Christianity in Korea

???????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????

Gemuruh gelombang kekristenan di Korea (Selatan) terdengar gaungnya hingga ke seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia. Menjadikan keingintahuan sekaligus pertanyaan besar: apa yang menyebabkan negara di semenanjung korea ini mengalami transformasi total?

Buku yang dieditori oleh Robert E. Busswell Jr (University of California Los Angeles/UCLA). dan Timothy S. Lee, tampak ingin menjawab pertanyaan besar di atas berbekal penelitian-penelitian yang didanai oleh Henry Luce Foundation melalui UCLA, tempat dimana sekitar 3.300 mahasiswa dari Korea yang telah dan sedang mengenyam pendidikan.

Tapi jangan harapkan pembaca mendapat setumpuk ayat-ayat suci yang menjadi pembenaran fenomena ini, tapi dengan cerdik (dan terdidik) kedua editor ini menyuguhkan tulisan-tulisan yang mencerminkan bahwa kekristenan di Korea adalah hasil dari sebuah pergulatan berkonteks sosial-politik yang membutuhkan banyak martir sekaligus pahlawan.

Fakta besar yang diungkapkan di awal buku ini adalah pada akhir abad ke-20, lebih dari 25 persen masyarakat Korea Selatan mengidentifikasikan diri mereka sebagai umat Kristiani,baik Katolik maupun Protestan. Sebuah catatan statistik yang kemudian mengungkap fakta-fakta besar bahwa kekristenan juga berperan dalam konteks negara bangsa Korea Selatan.

Premis ini timbul dari pembabakan sejarah kekristenan di Korea yang dibuat oleh James Huntley Grayson di bagian pertama. Memakai inspirasi kairos yang dikembangkan oleh Paul Tillich, Grayson membagi lima periode sejarah kekristenan Korea.

Periode pertama berlangsung pada akhir abad ke-18 dimana terjadi benturan antara pengajaran Katolik dan Protestan yang datang dengan keyakinan Neo-Konfusionis yang tidak mengenal konsep monotheisme. Benturan antar budaya pun terjadi secara kultural, dan sulit untuk didamaikan mengingat doktrin monotheisme merupakan salah satu inti pengajaran kristiani.

Perubahan besar terjadi sepanjang abad ke-19 dimana umat Katolik banyak berperan di sini. Gesekan-gesekan antara kepercayaan lokal dengan kekristenan tetap muncul, tapi masa ini ditandai dengan munculnya generasi-generasi baru umat Katolik yang lebih menghargai perbedaan dan kesetaraan umat manusia. Sikap yang lebih moderat ini memicu perkembangan gereja-gereja di Korea.

Sama dengan yang dialami oleh Katolik, misionaris Protestan ternyata juga mengalami problematika serupa ketika berhadapan dengan kepercayaan lokal. Inilah yang menjadi tema besar periode ketiga yang berlangsung di akhir abad ke-19 sampai awal abad ke-20. Tapi,melemahnya otoritas pemerintah pusat dan dorongan para kaum nasionalis muda untuk mencari nilai-nilai baru bagi kehidupan berbangsa dan bernegara adalah faktor-faktor yang mendorong penerimaan terhadap protestan. Kebanyakan pemeluk Protestan merupakan masyarakat kelas biasa. Ini buah dari strategi penginjilan John L. Nevius yang lebih menekankan penginjilan kaum rakyat biasa dan kelas menengah, daripada kelas terdidik maupun kelas atas masyarakatnya.

Periode berikutnya adalah sepanjang pertengahan abad ke-20, dimana latar belakang historis pendudukan Jepang sejak 1910 di Korea menjadi tema sentralnya. Penganiayaan terhadap kaum kristiani Korea akibat pemaksaan Jepang dalam melakukan ritual Shinto terhadap rakyat Korea menjadi tantangan terberat saat itu. Tapi di masa ini, embrio nasionalisme semakin menguat secara luas, bukan hanya di umat kristiani, tapi juga pemeluk Buddha.

Pertengahan sampai akhir abad ke-20 ternyata tidak menurunkan intensitas tantangan yang dihadapi umat kristiani Korea. Perekonomian yang mapan, tingkat kesejahteraan yang cukup tinggi, dengan pemerintahan yang cukup stabil tidak menjadi jaminan kehidupan beragama mengalami hal yang serupa. Kekristenan telah menjadi kekuatan religi terbesar bersama Buddha, namun arus modernisasi, globalisasi, liberalisasi,dan sekularisasi sebagai konsekuensi perkembangan masyarakat Korea sedikit banyak membuat kaum agamawan harus meninjau ulang kontekstualisasi peran agama dengan situasi sosial masyarakat kontemporer. Tantangan dalam aspek internal juga memberi dilema besar untuk memilih apakah menonjolkan kuantitas dengan terus melakukan ekspansi keagamaan atau harus lebih mendalam terlibat serta bergulat dalam isu-isu sosial dan politik dengan segala konsekuansinya. Tantangan yang harus segera dijawab jika tidak ingin terhempas arus modernisasi.

Sejarah panjang kekristenan di Korea mendapat pengaruh yang cukup besar dari penyebaran agama Kristen Protestan dan Katolik di Cina, dan kemudian misionaris langsung dari Eropa maupun Amerika Serikat. Sung-Deuk Oak, dalam bagian keempat buku ini memaparkan secara mendalam disertai data yang akurat, betapa gelombang pengaruh kekristenan Cina sangat berpengaruh di masa-masa awal penyebaran agama kristiani di Korea. Sung-Deuk mencatat sejak periode 1870-an, berbagai literatur, terutama protestan, mulai masuk ke Korea, dan nantinya diperkuat dengan kehadiran para misionaris dari Amerika Serikat satu dekade berikutnya. Gelombang misionaris dari Eropa dan Amerika Serikat ini kelak akan semakin aktif berkembang dengan keberadaan Perjanjian Nanking (1842) dan perjanjian diplomatik antara Korea dan AS pada 1882.

Pencapaian dari menguatnya kekristenan di Korea tentu tidak begitu saja turun dari langit. Sejarah panjang seperti yang diuraikan di atas disertai pula dengan munculnya tetesan keringat dan darah para martir. Diantaranya adalah Kollumba Kang Wansuk (1761-1801), seorang aktivis Katolik,  Belum lagi jika kita menghitung ada ribuan orang, mulai dari penganut Katolik Roma, presbyterian, sampai kaum methodis, yang ditahan dan mendapat siksaan ketika pendudukan Jepang di Korea. Hal yang kemudian terulang ketika gerakan sosial melawan rezim Park-Chung hee pertengahan 1970-an menjebloskan para aktivis kristiani ke dalam penjara dengan jeratan hukum keamanan nasional Korea.

Berbagai pemaparan dari berbagai perspektif dalam buku ini mengingatkan kita bahwa tidak ada budaya instant dalam segala hal, termasuk kehidupan beragama. Fenomena kekristenan di Korea bisa menjadi inspirasi sekaligus kritisi bagi umat kristiani di Indonesia.

Menjadi inspirasi dalam artian fenomena ini bisa kita pelajari dan belajar darinya. Dan tak lupa kita juga harus belajar dari berbagai kritisi yang dialamatkan kepadanya. Kekristenan Korea yang bertumbuh sedemikian rupa banyak mendapat kritisi karena kurang mampu mengakomodasi budaya lokal, terlalu menonjolkan atribut kebaratannya. Permasalahan kontekstualisasi yang tampaknya sudah menjadi masalah klasik di negara-negara di luar Eropa dan Amerika.

Success story yang harus kita apresiasi adalah karakter kuat kekristenan bukan hanya dalam masalah teologi, tapi juga peran mereka dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Momentum yang paling vital adalah ketika kekristenan menjadi salah satu penggerak utama gerakan nasionalisme Korea melawan imperialisme bangsa lain. Gereja masa perjuangan kemerdekaan Korea bukan saja tempat beribadah,tapi juga menjadi sentral politik praktis, serta bermunculannya wacana pembangunan demokrasi versi mereka sendiri. Gerakan inilah yang kemudian dicatat sejarah sebagai “Christian-Nationalist Movement”. Dari masa ini, muncullah figur kristiani yang juga menjadi pemimpin gerakan kemerdekaan Korea, Ahn Changho (1878-1938).

Dalam segi pembangunan teologis, munculnya teologi kontekstual, minjung sinhak (teologi rakyat) pada pertengahan 1970-an banyak mendapat inspirasi dari teologi pembebasan.Inilah keberhasilan mereka dalam menerjemahkan Firman Tuhan secara kontekstual dan menempatkan teologi sebagai basis inspirasi melawan penindasan dan kemiskinan masyarakat Korea saat itu. Ini adalah buah dari disseminasi kekristenan yang berkarakter lokal dan tumbuh sebelum “ekspansi” misionaris asing. Teologi minjung sendiri tumbuh berkembang dan diorganisir oleh berbagai gerakan sosial kekristenan yang peduli terhadap berbagai praktik sosial-politik yang tidak pro-rakyat di bawah pemerintahan rezim developmentalisme Presiden Park Chung-hee.

Berkaca dari pengalaman Korea, titik awal pentingnya adalah bertanya: apa sumbangsih kekristenan dalam pembentukan bangsa dan negara ini? Kemudian apakah peran itu masih ada sekarang? Dan apakah kekristenan Indonesia memang punya karakter kuat dalam menghadapi pusaran globalisasi dan modernisasi sekarang?

Judul           : Christianity in Korea
Editor          : Robert E. Buswell Jr. & Timothy S. Lee
Penerbit     : University of Hawai’i Press (2006)
Halaman    : viii + 408

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: