Pergumulan Eka Darmaputera dalam Mengelola Kemajemukan Indonesia

indo

Tak berlebihan rasanya jika menempatkan Pdt. Dr. Eka Darmaputera sebagai salah seorang teolog Kristen terkemuka di Indonesia. Bahkan pergumulan beliau juga mendapat apresiasi luas dari pihak internasional, dan puncaknya adalah penghargaan “Third Annual Abraham Kuyper Award” dari Princeton Theological Seminary. Penghargaan ini disematkan kepada Eka atas jasanya dalam mengembangkan ‘reformed theology and public life’.

Penghargaan ini sekaligus membayar jerih payah Eka Darmaputera yang salah satu obsesinya (bersama Dr. TB Simatupang) adalah untuk menjadikan kehadiran gereja dan umat Kristen secara luas bermakna bagi masyarakat, bangsa, dan negara. “How to make the presence of churches in Indonesia meaningfull”.

Terlahir pada tanggal 16 November 1942 di Magelang, Jawa Tengah, di lingkungan yang menurutnya menumbuhkan jiwa nasionalismenya karena bergaul dengan teman-teman dari berbagai latar belakang. Jalan hidup seorang Eka Darmaputera kemudian sampai pada panggilannya ketika diajak Natan Setiabudi untuk masuk ke STT Jakarta. Di sini pemikiran Eka mulai matang dengan bimbingan Dr. TB Simatupang yang sangat dihormatinya, serta tak lupa, semangat aktivisme politik yang diasahnya ketika masuk menjadi anggota Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia tahun 1961. Pemikirannya juga sangat diperlengkapi dengan perspektif yang lebih luas ketika mulai menempuh program doktoral di Boston College and Andover Newton Theological School pada 1977.

Perkembangan pemikiran-pemikirannya yang banyak terpengaruh oleh pemikiran TB Simatupang, mantan militer yang kemudian menjadi teolog,  menjadikan sosok Eka Darmaputera sebagai seorang teolog dengan ide-ide yang dianggap ‘kontroversial’. Lihat saja bagaimana Eka secara lantang menentang rencana PGI memberi ‘upeti’ kepada penguasa Orde Baru saat krisis ekonomi yang dinilai sebagai salah satu aib terbesar kekristenan Indonesia. Belum lagi istilah “strategi status quo” yang disematkannya kepada gereja dan umat Kristen yang memilih cara aman, terutama di saat Orde Baru berkuasa. Tapi di sisi lain sosok Eka Darmaputera juga sangat dihormati di kalangan internal Gereja dan umat Kristiani karena melihat pribadi Eka yang bersih, terutama ketika menggembalakan GKI Bekasi Timur.

Para editor yang juga menyebut buku ini sebagai “Eka Darmaputera Reader” membagi empat bagian yang sekaligus menjadi rangkaian apik inti-inti pemikiran pendeta yang sangat sangat perhatian terhadap masalah etika ini.

Bagian pertama merupakan teks-teks seputar teologi sosial Eka Darmaputera dengan tema utama ‘Mengelola Kemajemukan’. Di sini pembaca akan menemukan kekaguman Eka Darmaputera terhadap konsepsi Pancasila yang nantinya menjadi topik disertasinya yang memukau dengan judul: “Pancasila and the Search for Identity and Modernity in Indonesian Society: A Cultural and Ethical Analysis”.  Pancasila ini juga yang disodorkan sebagai sebuah jawaban terbaik dalam membangun konsepsi masyarakat Indonesia. Sesuatu yang sekarang mungkin ‘aneh’ kedengarannya di kalangan gereja yang semakin terkotak-kotak oleh tempurung denominasinya masing-masing. Secara mendalam di bagian ini juga dibahas mengenai pergulatan identitas gereja dan kekristenan di tengah kemajemukan masyarakat.

Pilihan untuk menekankan wacana-wacana kebangsaan demi kebaikan bersama masyarakat Indonesia ini tak lepas dari keyakinan teologis Eka bahwa sesuatu yang baik hanya untuk orang Kristen saja itu justru merupakan hal yang tidak Kristiani: ‘Something which is good only for Christian is un-Christian’. “Yang kristiani adalah kalau itu baik bagi semua orang”, demikian tegasnya berulang kali.

Memasuki bagian kedua, kita menemui pemikiran Eka Darmaputera yang menyoroti tentang Gereja, Pekabaran Injil, Gerakan Keesaan, dan Fundamentalisme Kristen di Indonesia. Salah satu permasalahan menarik di bagian ini adalah mengenai gerakan oikumene atau keesaan gereja. Sesuatu yang lagi-lagi sangat tidak populer sekarang di kalangan umat Kristen Indonesia. Bahkan dinilai sendiri oleh Eka Darmaputera bahwa usaha melakukan gerakan keesaan gereja semenjak tahun 1950-an ini hasilnya adalah nol besar. Tidak ada kemajuan sama sekali. Lima Dokumen Keesaan Gereja tidak pernah lagi terdengar. Padahal disebutkan bahwa keesaan gereja merupakan conditio sine qua non jika kita mau survive di era globalisasi ini.

Eka juga menegaskan bahwa peran gereja harus dikembalikan ke fitrah aslinya, yaitu menjadi gereja dalam artian yang sebenarnya. “Let the church be the curch”. Inilah prinsip eklesiologi yang pertama dan utama dalam memandang gereja sebagai salah satu alat memenuhi panggilan Tuhan, bukan sebagai tujuan akhir.

Salah satu poin penting yang disinggung Eka Darmaputera di bagian ini adalah ketika berusaha membenahi konsepsi pemberitaan injil yang menurutnya banyak salah kaprah. Pemberitaan Injil dan misi masih melanjutkan tradisi jaman kolonialis dimana terdapat rasa superioritas agama dan sosial yang mengakibatkan kita memandang rendah pemeluk agama lain. Pekabaran Injil juga masih didefinisikan sebagai proselitasi (penyebaran agama). Eka berusaha memperbaharui logika-logika yang kacau ini dengan berulang-ulang menyebutkan bahwa Misi Pekabaran Injil adalah meng-Kristus-kan orang, bukan meng-kristen-kan orang lain. Pekabaran Injil adalah membawa ‘Kristus” ke dalam orang lain, bukannya membawa orang lain ke agama kita.

Di bagian berikutnya inilah, eksistensi sekaligus kapasitas Eka Darmaputera sebagai seorang pendeta dibuktikan dengan pemikiran-pemikiran mengenai wacana-wacana pastoral. Pembahasan yang mencakup pelayanan Firman, makna menjadi seorang pendeta, sampai pada bagaimana memaknai hari-hari gerejawi seakan menjadi legitimasi seorang Eka Darmaputera untuk didengar oleh seluruh para stakeholder kekristenan saat itu.

Bagian terakhir yang membawa tema utama “Hidup yang Bertanggungjawab” memperlihatkan sisi Eka Darmaputera yang menggeluti etika sebagai bagian yang vital. Secara ambisius, terlihat upayanya untuk merekonstruksi pemahaman mengenai etika Kristen, mulai dari makna kehidupan etis Kristen di Indonesia, sampai persinggungannya dengan area ekonomi, dan sosial sebagai konsekuensi logisnya.

Salah satu perhatian utama Eka Darmaputera adalah masalah kebangsaan. Sesuatu pekerjaan rumah yang belum selesai hingga sekarang. Memang tak diragukan lagi sikap nasionalisme pengagum sosok Bung Karno ini.  Meskipun menaruh perhatian besar pada ‘kebangsaan’, Eka Darmaputera tampaknya hanya sedikit menyinggung aspek ‘kenegaraan’ secara makro yang juga tak kalah vitalnya sebagai sebuah kesatuan: nation and state building. Seperti yang dilontarkan oleh Ignas Kleden, permasalahan Indonesia sebagai sebuah ‘state’ sering terlupakan bahkan oleh para founding fathers Indonesia. Inilah kritik Kleden yang seakan melanjutkan pertanyaan besar Tan Malaka ketika tidak menemukan secuil pun konsepsi kenegaraan ‘Indonesia Raya’ dalam teks-teks Soekarno maupun Mohammad Hatta.

Buku ini terlalu sayang jika hanya dilihat per bagian dan terlalu sayang pula jika dilihat secara menyeluruh tanpa memperhatikan detailnya. Bisa dibilang, inilah mosaik pemikiran seorang manusia Kristen di negara yang sangat plural bernama Indonesia dengan segala problematikanya. Memang sangat banyak kritik sekaligus otokritik yang ditujukan kepada kita, umat Kristen dan gereja, tapi pemikiran Eka Darmaputera juga sangat kaya akan konsepsi-konsepsi yang diajukan sebagai sebuah solusi.

Pemikiran yang cukup komprehensif ini memang tidak akan pernah menjadi suatu kesempurnaan, sampai beliau dipanggil kembali ke Rumah Bapa pada tahun 2005 lalu.. Selalu ada semangat yang ditinggalkan oleh seorang Eka Darmaputera untuk menjadikan teologi sebagai sesuatu yang harus berkembang ‘here and now’ bukannya ‘sekali untuk selamanya’ yang dipandang sangat tidak relevan diterapkan di Indonesia.

Permasalahannya sekarang, jika masih ada keinginan untuk melanjutkan pergulatan ini, adalah siapa yang mengenal buah-buah pemikiran para teolog maupun cendekiawan Kristen kita sekarang?  Jangankan mengenal, tahu pun belum tentu.

Figur-figur Kristen yang diakui sebagai cendekiawan maupun tokoh panutan bangsa semakin sedikit, atau bahkan hilang sama sekali. Wacana-wacana kebangsaan semakin tidak populer di gereja. Tokoh-tokoh Kristen seperti Johannes Leimena, Sutan Gunung Mulia, TB Simatupang, TH Sumartana, atau bahkan Eka Darmaputera sendiri tidak dijamin dikenal oleh generasi muda Kristen sekarang. Permasalahan (atau sudah dimaklumkan) yang akarnya juga sangat kompleks.

Pergumulan-pergumulan teologis lebih banyak pada aspek doktrinal sembari menjadikan teolog-teolog barat sebagai rujukan utama mereka. Dan tak jarang menghasilkan kesulitan kontekstualisasi (yang ironisnya selalu bersifat tautologis) dalam masyarakat yang sangat heterogen seperti di Indonesia ini. Di kutub yang lain, gereja semakin meninggalkan tinjauan-tinjauan doktrinal untuk sekadar lebih pragmatis dalam menyikapi dunia ini yang dikendalikan oleh semangat kapitalisme.

Ada baiknya kita mencermati tulisan Eka Darmaputera mengenai fenomena ini:

“Gereja semakin menjauh dari teologi. Akibatnya gereja tidak lagi pantas disebut sebagai gereja. Tetapi sekaligus dengan itu, teologi juga semakin jauh dari gereja. Akibatnya, teologi tidak pantas pula disebut teologi.”

Judul Buku      :  Pergulatan Kehadiran Kristen di Indonesia: Teks-Teks Terpilih Eka Darmaputera
Editor               :  Martin L. Sinaga, Trisno Sutanto, Sylvana Ranty-Apituley, Adi Pidekso
Penerbit           :  BPK Gunung Mulia (2005)

2 Responses

  1. Tulisan Anda ini akan menolong generasi muda sedikit lebih mengenal Eka Darmaputera.

  2. bung Eka adalah salah satu idola saya..
    saya memang tidak mengenalnya secara langsung, tapi saya mengenalnya cuma melalui tulisan-tulisan yang dia buat. Walaupun cuma sebatas itu, saya banyak sekali diajar oleh beliau tentang kehidupan ini. Melalui pengalamannya, khususnya melalui penyakit yang dideritanya, saya diajar untuk tidak menyerah pada keadaan. Melakukan sesuatu dengan sebaik-baiknya dengan segala kelebihan dan kekurangan yang ada, bukan sebanyak-banyaknya. Belum lagi tentang iman, pluralisme, dan tentang Tuhan Yesus itu sendiri, dan masih banyak lagi..Saya sangat berhutang kepada beliau, dan saya sedih karena belum sempat bertemu dengannya mengucapkan terima kasih atas kesediaannya untuk dipakai Tuhan untuk menjadi berkat sebesar-besarnya bagi sebanyak mungkin orang..Dan diantara orang yang banyak itu, saya bersyukur karena saya termasuk diantaranya..
    GBU all…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: