Memudarnya Semangat Natal Bersama (Refleksi Kebersamaan Sesama Umat Kristiani Menyambut Natal 2008)

natal

Sekali lagi kita menyambut kedatangan Juruselamat ke dunia setiap tanggal 25 Desember. Secara pribadi, tidak ada yang berbeda bagi saya dalam menyambut (dan mengalami) Natal, baik dalam ibadah maupun perayaannya. Mungkin karena acara ini yang terlalu rutin atau saya sebagai pribadi yang terlalau bebal untuk menghayati arti Natal yang sebenarnya.

Rutinitas pada saat bulan Desember yang terlihat di kota saya, Surabaya, adalah bagaimana mengemas Natal sebagai sebuah akselerator bagi perputaran uang dan jasa seputar perayaan maupun perayaan Natal. Berbagai pusat perbelanjaan mempromosikan semangat Natal dan Tahun Baru dalam wujud kemurahan hati dalam memberikan diskon, mempercantik ruangan dengan hiasan natal, menyewa para sinterklas lokal, dan tak lupa mengadakan perayaan Natal. Dan satu-satunya fenomena berbeda pada Natal kali ini adalah semakin seringnya para calon legislatif nongol dalam acara-acara Natal.

Kita tinggalkan dulu nuansa Natal di sudut-sudut kota ini yang semakin sumpek dengan berbagai baliho pemilu. Yang patut didiskusikan kali ini adalah tema besar apa menyambut Natalan kita kali ini. Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) dan Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) menjadikan semangat untuk hidup dalam perdamaian dengan semua orang (bdk.Roma 12:18) sebagai tema utama Natal tahun ini. Yang dimaksud dengan semua orang ini menurut penafsiran pribadi saya secara serampangan adalah setiap individu yang hidup bersama kita dan yang bersama kita menghirup udara dalam rumah besar bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dan tentu tak terkecuali sesama umat Kristen itu sendiri. Fenomena yang muncul akhir-akhir ini adalah semakin memudarnya semangat oikumene dalam gereja-gereja di Indonesia. Indikatornya, semakin jarang (atau tidak ada) kita temui perayaan Natal bersama yang diinisiasi oleh gereja-gereja dalam konteks lokal dan dalam semangat interdenominasi.

Padahal, jika dihitung secara kasar, seorang warga jemaat setidaknya merayakan Natal sekitar tiga sampai empat kali. Perayaan Natal jika dibuat hirarki akan memunculkan kecenderungan sebagai berikut. Perayaan Natal bersama dalam hirarki terkecil dilaksanakan dalam kelompok-kelompok sel yang dibuat gereja, seperti ibadah blok, ibadah keluarga, dan ibadah wilayah. Lebih ke atas, perayaan Natal yang sering diikuti adalah yang diadakan di gereja. Jika ikatan intra gerejanya kuat, maka perayaan Natal dalam satu sinode akan diadakan.

Sebagai seorang warga jemaat yang loyal, tiga acara ini tidak mungkin dilewatkan. Dengan catatan, ini belum menghitung acara Natal di lingkungan kerja maupun di institusi pendidikan, atau di lembaga pelayanan yang diikutinya.

Satu perayaan yang mungkin bisa kita lupakan begitu saja adalah perayaan Natal bersama yang diinisiasi oleh semangat keesaan gereja maupun interdenominasi dalam konteks lokal. Permasalahan yang bisa diidentifikasi mungkin sangat banyak. Mulai dari semakin kuatnya sekat-sekat antar gereja dan denominasi, prasangka-prasangka teologis, tidak adanya kesatuan visi dan misi, dan lain-lain. Tapi yang pasti, semangat oikumene semakin tidak populer di negeri ini.

Sekadar mengingatkan, semangat oikumene atau yang dulu dikenal sebagai gerakan keesaan sudah diinisiasi sejak 1950. Aktor utamanya tentu DGI yang berubah nama sebagai PGI. Sejak saat itu mulai dikenal konsep-konsep oikumene, seperti Lima Dokumen Keessaan Gereja (LDKG), Piagam Saling Meyakini dan Saling Menerima (PSMSM), serta Pokok-pokok Tugas Panggilan Bersama (PTPB). Tapi bagaimana nasib gerakan ini setelah lebih dari 50 tahun disosialisasikan? Mengutip perkataan dari Eka Darmaputera, seorang cendekiawan Kristen terkemuka dan inisiator dari semangat keesaan gereja di Indonesia, gerakan oikumene tidak bergerak, bahkan lumpuh.

Yang mengherankan adalah, macetnya gerakan oikumene tidak lagi dipermasalahkan oleh gereja-gereja di Indonesia saat ini. Ada atau tidak gerakan oikumene tidak berpengaruh apa-apa terhadap pertumbuhan gereja saat ini. Mungkin pernyataan yang dulu menjadi hipotesis ini telah menjadi aksioma tak terbantahkan secara empiris. Akhirnya, gereja-gereja hidup terisolir dan jalan sendiri-sendiri tanpa mempunyai suatu visi bersama sebagai gereja dalam konteks Indonesia.

Sebenarnya, gereja-gereja kristen di Indonesia mempunyai momentum tepat untuk menumbuhkan lagi semangat oikumene ketika serangkaian musibah pada akhir medio 1990-an yang menandai berakhirnya rezim orde baru menimpa gereja seluruh nusantara. Kita menemukan common enemy yang menjadi salah satu prasyarat bagi terciptanya suatu kesatuan, yaitu segala bentuk kekerasan yang mengatasnamakan agama. Tapi momentum ini berlalu begitu saja ketika aparatus pemerintah berhasil memperoleh kepercayaan masyarakat untuk mengatasinya.

Usaha-usaha lewat jalur konstitusional untuk merugikan umat Kristiani di Indonesia seperti dalam UU Sisdiknas dan pengaturan pendirian tempat ibadah dalam peraturan bersama menteri, dan UU Pornografi akhir-akhir ini sebenarnya juga mendatangkan perlawanan bersama. Tampaknya umat Kristiani hanya bisa bertemu saat terjadi musibah, itupun tidak tercipta tindakan lebih lanjut maupun kontinuitas gerakan.

Akibatnya, kehidupan dan interaksi bergereja semakin memperlihatkan cara-cara yang tidak etis. Pengelolaan gereja sebagai sebuah perusahaan yang profit-oriented, semakin maraknya perpecahan dalam tubuh gereja, fenomena pencurian jemaat, memperlihatkan semakin sulitnya tercapai apa yang disebut Dietrich Bonhoeffer, teolog kenamaan Jerman, sebagai komunitas orang kudus (sanctorum communio) di negeri ini.

Apakah kecenderungan ini akan berlanjut? Kemungkinan besar iya jika Gereja Kristen sekarang masih berstatus sebagai Gereja Kristen (yang kebetulan berada) di Indonesia, belum sebagai Gereja Kristen (yang berakar dan berkembang dalam konteks) Indonesia.

Tantangan untuk membangkitkan kembali semangat oikumene semakin berat. Diversifikasi dan kualitas serta intensitas permasalahan sekarang tentu lebih berat daripada tahun 1950. Tapi harapan itu tentu tidak akan menjadi suatu harapan irasional mengingat potensi yang selalu menyertai permasalahan. Keberadaan PGI, PGLII, PGPI, maupun BAMAG sebagai wadah administratif gereja-gereja lokal bisa ditingkatkan menjadi tempat agregasi kepentingan-kepentingan sekaligus distribusinya ke dalam maupun ke luar gereja. Lembaga-lembaga pelayanan, gerakan mahasiswa (GMKI), LSM Kristen, Institusi Pendidikan Kristen, dan Media Massa Kristen selanjutnya menjadi sarana bagi sosialisasi sekaligus katalisator gerakan-gerakan oikumene supaya lebih efektif.

Selamat merayakan Natal di Gereja masing-masing…

One Response

  1. setelah melakukan penelitian alkitabiah, ternyata memang benar Tuhan Yesus lahir tanggal 25 Desember tahun 0. itu saya tulis menjadi suplemen dlm buku Minggu-minggu Advent & Natal (2009). ada di toko buku Gramedia, Pustaka Mulia, Jumbo, Imanuel, Karisma Mega Mall, di Manado.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: