Masyarakat Pasca Teror: Partisipasi Umat Kristiani Mewujudkan Perdamaian, Menciptakan Jawa Timur yang Kondusif dan Menghormati Bulan Ramadhan

Seminar satu hari bertajuk “Masyarakat Pasca Teror: Partisipasi Umat Kristiani Mewujudkan Perdamaian, Menciptakan Jawa Timur yang Kondusif dan Menghormati Bulan Ramadhan” ini menampilkan tiga pembicara dengan latar belakang yang agak berbeda, yaitu: Pdt. Yohanes Bambang Mulyono (Pendeta Jemaat GKI Blimbing Malang) yang pada seminar ini lebih memilih untuk menggunakan pendekatan psikologi beserta sharing mengenai kasus GKI Blimbing Malang yang mengalami terror dan pengajuan perkara sampai Mahkamah Tinggi Negara; lalu Bambang Noorsena (pendiri Institute for Syriac Christian Studies (ISCS) yang memperkenalkan diri sebagai pengamat hubungan antar agama; dan terakhir Prof. Dr. Hotman Siahaan (Dekan FISIP Unair dan Direktur Lembaga Studi Perubahan Sosial/LSPS). Berikut adalah petikan ringkas seminar tersebut.

Mengawali pembicaraannya, Pdt. Yohanes Bambang Mulyono (kemudian disingkat YBM), dengan menggunakan pendekatan psikoanalitis, mengemukakan kembali pembagian klasik dari Sigmund Freud atas struktur kepribadian manusia, yaitu Id, Ego, dan Superego. Ketiganya berinteraksi sebagai suatu proses psikologis yang terjadi pada setiap orang. Id mewakili dorongan naluri yang kurang terorganisasi, serba buta, menuntut dan mendesak. Karena itu ia tidak berstruktur logis, amoral, dan cenderung mencapai pemuasan kebutuhan naluri. Id tidak dapat menoleransi ketegangan dan bekerja untuk melepaskan ketegangan itu sesegera mungkin untuk mencapai keadaan homeostatic. Sebaliknya ego berfungsi untuk mengendalikan, memerintah, dan mengatur. Ia mengendalikan kesadaran, melaksanakan sensor, realistis, logis, dan merumuskan rencana-rencana secara matang. Dan superego sebagai kode moral individu yang memutuskan nilai yang dipandang baik atau buruk, benar dan salah. Jadi superego berfungsi untuk menghambat impuls-impuls Id dan menginternalisasikan nilai-nilai etika dan moral serta agama.

YBM mengidentifikasikan teror sebagai dorongan dari id dan kegagalan bagian Superego untuk mengendalikan secara moral dan kegagalan bagian Ego untuk bertindak secara rasional. Sementara dampak dari terror bisa makin menguatkan perasaan syndrome of minority, khususnya terhadap umat Kristen yang secara intensif telah mengalaminya. Hal tersebut membuat umat Kristen cenderung untuk mengembangkan berbagai bentuk mekanisme pertahanan diri. Dengan menggunakan pendekatan teoritik Analisa Transaksionil dari Eric Berne, YBM menilai bahwa umat Kristen yang masuk dalam situasi pasca terror adalah komunitas yang hidup dalam perasaan TIDAK OKE. Dalam situasi ini, umat Kristen dapat mengembangkan sikap:
a.    Aku Tidak OK – Kamu OK
b.    Aku OK – Kamu Tidak OK
c.    Aku Tidak OK – kamu Tidak OK
d.    Aku OK – Kamu OK

Demi menuju pada pemulihan diri secara holistik, atau dengan bahasa Eric Berne memasuki situasi Aku OK-Kamu OK, maka berdasarkan perspektif Alkitab umat harus menerima fakta iman kristiani tentang penebusan dosa tanpa syarat atas manusia melalui karya Allah di dalam Yesus Kristus tersalib. Secara ilmiah, fakta iman ini sejajar dengan teori Carl Rogers tentang “Client-centered Therapy”nya, bahwa manusia akan dipulihkan jika ia memperoleh penghargaan positif yang tidak bersyaratat (unconditional positive regard). Menjawab pertanyaan peserta seminar tentang upaya gereja membantu korban trauma paska-teror, YBM mengusulkan untuk memulai tindakan konseling pastoral yang harus dijalankan secara professional.

Dalam rangka pemulihan diri sebagai jemaat secara ekumenis, YBM melihat perlunya umat Kristen untuk secara institusional gerejawi berdaya melawan perlakuan-perlakuan diskriminatif berupa hambatan yuridis dan birokrasi pemerintahan terhadap pendirian gedung-gedung gereja, yang dirumuskan dalam SKB Menteri Agama dan Departemen Dalam Negeri tahun 1969. Perlu juga dibangun suatu jaringan antar semua lembaga gereja dan seluruh umat Kristen, rencana bersama, pembentukan visi dan misi bersama dengan prioritas utama mencabut SKB Menteri tahun 1969 tersebut, pembelaan terhadap masalah HAM dan advokasi di bidang hukum. Sehingga kelak di masa depan umat Kristen Indonesia memiliki peran politis dan yuridis yang mantap dan diperhitungkan, sehingga suara kenabiannya bergema dalam lubuk hati semua anak bangsa di negeri ini.

Sementara Bambang Noorsena (kemudian disingkat BN) sebagai pembicara kedua menilai bahwa pernyataan-pernyataan normative masing-masing agama, misalnya umat Muslim berkata bahwa Agama islam tidak mungkin melakukan terorisme karena islam adalah Agama perdamaian; sementara umat Kristiani berkata bahwa Kekristenan adalah Agama Damai sebab Yesus Kristus sendiri adalah Raja Damai, tidak lain merupakan sebentuk mekanisme pertahanan diri sebagaimana telah dikemukakan oleh Pdt. Yohanes Bambang sebelumnya. Bila menjurus pada ekstrimisme agama yang disebut fundamentalisme, kita dapat melihat suatu cirri khas yang menyolok ada pada fundamentalisme masing-masing agama Kristen maupun Islam. Dalam fundamentalisme Kristen terdapat suasana eskapis/lari dari persoalan dunia, sementara dalam fundamentalisme Islam makin Nampak wajah politisnya.

Berbeda dengan banyak kalangan yang mengukuhkan keberadaan dari konflik islam-Kristen sebagai persoalan real, BN berpendapat bahwa konflik itu lebih dipicu oleh akar konflik yang semata-mata penuh dengan kepentingan perebutan kekuasaan politik dan ekonomi. Namun, di sisi lain, pada saat ini muncul suatu modus yang disebut mekanisme kambing hitam yang diciptakan oleh orang-orang yang menolak konflik Islam-Kristen itu sebagai persoalan real. Mereka berpendapat bahwa konflik agama itu semu dan menuduh adanya provokator di belakang semua perkara tersebut. Mis: pihak militer atau Soeharto sebagai simbol orang-orang dari rezim Orde baru yang menaruh sakit hati dengan penguasa sekarang.

Sebagai catatan penting, BN memandang perlunya umat Kristen mengembangkan tiga orto (orto=kelurusan), yaitu:
a.    Ortodoksi (ajaran yang benar/lurus)
b.    Ortopraksis (praksis hidup yang benar/lurus)
c.    Ortolatri (penyembahan yang benar/lurus)

Di samping itu perlu dibiasakan lahirnya pembacaan teks-teks kitab suci yang non fundamentalis dan penampilan-penampilan keagamaan yang ramah dan simpatik. BN mencontohkan fenomena dakwah a la KH Abdullah Gymnastiar atau yang popular dipanggil sebagai “Aa” Gym (‘Aa” adalah panggilan orang Sunda untuk kakak laki-laki), maupun model pembeitaan mimbar Agama Kristen gaya Roma Katolik di beberapa media televisi.

Menjawab pertanyaan peserta tentang masa depan agama, BN berpendapat bahwa banyak orang dapat mengerti bila Agama dalam pengertian formal akan kehilangan daya tariknya. Namun tidak demikian dengan spiritualitas. BN meyakini spiritualitas sebagai sesuatu yang akan selalu memiliki pesona tersendiri. Orang mungkin tidak mencari agama, tetapi mereka pasti mencari spiritualitas. BN mencontohkan kita dapat belajar dari religi dan religiositas Bung Karno yang inklusif, yang sekaligus juga dapat dijadikan sebagai referensi berharga oleh agama-agama di Indonesia untuk merumuskan model spiritualitas yang kontekstual. Sejalan dengan itu, BN tetap mempercayai Pancasila sebagai solusi bagi persoalan kebangsaan kita, sebab telah Nampak baginya bahwa Pancasila menyediakan suatu kerangka berpikir yang merangkum seluruh kepelbagian corak keberagaman dan kedaerahan di Indonesia.

Sebagai pembicara ketiga, prof. Dr. Hotman Siahaan (selanjtnya disingkat HS), menekankan sejarah panjang yang mengungkapkan relasi sulit yang terjadi dalam hubungan antara Agama dan Politik. Dalam kekristenan, relasi itu mulai dirumuskan secara lebih sadar ketika Agustinus dari Thagaste, yaitu salah seorang Bapa gereja kita yang hidup di awal Abad pertengahan, menulis bukunya yang termashyur, De Civitate Dei (Kota Allah). Dalam bukunya itu Augustinus memberikan pendapatnya tentang posisi Agama (baca:kekristenan) di tengah hidup publik/polis.

Untuk memberikan pertimbangan lain terhadap pendapat pembicara sebelumnya, yaitu Bambang Noorsena, mengenai konflik Islam-Kristen sebagai sesuatu yang semu, HS mengutip kembali tesis dari Samuel Huntington mengenai perang peradaban paska runtuhnya Uni Soviet, yang terjadi antara barat, islam, dan Konfusianisme. Dalam konteks pembicaraan seminar kali ini tentulah konflik barat dan islam memperoleh sorotan utama. Dengan tesis ini dapat dipastikan bahwa menurut Huntington, konflik yang bernada religious, yakni islam (kategori religious) dengan Barat merupakan sesuatu yang real pula.

Namun rupanya HS tidak memutlakkan tesis Huntington ini. Dengan segera ia mengingatkan kita untuk tidak terjebak dalam perdebatan tentang siapa pelaku terror yang sebenarnya. Dalam kapasitasnya sebagai seorang peneliti media, HS mengajak kita untuk lebih waspada pada setiap pemberitaan media massa yang mengeksplorasi dan mengeksploitasi suatu perkara kekerasan. Media massa berpotensi besar malakukan apa yang disebutnya sebagai jurnalisme perang, yaitu suatu gaya peliputan yang menyajikan fakta kekerasan dengan bahasa tampilan secara vulgar. Media massa dengan demikian, hendak menyampaikan pesan kepada masyarakat pembaca bahwa kekerasan itu adalah alamiah, sebagai gambaran real dari diri kita sendiri. Bagi HS merupakan sesuatu yang jauh lebih menguntungkan bagi semua pihak untuk menjawab pertanyaan: bagaimana menghindari simulacra, yaitu suatu simulasi kekerasan yang kemudian kita anggap sebagai kenyataan yang sesungguhnya sebagai akibat dari gaya pemberitaan media massa itu. HS menandaskan bahwa kegiatan produksi dan reproduksi kekerasan justru memperkuat simulacra, yang kemudian melahirkan semacam hyper-reality, yakni realitas semu namun dipersungguh sehingga akhirnya dianggap sungguhan, hingga mampu menggusur kenyataan yang sesungguhnya. Jangan-jangan persoalan kita yang sebenarnya justru adalah reproduksi kekerasan sebagai akibat dari pemberitaan media massa ini. Maka soalnya menjadi bagaimana kita mampu memiliki kontrol atas pemberitaan media massa.

Mengenai soal partai politik Kristen, HS berpendapat bahwa gejala menguatnya kecenderungan umat Kisten membentuk partai-partai berlandaskan identitas kekristenan tersebut justru makin mempersempit ruang gerak umat Kristen sendiri. Bagi HS, situasi akan menjadi lebih baik bila partai-patai itu berfusi dalam satu partai hasil konfederasi bersama partai-partai agama yang lain. Arus pemikiran dan tindakan seperti ini juga memiliki makna yang menguntungkan bagi dialog lintas iman yang memiliki keprihatinan untuk mengembangkan suatu teologi inklusif. Bila halnya menuju ke arah itu, kita dapat memastikan bahwa agama masih dapat diharapkan memberikan jawaban yang relevan dan signifikan bagi penyelesaian persoalan kita sebagai sebuah bangsa dan masyarakat ini.

*Seminar ini diselenggarakan oleh Partisipasi Kristen Indonesia Jawa Timur, bertempat di Hotel Natour Simpang, Surabaya, 9 November 2002

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: