TB Simatupang, Kekhawatiran dan Harapan Seorang Generasi Pembebas

TB-Simatupang

Tahi Bonar Somatupang seakan ditakdirkan menjadi sosok pembuka sejarah, generasi pendobrak sejarah (avant garde),dan menjadi sosok fenomenal bukan hanya bagi kekristenan, tapi juga bagi seluruh umat Kristiani di Indonesia.

Jejak sebagai seorang anak desa yang kemudian menjadi sosok penting dalam generasi pembebas “Angkatan’45” ternyata juga menimbulkan kekhawatiran sendiri bagi Jenderal kelahiran Sidikalang, Sumatera Utara, 28 Januari 1920 ini. Dalam kegiatan percakapan menyambut hari ulang tahun ke-65 nya, yang kemudian dibukukan oleh BPK Gunung Mulia dan dieditori oleh Victor Matondang, Pak Sim memakai pengalaman kegagalan generasi pembebas Amerika Latin untuk kemudian merefleksikan terhadap Angkatan ’45. Karena itu, Pak Sim selalu memikirkan, bahkan di saat purna tugas, apa yang bisa disumbangkannya bagi bangsa dan negara ini..?

Pertanyaan sekaligus tantangan inilah yang kemudian meresap ke dalam jantung pemikiran teologisnya yang berakar pada pernyataan, bagaimana menjadikan masyarakat kristiani dan gereja di Indonesia menjadi bermakna. Cita-cita yang kemudian menjadi juga inspirasi bagi salah satu tokoh kristen Indonesia berikutnya, Eka Darmaputera.

Untuk menjawab permasalahan ini, Pak Sim merujuk kepada konsep sakti dari yang sudah disepakati semua founding fathers bangsa ini: Pancasila. Sebagai seorang yang tidak diragukan lagi nasionalismenya, kita juga tidak perlu ragu untuk menebak ke arah mana kecenderungan teologisnya. Orientasi keluar untuk menjadikan umat kristiani dan gereja bermakna bagi bangsa dan negara ini, inilah harapan sosok yang diakui kiprahnya di tingkat internasional melalui dewan gereja Asia dan Dewan Gereja Dunia ini.

Dengan tidak bermaksud membatasi inti pemikiran Pak Sim, tapi basis dari pemikiran teologis yang kemudian menjadikan Pancasila sebagai titik tolaknya dapat kita temukan pada buku terbitan BPK Gunung Mulia berjudul “Iman Kristen dan Pancasila”. Di buku inilah TB Simatupang berbicara dengan landasan historis, nasionalis, dan teologis untuk merangkum eksemplar-eksemplar pemikiran teologi yang komprehensif. Kekaguman terhadap Pancasila tidak dapat diragukan lagi jika kita menyimak konsep Pembangunan Nasional sebagai Pengamalan Pancasila (PNPP) yang dipopulerkannya.

Dalam berbagai kesempatan, Pak Sim selalu mengungkapkan tiga “Karl” yang mempengaruhinya: Karl Marx dalam revolusi, Carl von Clausewitz mengenai perang, dan Karl Barth mengenai teologi. Yang paling menarik mungkin gagasan mengenai pembebasan sosial. Meskipun tidak secara langsung kita menemukan ambisi revolusioner, gagasan Marx akan revolusi dimaknai sebagai pembebasan sosial. Dan pengejewantahannya adalah melalui pembangunan ekonomi. Suatu konsep yang sangat familiar pada era orde baru.

Kiprahnya dalam diskursus teologi Indonesia bermula semenjak menjabat di Dewan Gereja Indonesia dan menangani bidang gereja dan masyarakat. Dan sejak 1967,Pak Sim juga mempelopori “dialog agama”, suatu ikhtiar untuk menumbuhkan pemahaman perlunya pengakuan bahwa agama-agama itu hidup berdampingan dan tidak hidup terpisah-pisah dalam negara dan dunia ini.

Gagasan yang paling penting bagi perkembangan kekristenan adalah idealismenya mengenai suatu gereja yang mandiri dan oikumenis. Penekanan yang dilandasi pemikiran bahwa ini bukan saatnya lagi penjajahan dalam kontek kultural, budaya, maupun teologis. Arus nasionalisme menggerus sekat-sekat seperti itu dan membuka peluang bagi kemandirian serta kesatuan gereja dalam konteks Negara Kestauan Republik Indonesia. Impian besar yang ironisnya saat ini tidak lagi populer dalam kekristenan Indonesia.

Inilah sosok besar yang mungkin sekarang namanya bagi umat kristiani tentunya akan semakin tenggelam oleh nama para penginjil kondang. Tapi jasa besar Pak Sim dan tekadnya untuk terus menyumbangkan apapun demi bangsa dan negara ini merupakan lompatan besar bagi siapapun yang ingin meneladani beliau. Dan tema besar yang Pak Sim ambil adalah bagaimana menciptakan kesinambungan sejarah dalam perjalanan bangsa ini. Kesinambungan dan disertai adanya peningkatan, koreksi, dan ada peningkatan, bukan kemunduran bangsa ini.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: