Para Pemimpin Dunia Bahas Toleransi Keagamaan di Forum PBB

toleransi

Mulai Rabu (12/11), para pemimpin dunia berkumpul di markas besar PBB dalam forum toleransi agama yang disponsori oleh Arab Saudi. Pertemuan yang melibatkan utusan dari sekitar 80 negara ini bertajuk utama “UN Conference on the Culture of Peace”.

Tujuan utama dari pertemuan ini adalah mempromosikan toleransi dan rasa saling menghargai antar umat beragama serta mengakhiri segala bentuk penindasan terhadap kebebasan beragama. Situasi konflik Israel-Palestina yang semakin memanas dan masih biasnya pandangan para pengambil kebijakan di negara-negara barat dalam masalah-masalah negara dunia ketiga menjadi keprihatinan tersendiri bagi diadakannya dialog antar-iman ini. Sebelum forum ini, pada bulan Juli telah diadakan semacam pertemuan pendahuluan di Madrid, Spanyol dengan misi yang sama.

Tapi, tujuan mulia ini tentu tidak akan berjalan dengan mulus. Serangkaian perbedaan persepsi dan paradigma yang menjadi penyakit historis dalam memandang masalah-masalah keagamaan merupakan tugas besar yang harus disinergikan terlebih dahulu. Tidak bisa dipungkiri, unsur-unsur hak asasi manusia yang selama ini didengung-dengungkan barat sebagai nilai universal akan berhadapan langsung dengan nilai-nilai tradisional di negara-negara dunia ketiga, dan sangat mungkin terjadi perbedaan dalam tingkat definisi maupun aplikasinya. berbagai prasangka yang muncul sebagai trauma historis antar kebudayaan juga menjadi handicap tersendiri bagi tercapainya pemahaman bersama.

Kepala negara dan kepala pemerintahan yang datang dan mengikuti forum ini membuktikkan besarnya masih penting dan relevan tema ini diangkat, bahkan dalam forum internasional seperti ini. Beberapa kepala negara dan kepala pemerintahan yang hadir diantaranya, Presiden Asif Ali Zardari, Presiden George W. Bush, PM Gordon Brown, Shimon Peres, dan Sekjen PBB, Ban Ki-moon. Dan tak lupa, Raja Abdullah dari Arab Saudi yang berperan sebagai sponsor utama pertemuan ini.

Peran Arab Saudi sebagai sponsor utama pertemuan ini di satu sisi mengundang pujian, tapi di sisi lain juga mengundang kritik dan skeptisme dari berbagai pihak. Apresiasi datang karena usaha konkrit Arab Saudi untuk menciptakan image sebagai negara Islam yang toleran. Tapi, reputasi Arab Saudi sebagai bentuk monarkhi absolut dan keberadaan aliran wahhabi yang secara langsung maupun tidak langsung, mengeliminir seminimal mungkin kebebasan mengekspresikan agama dan kepercayaan justru mengundang tanda tanya besar mengapa di forum internasional mereka justru mempromosikan kebebasan beragama.

Salah satu media yang berpengaruh di Amerika Serikat, International Herald Tribune, mempertanyakan ketulusan Arab Saudi dengan menurunkan pemberitaan mengenai memudarnya pluralisme di negeri kaya minyak tersebut. Media yang bermarkas di New York tersebut juga mengemukakan opini dari kelompok-kelompok pembela HAM di Arab Saudi mengenai permasalahan toleransi keagamaan, yang disebut oleh Human Rights Watch sebagai “systemic religious discrimination”. Singkatnya, mereka menyimpulkan bahwa Arab Saudi tidak punya kualifikasi untuk memimpin forum ini.

sumber: CSM, International Herald Tribune

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: