Presiden Perempuan Pertama Asia Telah Meninggal Dunia

cory_aquino_obit_01

Salah satu simbol gerakan people power Filipina, Nyonya Corazon Aquino, 76 tahun, menghembuskan nafas terakhirnya pada Sabtu, 1 Agustus 2009 pukul 03.18 waktu setempat. Penyakit kanker yang telah lama diderita menjadi penyebab utama kematiannya.

Corazon Aquino sebenarnya tidak bermaksud terjun ke pusaran politik Filipina yang sedang panas-panasnya pada medio 1980-an tersebut. Tetapi tragedi tertembaknya suaminya, Senator Benigno Aquino, Jr., merubah jalan hidup perempuan bernama lengkap Maria Corazon Cojuangco Aquino ini.

Filipina pada awal 1980-an merupakan potret ketidakstabilan politik, kerakusan diktator Marcos, serta kesenjangan sosial yang amat parah. Presiden Ferdinand Marcos, dengan dukungan kuat Amerika Serikat, tampak berusaha mendirikan dinasti politik abadi di Filipina dengan dukungan istrinya yang glamor, Imelda Marcos. Imelda Marcos sampai sekarang masih menjadi salah satu tokoh terkemuka Filipina, bukan hanya karena statusnya atau jumlah sepatu yang dimiliki, tapi kemampuan politik dan “soft diplomacy” yang diasah pada masa kepemimpinan suaminya.

Hampir sama dengan kekuasaan otoriter dibelahan dunia manapun, oposisi adalah sesuatu yang sangat diharamkan. Tak terhitung berapa lawan politik yang telah dipenjarakan kemudian “dihilangkan” atau dibuang ke luar negeri. Dan Senator Aquino adalah salah satunya. Setelah merasa mendapat dukungan cukup kuat untuk menggulingkan Rezim Marcos, Senator Aquino bersiap kembali ke tanah kelahirannya setelah mengalami pengasingan di Amerika Serikat.

Dan terjadilah salah satu drama pembunuhan politik paling dramatis dalam sejarah. Begitu keluar dari pesawat, Senator Aquino secara tragis terbunuh. Meninggalnya Aquino dalam rangka pencalonan dirinya untuk Pemilihan Presiden 1986 tidak serta merta menghapus kekuatan oposisi. David Steinberg (1986), menggambarkan bahwa kematian Aquino sebagai martir dan membangkitkan emosi keagamaan dan semangat politis orang-orang Filipina. Dukungan Gereja Katolik dan masyarakat yang sudah muak terhadap kekejian Marcos menimbulkan gerakan rakyat yang menyerbu Istana Malacanang sebagai simbolisasi berakhirnya rezim Ferdinand Marcos.

Marcos dan Imelda sendiri kemudian tersingkir dari kekuasaan untuk sementara. Kejatuhan ini merupakan sesuatu yang sangat tidak diduga oleh keluarga Marcos, apalagi melihat Amerika Serikat yang tampak membiarkan revolusi berjalan. Dalam film dokumenternya, Imelda mengungkapkan suaminya masih tidak percaya Amerika Serikat menarik dukungannya. Seakan menegaskan adagium klasik bahwa tidak ada kawan atau lawan abadi dalam politik, yang ada hanya kepentingan.

Nyonya Aquino kemudian resmi menjadi Presiden Filipina pada 25 Februari 1986 dan mengakhiri situasi chaos di Filipina. Nama Presiden Aquino menjulang tinggi. Popularitas dan determinasinya membuahkan beberapa penghargaan internasional. Majalah “Time” menjadikannya sebagai “women of the year”. Kandidat meraih nobel perdamaian juga sempat mampir kepadanya. Masa pemerintahannya sendiri secara umum berjalan cukup baik, meskipun banyak riak-riak kecil karena kekuatan loyalis Marcos yang masih banyak. Keberhasilan menata situasi politik yang sempat kacau-balau menjadi prestasi tersendiri meskipun reformasi ekonomi yang sangat diharapkan rakyat Filipina lambat dilakukan. Reformasi di bidang pemerintahan, hukum, dan agrarian menjadi catatan tersendiri sebagai apresiasi terhadap perempuan yang akrab dipanggil “cory” ini.

Bagaimanapun juga, banyak hal yang bisa dipetik dari Bangsa Filipina, terutama dari pribadi seorang Corazon Aquino. Bangsa Filipina bukanlah bangsa yang punya reputasi tinggi, bahkan di Asia Tenggara sendiri. Nada-nada kurang simpatik dari luar menang cukup dimaklumi jika melihat bangsa Filipina yang terlalu tunduk terhadap Amerika Serikat. Sejarah mencatat, penggunaan dua pangkalan militer Filipina oleh Amerika Serikat, di Clark Field dan Teluk Subay menjadi simbolisasi kekuasaan Amerika Serikat di negeri kepulauan ini.

Apalagi jika kita lihat secara umum masyarakat Filipina adalah masyarakat yang cukup glamor dengan sederetan nama a la Amerika Latin yang dirasa cukup aneh bagi tetangga Asia-nya. Mengutip tulisan Juwono Sudarsono, dalam pengantar buku “Krisis Filipina” (1988), yang dieditori John Bresnan, Filipina adalah “bangsa latin amerika yang kebetulan berada di Asia Tenggara”.

Dinamika politik yang cukup terbuka memunculkan peluang bagi siapa saja untuk masuk dalam kasta politik tertinggi Filipina. Para artis, bintang film, senator, maupun pengusaha mempunyai peluang yang sama jika kita menilik tradisi politik di sana yang cenderung melakukan copycat tradisi politik Amerika Serikat, “Big Brothers”-nya.

Ferdinand Marcos adalah simbol kediktatoran negara-negara dunia ketiga Asia, terutama ASEAN. Marcos tentu bukan satu-satunya rezim yang kemudian tumbang oleh kekuatan pro demokrasi, dan tentu saja masih banyak rezim otoriter, terutama militer, yang menjadi patologi kawasan, salah satunya adalah Myanmar.

Nyonya Corazon Aquino bisa dikatakan pioneer dalam hal kepemimpinan presiden perempuan di kawasan Asia, dan sejarah akan mencatat tradisi ini dilanjutkan oleh Gloria Macapagal Arroyo yang sampai sekarang masih menjadi pemimpin di Filipina. Nyonya Aquino juga pemimpin yang tidak hanya bermodalkan nama besar atau momentum politik saja. “The right man, in the right place” memang tidak bisa diingkari menjadi salah satu determinan keberhasilannya. Tapi keberanian dan dedikasi terhadap perjuangan menumbangkan sistem otoriter menjadi faktor kunci keberhasilannya naik menjadi presiden ke-11 Filipina.

Dedikasinya terhadap perubahan yang lebih baik juga terbukti ketika masa pemerintahannya berakhir. Nyonya Aquino masih aktif dalam berbagai aktivitas politik dan kemanusiaan. PinoyME Foundation merupakan yayasan sosial yang dipimpinnya dan memfokuskan pada pemberian kredit mikro. Belum lagi keanggotaannya di Council of Women World Leaders yang menegaskan komitmen Nyonya Aquino untuk mengangkat harkat dan martabat perempuan lebih baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: