Meredefinisi Konsep Pahlawan dan Nasionalisme dalam Konteks Masyarakat Kontemporer

pahlawan

Fenomena menarik sedang terjadi dalam ruang politik Indonesia. Menjelang pemilu 2009, banyak partai politik berlomba mencitrakan dirinya lewat media massa, salah satunya lewat dunia periklanan. Salah satu yang gencar akhir-akhir ini adalah PKS. Tak tanggung-tanggung, PKS mengusung nama-nama besar dalam iklannya seperti KH Hasyim Asy’ari, KH Ahmad Dahlan, M.Hatta, dan Ir. Soekarno. Bahkan tak lupa, simbol kekuasaan orde baru, Soeharto turut disebut sebagai Guru Bangsa.

Sebenarnya, dari segi teknis, tak ada yang salah, dari iklan “layanan politik” ini. Tapi keberadaan PKS sebagai rival partai besar lain yang tokoh-tokohnya diusung dan, dan latar belakang ideologis PKS membuat pihak lain seperti kebakaran jenggot. PDIP dengan berberat hati menanyakan kenapa Bung Karno ditampilkan dalam iklan politik sebuah partai dengan corak aliran tertentu. Begitu pula PKB yang walaupun cuek, tetap saja tidak rela tokohnya ‘dipinjam’ orang lain.

Dari peristiwa ini, tergelitik kembali keinginan penulis untuk meredefinisi konsep “pahlawan” dalam tataran wacana dan praksis. Pahlawan dalam konteks masyarakat Indonesia identik dengan pejuang kemerdekaan, orang yang gagah berani, pencinta tanah air, dan identik pula dengan pengorbanan nyawa. Kata pahlawan berasal dari bahasa sansekerta, phala berarti buah, dan wan merujuk kepada penyandangnya. Secara semantik berarti orang yang menghasilkan suatu karya bagi bangsa dan negaranya. Dalam bahasa inggris, hero sendiri berasal dari bahasa Yunani heros yang merujuk pada demigod (manusia setengah dewa).

Kita patut bersyukur, karena tidak semua negara mempunyai individu-individu yang disebut sebagai pahlawan nasional. Jumlah pahlawan yang kita miliki, (sampai 10 November 2006 ada 138 pahlawan nasional), bisa dibilang sangat banyak jika dibandingkan dengan Negara lain. Terasa normal karena negara kita sedikit dari negara-negara di dunia ini yang kemerdekaannya direbut melalui perjuangan. Tapi sekaligus terasa janggal jika melihat Negara-negara lain yang jumlah pahlawan nasionalnya tidak sebegitu banyak. Filipina tidak lebih dari lima orang, tapi siapa yang meragukan kompetensi nama-nama seperti Jose Rizal dan Thomas Aquino sebagai pahlawan nasional. Bahkan Australia sampai saat ini tidak punya pahlawan nasional.

Bagaimana mendefinisikan pahlawan itu sendiri, sangat tergantung pada aspek-aspek yang tentunya tidak bersifat linier. Ada beberapa aspek yang harus diperhatikan. Mulai dari aspek kontekstual, konsensus (kesepakatan bersama), diferentiatif (perbedaannya dengan bukan-pahlawan), bahkan manipulative (untuk kepentingan tertentu).

Aspek genealogis dari konsep pahlawan itu sendiri sangat luas spektrumnya. Kemunculan pertama dari literature barat memang menunjukkan bahwa aspek religious sangat kental. Konsep kepahlawanan identik dengan keilahian menjadi corak awal penyebutan pahlawan dalam mitologi skandinavia kuno. Di belahan bumi lain, agama-agama samawi secara historis menurunkan tokoh-tokoh agama sebagai pahlawan, sekaligus menjadi mitos tersendiri. Kemudian mulailah sejak abad pencerahan para intelektual dipuja-puja sebagai pahlawan. Di Negara-negara yang sedang bergelut dengan imperialism, seperti Indonesia, para pejuang kemerdekaan diangkat sebagai pahlawan nasional.

Karena itulah, konsep kepahlawanan dipahami sangat berhubungan dengan konsep nasionalisme (rasa kebangsaan). Berbeda dengan konsep kepahlawanan yang bisa tumbuh dalam berbagai lintas ruang dan waktu, konsep nasionalisme tumbuh setelah terbentuknya Negara-bangsa modern yang ditandai dengan batas-batas kedaulatan yang jelas. Tapi konsep nasionalisme jelas tidak akan bisa menegasi primordialisme atau rasa kedaerahan secara absolut, karena nasionalisme mendapat cikal bakalnya dari sana.

Perasaan sebagai imagined community (komunitas yang dbayangkan), walaupun tersekat oleh batas-batas kedaerahan tertentu, melebur prasangka-prasangka etnisitas maupun kesukuan menjadi rasa kebangsaan dan nasionalisme berdasarkan kepentingan bersama. Hal itulah yang menjadi keyakinan dari perjuangan-perjuangan bersifat kedaerahan yang kemudian diakui sebagai cikal bakal perjuangan merebut kemerdekaan di tingkat nasional. Perang Padri, perang Diponegoro, perlawanan Cut Nyak Dien, Imam Bonjol, Pattimura, dan tokoh-tokoh lokal lain diapresiasi sebagai satu rangkaian holistik perjuangan mendirikan Negara kesatuan Republik Indonesia.

Dan satu hal yang sangat penting, pahlawan memang harus dicari, tapi tak boleh dinanti. Mitologi khas Jawa dan keyakinan lain mengenai ratu adil yang akan datang sebagai juruselamat bangsa tentu bisa digunakan sebagai mitos yang terus memupuk harapan masyarakat dalam keadaan krisis paling buruk sekalipun. Tapi secara aplikatif dan paradigma pemikiran, konsep mengenai pahlawan besar yang datang harus dieliminir mengingat sangat tipis perbedaaanya dengan konsep fatalism.

Pahlawan bukan hanya harus berjuang, tapi tempat bagi keberadaan pahlawan itu sendiri dalam masyarakat kontemporer harus diperjuangkan. Kenapa harus diperjuangkan? Karena sistem masyarakat sekarang tidak memungkinkan lagi munculnya tokoh yang benar-benar berkualitas dan berkompetensi untuk menjadi pahlawan sebenarnya. Sekat-sekat dalam masyarakat informasi modern sudah saling berhimpitan serta overload dengan berbagai informasi dan memunculkan ketidakmampuan masyarakat memfilter informasi yang diterimanya Akibatnya, tidak bisa dibedakan mana yang sakral atau profan, mana yang semu atau riil, mana yang rasional atau irasional. Bisa saja bintang sinetron atau pemenang kontes Indonesian idol, yang akan diakui sebagai pahlawan kita selanjutnya.

Perubahan paradigma dan pola pikir masyarakat juga harus diubah untuk melestarikan konsep pahlawan ini. Pahlawan tidak lagi identik dengan kemampuan fisik maupun seberapa banyak darah yang ditumpahkan untuk membela kebenaran. Pahlawan masa kini sangat tergantung dari apa dan bagaimana dia mendefinisikan konsep “penjajah” itu sendiri dan kemudian berusaha melawannya secara kolektif, bukti bahwa pahlawan ini mampu mengatasi salah satu patologi modernitas: individualistis dan egoisme struktural.

Konsep penjajah sekarang, tentu berafiliasi dengan memperjuangkan kebebasan. Karena itulah pahlawan masa kini adalah seorang freedom fighters. Pembeasan dari setiap ketidakadilan, pembodohan, kemiskinan, dan ketidakhirauan terhadap masalah-masalah sekitar kita. Pahlawan juga tidak harus seorang individu yang selalu menonjol, tapi juga setiap individu yang mampu memberdayakan kelompok masyarakat ke tataran kualitas hidup yang lebih baik.

Banyak contoh yang bisa kita jadikan framework dalam melihat bagaimana sosok pahlawan di masa kini. Muhammad Yunus dari Bangladesh dengan perjuangan memberdayakan usaha kaum papa, meski sepi publisitas internasional, justru terbukti sangat efektif meingkatkan kualitas hidup masyarakat di sana. Meski tidak diakui pemerintah setempat, Muhammad Yunus justru mendapat apresiasi besar dari dunia internasional dengan nobel perdamaian yang diterimanya.

Inilah karakteristik khusus dari pahlawan di masa post-nasionalis, ketika nasionalisme diasosiasikan dengan nilai-nilai universal, ‘nationalism is humanity’. Nilai-nilai yang diperjuangkan semakin universal dan semangat perjuangannya akan melewati batas-batas ruang dalam konteks globalisasi dan internasionalisasi. Mau tidak mau, nasionalisme sebagai sebuah paradigm pemikiran kembali dipertanyakan, apakah akan membatasi ranah perjuangan pahlawan dengan definisi kebangsaan tertentu, atau justru menjadi katalisator munculnya pahlawan. Menjadi tantangan tersendiri pula bagi masyarakat dan pemerintah setempat, apakah mereka mampu menerima eksistensi seorang yang tidak lagi membawa paham kebangsaan yang sempit. Jadi, kita semua bisa menjadi pahlawan yang sebenarnya, heroism in human affair…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: