Kekristenan & Kebudayaan: Mencermati Kembali Posisi Kekristenan dalam Budaya Kontemporer

pop_culture_christianity-1

“Kebudayaan adalah ‘pertunjukan’ dari keyakinan dan nilai-nilai utama seseorang, atau suatu cara konkrit untuk ‘mementaskan’ agama.”
-Kevin J. Vanhoozer

Kajian mengenai relasi kekristenan dan kebudayaan menjadi salah satu diskursus klasik diantara para teolog sepanjang masa. Selalu terdapat perdebatan mengenai relasi sekaligus kontradiksi di antara keduanya.

Tidak bisa kita pungkiri, agama manapun timbul dan tumbuh dari suatu kebudayaan. Klaim yang mengatakan bahwa ada “budaya asli agama” patut diragukan secara historis. Agama berkembang melalui kebudayaan. Suka tidak suka, unsur-unsur kebudayaan masuk ke dalam suatu agama. Perjumpaan agama dengan budaya di satu sisi terjadi benturan karena nilai-nilai dasarnya ada yang tidak sesuai, di sisi yang lain agama bisa memanfaatkan budaya untuk mengembangkan pengaruhnya.

Perjumpaan kritis ini menuntut kita harus hati-hati. Kebudayaan adalah buatan manusia, hasil cita, rasa, dan karsa dari manusia yang telah berdosa. Inilah yang membedakan posisi kita dengan premis dasar antropologi yang memandang semua kebudayaan berangkat dari suatu kebaikan yang sama.

Kajian menarik dalam hubungan agama dengan kebudayaan adalah mengenai kebudayaan lokal/tradisional. Kebudayaan lokal atau tradisional sering dijadikan “sasaran tembak”, terutama yang bertentangan dengan ajaran Kristen. Konsep seperti inilah yang biasanya dulu digunakan saat penyebaran agama Kristen mula-mula kepada masyarakat pribumi. Para misionaris dari Amerika Serikat juga sering menggunakan kerangka pemikiran ini dalam misinya mengabarkan injil ke suku-suku pedalaman Amerika Latin. Pengaruh dari sikap kolonialis yang memandang rendah “the other” mungkin sedikit banyak mempengaruhi kerangka pemikiran ini.

Yang tak kalah menarik, sekaligus menjadi fokus pembahasan kita adalah mengenai bagaimana Kristen mampu menjawab tantangan dari budaya kontemporer.

Salah satu teolog yang menggumulkan masalah ini adalah H. Richard Niebuhr. Dalam karya monumentalnya, Christ and Culture (1951), Niebuhr membuat tipologi respon kekristenan terhadap kebudayaan. Tipologi pertama menempatkan Kristus melawan Kebudayaan. Kedua’ Kristus milik Kebudayaan. Ketiga, Kristus melampaui Kebudayaan. Keempat, Kristus berparadoks (berlawanan) dengan Kebudayaan. Dan terakhir, Kristus pengubah Kebudayaan. Tipologi dari Niebuhr ini menjadi pergumulan tersendiri dari umat Kristen dimana posisi mereka. Carl Henry (1947), salah satu teolog injili, menekankan posisi bahwa Kristus mengubah Kebudayaan, seperti visi dari pemikiran Augustinus.

Tantangan dari budaya kontemporer tidak bisa kita pandang sebelah mata. Nilai-nilai yang tidak sesuai dengan kekristenan yang terdapat dalam pluralisme, relatifisme, filsafat, media massa, gaya hidup, dan ilmu pengetahuan bisa mengancam hilangnya nilai-nilai kekristenan. Teologi serta para penganut agama pun tidak kebal terhadap ancaman ini.

Nature budaya kontemporer memang berasal dari budaya lokal/tradisional, tapi arah dan perkembangannya jelas sama sekali berbeda. Budaya kontemporer ditandai era modernisasi barat dan kuatnya pengaruh westernisasi dalam setiap aspek kehidupan. Mulai dari gaya hidup, penampilan, sistem politik, sistem media massa, sampai kepada aspek pemikiran pun mayoritas berasal dari barat. Jika mau fair, agama Kristen kita pun berasal dari barat. Dibawa oleh para misionaris Kristen Belanda yang mayoritas Calvinis, sistem kegerejaan, lagu-lagu rohani, dan tata cara ibadah kita meniru mereka.

Kita hidup di dunia posmodern. Begitulah kata-kata yang sering kita temukan dalam buku-buku teks popular sekarang. Tapi kita tidak bisa sepenuhnya lepas dari pemikiran-pemikiran sebelumnya. Sepanjang abad ke-20, perspektif humanis disertai penekanan rasionalitas manusia telah terbukti mampu menyingkirkan pengaruh agama di ruang akademisi. Suka tidak suka, kecenderungan ini akan terus berlanjut apabila agama gagal menjawab tantangan ini. Situasi ini bertambah ruwet dengan arus posmodernisme yang mempertanyakan kembali suatu konsep kebenaran. Disadari atau tidak, sedikit banyak umat Kristen yang “melek” terhadap perkembangan jaman telah ikut terseret arus ketidakpastian ini akibat kurang tanggapnya para teolog dan penginjil melawan arus pemikiran ini.

Salah satu solusi, atau lebih tepatnya disebut sebagai “jalan tengah” pertemuan teologi dengan kebudayaan lokal adalah munculnya teologi kontekstual. Terlepas dari banyaknya kritikan karena penekanan unsur praksis daripada doktrinalnya, teologi kontekstual terbukti mampu menjadi salah satu alternatirf pengabaran Injil sekaligus penanaman nilai-nilai kekristenan dalam budaya masyarakat lokal. Tapi apakah solusi ini juga berlaku dalam mengahadapi budaya kontemporer ? Mayoritas teolog menjawab tidak. Umat Kristen tentu tidak mau berkompromi sedikitpun terhadap hal ini.

Pertanyaan sekaligus jawaban utamanya kembali lagi pada gereja sebagai penjaga moral Umat Kristen. Bagaimana peran umat Kristen terutama gereja dalam menghadapi tantangan nilai-nilai budaya kontemporer yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Kristen ini ?  Sikap gereja yang “menyerah” dan hanya membiarkan segala sesuatu berjalan sepanjang tidak mengusik eksistensi Kristen tentu bukan suatu sikap yang bijak. Gereja harus bertindak.

Gereja harus membiasakan sekaligus mendidik jemaatnya agar mampu melawan pemikiran-pemikiran anti Kristus. Jika kita mau menengok pada aliran  seperti Saksi Yehova, Mormon, atau Advent, yang sangat intensif mendidik jemaat sehingga mampu menanamkan nilai-nilai yang terpatri kuat dalam diri mereka, tentu ini menjadi tamparan keras bagi gereja-gereja arus utama (mainstream).  Gereja-gereja arus utama cenderung menekankan pengajaran yang bersifat normatif dengan penekanan hubungan pribadi dengan Tuhan secara vertikal. Hal ini tidak salah, tapi juga tidak sepenuhnya tepat dalam menjawab tantangan yang semakin kuat. Pengajaran doktrinal yang kuat disertai dengan kepedulian terhadap segala sesuatu yang terjadi di lingkungan kita bisa menjadi salah satu alternatif jawaban.

Kita tidak mungkin melawan pemikiran kontemporer dengan mengasingkan diri terhadap kemajuan jaman. Atau justru bersikap masa bodoh dengan semakin meluasnya penggunaan filsafat yang salah di sekitar kita. Ini justru bersifat kontraproduktif. Pemberdayaan (empowering) umat Kristen harus segera dilakukan. Bukan hanya mempersenjatai dengan makanan-makanan rohani, kemampuan dalam memahami pemikiran-pemikiran yang tidak sesuai dengan nilai kekristenan juga harus dilakukan. Untuk mengalahkan musuh, minimal kita harus tahu apa yang kita hadapi ini. Dengan kata lain, konsep pekabaran Injil sekarang bukan hanya mampu memberitakan Injil secara tradisional, tapi juga mampu menguasai serta mampu melawan filsafat-filsafat serta perbuatan atau gaya hidup kontemporer yang tidak sesuai dengan Firman Tuhan.

Kita tidak perlu merasa alergi terhadap segala sesuatu yang berbau “postmodern”, “sekulerisme”, “pluralisme”, “pop culture”, justru pemikiran-pemikiran mereka harus bisa kita dekati dan mengerti dalam terang Firman Tuhan. Tindakan selanjutnya sudah jelas, buang pemikiran yang tidak sesuai dengan kekristenan dan jika memungkinkan pakailah budaya tersebut untuk semakin meneguhkan kekristenan dan menjadi sarana pekabaran Injil. Ini bukan hanya tugas gereja, teolog, penginjil, maupun para pelayan Tuhan, ini tanggung jawab kita semua.

*Forum Diskusi Jum’atan Pustakalewi, 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: