.

Ditegaskan beliau, bahwa memang tidak semua orang harus masuk dalam organisasi kepentingan politik maupun partai politik, tapi semua warga negara punya tanggung jawab politik. Menanggapi mengenai umat Kristen yang secara kuantitas menjadi minoritas, beliau secara tegas menolak premis ini. “Umat Kristen bukan minoritas, tetapi merupakan bagian integral dari Negara Kesatuan Republik Indonesia”, tegasnya. Umat Kristen tidak dalam posisi minor yang merasa nyaman untuk selalu meminta perlindungan dari kaum mayoritas. Umat Kristen merupakan bagian integral dan tak terpisahkan dari bangsa ini dan punya hak serta tanggung jawab yang sama sebagai warga negara. Dan sekali lagi, posisi ini bukan sesuatu yang “given”, tetapi harus diperjuangkan di semua bidang.

Menanggapi banyaknya partai politik peserta Pemilu 2009, beliau menghimbau partai-partai tersebut untuk bersifat nasionalis untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Demikian juga dalam even Pilgub Jatim 2008, isu kutuhan NKRI serta cita-cita untuk mencapai kesejahteraan berkeadilan bagi masyarakat harus terus diperjuangkan mati-matian.

Pembicara ketiga yang dihadirkan Pustaka Lewi, Bapak Hengky Kurniadi di awal pemaparannya banyak mengungkapkan faktor historis politik Kristen di Indonesia. Aktivis yang pada masa mudanya berjuang di GMKI dan yang sekarang lebih terkenal sebagai pengusaha dan budayawan ini juga menyinggung banyaknya kader-kader politik Kristen di berbagai partai politik, yang sayangnya kurang terkoordinasi secara bagus. Akibatnya tidak ada kesatuan visi-misi perjuangan yang potensial sekaligus vital untuk memperjuangkan kepentingan kaum Kristen dan masyarakat Indonesia secara umum. Di aspek yang lain, beliau juga menyentil aspek doktrinal mengenai belum adanya suatu bentuk teologi kontekstual yang bisa menyentuh secara mendalam permasalahan mendasar negeri ini.

Secara keseluruhan, topik pembicaraan dalam diskusi ini mengerucut kepada pertanyaan partisipasi yang merupakan artikulasi dari hak dan tanggung jawab kita sebagai warga negara. Permasalahan di sini bukan hanya menyangkut ritual tahunan atau sekadar kewajiban administratif saja, tapi juga aspek normatif yang seharusnya menjadi tanggung jawab kita bersama dalam mewujudkan kebaikan bersama.

Secara lebih spesifik, ada beberapa permasalahan yang bisa diidentifikasi terkait dengan tema pembahasan kita kali ini mengenai isu-isu politik kontemporer dan sekaligus eksistensi umat Kristen dalam bidang perpolitikan Indonesia. Secara struktural, salah satu permasalahan utama adalah munculnya apatisme politik yang sudah mengakar kuat dalam umat Kristen di Indonesia. Faktor historis tentu berperan, tapi tidak bisa kita salahkan secara absolut. Instropeksi diri serta adanya suatu konsepsi mengenai perpolitikan secara benar bisa mengikis apatisme ini.

Karena itulah, berbagai keluhan dan kritikan terhadap politik hendaknya tidak semakin menjauhkan warga gereja dari politik, begitupun sebaliknya, tidak semakin menimbulkan jurang komunikasi antara kader-kader kristiani yang berkecimpung dalam politik dengan basis massanya, yaitu umat Kristen itu sendiri. Politik secara naif sering disalahpahami hanya sebagai tempat perebutan kekuasaan, struggle for power. Padahal esensi utama dari politik dalam kerangka besar demokrasi adalah memberikan hak sekaligus tanggungjawab yang sama kepada setiap warga negara untuk menciptakan kesejahteraan bersama. Dengan kata lain, perjuangan dalam bidang politik merupakan salah satu bentuk pelayanan, bukan hanya untuk kepentingan umat Kristen, tapi untuk kepentingan bersama seluruh bangsa. Dan mau tidak mau, kita sebagai umat Kristen harus mendukungnya.

Tapi di sisi yang lain, PR (pekerjaan rumah) yang besar masih tersisa, yaitu kurangnya keteladanan politik di negeri ini. Gencarnya media massa memberitakan mengenai berbagai perbuatan negatif elemen-elemen utama politik bangsa mulai tingkat desa sampai dewan perwakilan rakyat tentu menimbulkan pesimisme terhadap sistem sekaligus mekanisme politik ini. Secara khusus, berbagai keluhan yang muncul dari pihak gereja mengenai belum adanya pemahaman politik yang benar sekaligus keteladanan dari figur-figur Kristen menjadi tanggungjawab utama dari kader-kader yang sekarang berkecimpung di berbagai partai politik yang ada.

Keberadaan kader-kader Kristen itu sendiri merupakan potensi yang seharusnya bisa dimanfaatkan secara maksimal untuk memperjuangkan munculnya suara-suara kenabian di tengah krisis multi dimensi yang melanda bangsa ini. Diharapkan nantinya bukan hanya muncul partai-partai politik yang membawa simbol-simbol kristiani seperti salib, merpati, maupun pohon cemara, tapi juga muncul pemimpin bangsa yang berasal dari kader-kader kristiani yang benar-benar melandaskan setiap perbuatan dan pemikirannya sesuai Firman Tuhan.

*Risalah singkat ini merupakan rangkuman dari diskusi mingguan Pustaka Lewi yang diselenggarakan pada hari Sabtu, 12 Juli 2008 di Jl. Sumatra 31C.
*Pustaka Lewi mengucapkan terimakasih yang mendalam kepada semua pihak yang berperan dalam pelaksanaan kegiatan diskusi ini, sekaligus apresiasi kami ucapkan kepada ketiga narasumber, Bpk. Elia, Bpk. Hengky Kurniadi, dan Bpk. Sabam Sirait, yang mau meluangkan waktunya untuk saling bertukar pikiran, dan kepada setiap partisipan yang menghadiri diskusi ini, baik dari GMKI Surabaya, Bamag Surabaya, dan beberapa aktivis Kristen serta para gembala sidang Jemaat Kristen di Surabaya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: