Linguistic Turn: Kini dan Sekarang

linguistics

“Dalam bahasa, yang ada hanyalah perbedaan”
-Ferdinand de Saussure

Spektrum pembahasan ilmu bahasa atau linguistik menemukan masa-masa keemasannya ketika berinteraksi dengan ilmu-ilmu humaniora dalam kerangka besar kajian-kajian filsafat analitik. Karena spektrum disiplin ilmu yang sangat luas ini, kajian-kajian linguistik yang kemudian berkembang dengan pelabelan strukturalisme, semiotika, maupun poststrukturalisme, menempatkan dirinya sebagai salah satu penguasa disiplin humaniora kontemporer.

Ada baiknya kita meninjau dulu aspek historis munculnya minat mendalam di antara filsuf untuk menggunakan bahasa sebagai determinan utama kajiannya. Biang keladinya bisa dirunut lewat perkembangan filsafat analitik yang menempatkan dirinya sebagai juruselamat bagi kekacauan logika dan pemikiran di dalam pemikiran-pemikiran filsafat saat itu. Semangat jaman ini menemukan momentumnya di ranah Britania Raya yang saat itu dilanda demam idealisme, baik hegelianisme maupun neohegelianisme. George Edward Moore (1873-1956) merupakan punggawa utama filsafat analitik ini, kemudian disusul nama-nama besar seperti Bertrand Russel, Ludwig Wittgenstein, Gilbert Ryle, dan tak lupa John Langshaw Austin. Merekalah yang kemudian memenuhi daratan kontinental dengan kajian-kajian linguistik di awal abad ke-20.

Semangat untuk memberikan terapi dengan memakai analisis bahasa ini semakin berkembang dan para filsufnya semakin bersemangat untuk melakukan ekspansi kajian ke wilayah disiplin ilmu yang lain. Kajian-kajian humaniora tak luput manjadi sasarannya. Melihat ilmu-ilmu humaniora yang lesu darah, suntikan kajian-kajian linguistik seakan membangkitkan kembali adrenalin kajian sosial. Dari sinilah, konsep “linguistic turn” atau lingkaran linguistik semakin nyaring gemanya.

Para penganut strukturalisme secara percaya diri menyingkirkan struktur sosial, dan tak lupa mengeliminir peran agen sosial, kemudian menempatkan struktur bahasa sebagai tolak ukur analisisnya. Suatu tindakan revolusioner yang kurang simpatik jika dilihat dari nature ilmu sosial itu sendiri.

Dua nama besar yang patut dikedepankan sebagai aktor intelektualnya adalah Ferdinand de Saussure dan Charles Sanders Peirce. Terpisahnya dua tokoh utama ini, Saussure di Swiss dan Peirce di AS, memang menjadi hambatan tersendiri bagi para pengagum linguistik untuk meresonansi pemikiran kedua tokoh ini di awal berkembangnya strukturalisme. Baik Saussure maupun Peirce sama-sama menonjolkan peran ilmu bahasa dan kemudian sebagai konsekuensi logisnya menerapkan kajian ini di bidang keilmuan yang lain dalam apa yang disebut sebagai strukturalisme.

Nama antropolog Prancis, Claude Levi-Strauss, patut dikedepankan di sini dalam masalah penerapan strukturalisme dalam kajian antropologi. Dengan memakai dasar-dasar strukturalisme Saussure, Levi-Strauss kemudian mengaplikasikannya ke seluruh bentuk komunikasi, terutama fenomena-fenomena sosial, yang kemudian diuji dengan strukturalismenya.

Sementara itu, dalam hubungannya dengan ilmu penandaan atau semiotika, Roland Barthes dan Umberto Eco, merupakan dua nama yang berperan penting di dalamnya. Barthes semakin menguatkan posisi bahasa sebagai sebuah sistem yang otonom. Konsekuensinya, struktur di atas bahasa tersebut (pengarang/penulis) secara sadis dinegasikan oleh Barthes. Eco dalam ‘semiotics and the philosophy of language’ mengibaratkan bahasa lebih mirip sebuah ensiklopedia daripada kamus, sebuah sistem yang tidak terbatas maknanya juga tidak bisa dipastikan maknanya secara tunggal. Inilah sumbangan terbesar Eco bagi kajian linguistik.

Di satu sisi, masuknya kajian-kajian berbau linguistik dalam kajian humaniora tidak hanya memberikan suntikan darah baru untuk perkembangannya dalam meneliti dunia sosial yang semakin kompleks ini. Intertekstualitas dengan disiplin ilmu yang lain semakin memperkaya khazanah keilmuan. Tapi jangan lupakan pula efek sampingnya, terutama bagi ilmu-ilmu sosial.

Dua kritik utama dari Sir Karl Raimund Popper terhadap filsafat analitik dan Anthony Giddens terhadap strukturalisme secara luas bisa menjadi bahan kontemplasi kita bersama. Dengan tak melupakan jasa utama filsafat analitik dalam membersihkan kekacauan struktur pemikiran para filsuf saat itu, Karl Popper mengkritik para filsuf analitik yang secara tak langsung menyingkirkan realitas sebagai akibat keasyikan mereka bermain dalam permainan bahasa. Bahkan Popper secara sarkasme menggambarkan mereka sebagai orang yang asyik membersihkan kacamatanya tanpa pernah menggunakannya untuk melihat. Giddens, yang terkenal karena kebenciannya terhadap strukturalisme dan turunannya, melihat kajian-kajian seperti ini gagal membangkitkan perubahan sosial di dalam masyarakat.

Dalam kajian ilmu sosial, kita bisa sedikit bernapas lega. Kajian antropologi struktural dari Levi-Strauss dan mitologi Barthes ternyata tidak mengurangi esensi realitas sosial walaupun memakai strukturalisme yang notabene merupakan anak kandung filsafat analitik. Akan tetapi, determinisme peran bahasa bisa menjadi masalah tersendiri.

Permasalahan yang bisa diidentifikasi adalah semakin menjauhnya realitas sosial karena terjebak dalam perdebatan teknis seputar bahasa beserta segala atributnya yang secara langsung maupun tidak langsung mengurangi porsi dari fenomena sosial yang seharusnya kita kaji lebih dalam. Ambisi dari linguistic turn untuk membuat sebuah ‘theory of everything’ untuk menjelaskan seluruh fenomena pun bisa dilihat bukan hanya sebagai sebuah kesombongan akademis, tapi juga ancaman bagi keberadaan dan pengembangan studi-studi alternatif yang lain.

Secara hati-hati, melihat kajian linguistik mencapai ‘golden age’ saat ini merupakan sebuah proposisi yang teburu-buru. Bukannya semakin struktural di kalangan akademisi atau semakin memperlihatkan metodologi yang kokoh untuk diuji secara metodologis, kajian bahasa semakin tercerabut dari akar-akarnya karena semakin banyak varian yang muncul darinya. Banyaknya turunan bisa dilihat sebagai sebuah kemajuan, tapi juga bisa dilihat sebagai suatu trend yang mengarah kepada ketidakpastian dan ketidakmenentuan. Bahasa-bahasa dan konsep yang dipergunakan pun semakin abstrak dan tidak menutup kemungkinan para pengkaji linguistik kontemporer pun juga tidak sepenuhnya paham dengan pemilihan kata serta konsep yang dipergunakan kolega mereka.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: