“Pale Blue Dot” dan Carl Sagan

carl-sagan_large

Tidak ada bacaan yang lebih menginspirasi manusia tentang planetnya selain “Pale Blue Dot: A Vision of the Human Future in Space” (1994) karya mendiang Carl Sagan (9 November 1934-20 Desember 1996), seorang pengkaji astronomi yang selalu tampil flamboyan dan penuh imajinasi. Inilah buku klasik astronomi yang berdiri di tengah-tengah perdebatan statusnya sebagai buku ilmiah atau fiksi ilmiah.

Pale Blue Dot adalah narasi ilmiah dengan bahasa pop berbalut kata-kata filosofis yang membawa pembacanya ke status kosmopolit sebagai penhuni planet bumi. Tidak ada lagi status sosial, nasionalisme, fanatisme agama, maupun kekayaan, karena inilah yang bisa dilihat dari kerdilnya planet bumi dibandingkan alam semesta, hanya sebuah titik biru yang pucat (pale blue dot).  Setidaknya itulah persepsi yang muncul tatkala melihat potret bumi yang diambil Voyager I di jarak enam milyar kilometer dari bumi.

Pale Blue Dot memang tidak sefenomenal buku “Cosmos”, yang konon dibaca lebih dari setengah milyar manusia, tapi sebagai sebuah karya manusia tentang planetnya, buku ini lebih menjanjikan. Bukan hanya hubungan dialektik manusia dan pemikiran tentang planetnya, tapi juga mengajak pembaca meraba-raba, apakah dunia ini memang diciptakan untuk manusia..?

Ihwal perseteruan manusia memandang planetnya memang tak pernah lepas dari perasaan superioritas ini, setidaknya sampai dua abad yang lalu. Pandangan geosentris yang menempatkan bumi sebagai pusat tata surya yang terletak “di tengah-tengah surga” berpadu dengan asumsi teologis dan menjadi panutan tersendiri bagi tokoh-tokoh klasik seperti Plato, Aristoteles, Augustinus, dan Thomas Aquinas.

Pandangan naïf ini akhirnya runtuh ketika bukti-bukti yang mereka ajukan terbantahkan. Kesombongan superioritas manusia dipertanyakan. Reputasi institusi agama dalam menerjemahkan kata-kata Tuhan tercoreng begitu saja. Dan ini diawali ketika Galileo mengarahkan teleskop pertamanya ke Jupiter, dilanjutkan Copernicus yang membuktikan Merkurius dan Venus tidak mengitari kita (bumi), tapi mengorbit matahari.

Peristiwa yang meminjam konsepsi Thomas Samuel Kuhn sebagai sebuah pergeseran paradigma ini memancing lagi pertanyaan: apakah bumi merupakan satu-satunya planet yang ideal untuk kehidupan? Apakah kehidupan hanya ada di planet ini? Sayang sekali jika kita melewatkan untuk menjawab pertanyaan ini, tapi tentu saja bukan pekerjaan satu atau dua generasi untuk menjawabnya.

Dan kapasitas Carl Sagan sebagai seorang pemikir visioner terbukti ketika mengajukan lagi pertanyaan usil: bagaimana masa depan umat manusia? Alam semesta pasti berevolusi dan planet bumi juga pasti musnah (dengan sendirinya atau kita sendiri yang menghancurkan secara perlahan), paling tidak lima milyar tahun lagi.

Apakah dari pertanyaan ini secara tidak langsung Carl Sagan, yang memperoleh penghargaan NASA Distinguished Public Service Medal ini, menganjurkan migrasi manusia (jika memang masih bisa survive) ke planet lain? Mungkin saja jika kita menyimak bab pertama buku ini yang berkisah tentang manusia sebagai petualang (wanderers).

Migrasi klasik sering terjadi di masa purba ketika batas-batas nasionalisme, negara, kedaulatan masih belum tercipta. Hanya alam yang membatasi pergerakan ini secara alamiah. Semua makhluk hidup bisa berpindah demi kelangsungan hidupnya. Ini yang terjadi pada zaman es terakhir sekitar 11.500 tahun yang lalu. Apakah kisah ini menjadi suatu inspirasi tersendiri bagi “migrasi” kita selanjutnya..? Pertanyaan yang masih sulit untuk dijawab sekarang.

Sekali lagi Pale Blue Dot, yang juga mendapat banyak inspirasi dari Ann Druyan, istri ketiga Carl Sagan,  memang tidak dimaksudkan sebagai sebuah ensiklopedi, atau sebuah tafsir filosofis, tapi membawa misi bahwa manusia harus mempunyai pemahaman baru (new recognition) tentang bumi, planet yang kita tinggali ini. Refleksi sekaligus visi yang baru dari masa depan umat manusia di alam semesta ini.

Inilah perbincangan sekaligus refleksi yang kita lakukan sebagai penghuni sebuah planet yang hanya setitik iota di alam semesta ini. Dan untuk itulah Carl Sagan, seorang agnostik, atheis-humanis, dan pemikir bebas, hadir dengan membawa pemahaman baru, bahwa mungkin di kosmos ini kita tidaklah sepenting yang kita duga. Tapi kata-kata Carl Sagan  inilah yang membesarkan hati kita:

But for us, it’s different. Look again at that dot. That’s here. That’s home. That’s us. On it everyone you love, everyone you know, everyone you ever heard of, every human being who ever was, lived out their lives. The aggregate of our joy and suffering, thousands of confident religions, ideologies, and economic doctrines, every hunter and foreger, every hero and coward, every creator and destroyer of civilization, ever king and peasant, every young couple in love, every moth and father,hopeful child, inventor and explorer, every teacher of morals, every corrupt politician, every “superstar”, every “supreme leader”, every saint and sinner in the history of our species lived there-on a mote of dust suspended in a sunbeam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: