Musik Bagi Adorno

adorno

Musik sebagai sebuah seni bisa dikatakan puncak agregasi daya kreasi, nalar, dan inspirasi manusia atau masyarakat. Musik sebagai sebuah kebudayaan menyiratkan semgat peradaban yang dibangun saat itu. Tapi seni sebagai sebuah komoditas adalah sebuah malapetaka, setidaknya bagi Theodor Ludwig Wiesengrund Adorno, seorang pemikir Mazhab Frankfurt.

Adorno merupakan akademisi yang cukup unik, jika dilihat dari kajian studinya. Mulai dari kajian budaya, kritik sastra, politik kontemporer, sosiologi masyarakat modern, sampai musik (expert) merupakan spektrum pemikiran filsuf kelahiran tahun 1903 di Frankfurt ini. Khusus mengenai musik, ada beberapa karya Adorno yang patut disebut di sini, diantaranya adalah Philosophie der neuen Musik (1949) dan Einleitung zur Musiksoziologie (1962).

Berlatarbelakang keluarga menengah yang cukup dekat dengan kesenian, terutama musik, mempengaruhi minat Adorno pada seni ini. Bukannya sebagai praktisi, tapi guratan  nasib menentukan Adorno lebih terkenal akan karya-karya sosiologis dan filsafat yang mendalam tentang musik. Seperti para pemikir jenius Jerman lainnya, Adorno juga keturunan Yahudi.  Mungkin motivasi untuk mengurangi “keyahudiannya” ini yang membuat Adorno tidak menggunakan nama tengahnya, Wiesengrund, yang bernuansa Yahudi saat bergabung dengan Institut of Social Research tahun 1938.

Latar belakang pemikiran Adorno bertolak dari kekecewaan terhadap modernitas, yang selalu menjadi tema sentral frankfurters, dan perkelahian dengan positivisme lingkaran Wina.  Khusus masalah musik, Adorno sangat gandrung terhadap seni-seni yang diciptakan Schonberg, Webern, serta para avant-garde. Adorno melihat aliran-aliran ini yang mampu menghantam homogenisasi seni yang menisbikan unsur-unsur nilai seni menjadi nilai tukar belaka akibat logika pasar.

Harapan akan kemurnian subyektifitas musik ini yang tercermin dari keberpihakan Adorno terhadap seni dan filsafat tinggi. Seperti yang kita ketahui, pemikiran barat cenderung terdikotomi dalam melihat ranah seni dan budaya, ada high culture yang identik dengan citarasa tinggi, ekslusif, klasik, dan bernuansa ningrat, dan satunya adalah low culture yang sekarang punya padanan kata menarik: kebudayaan pop/kebudayaan massa. Sikap Adorno ini nantinya yang akan menimbulkan perdebatan sendiri dengan para pengkritiknya yang mengajukan premis bahwa low culture juga bisa melawan logika pasar.

Singkat kata, Adorno memperlihatkan kepada kita bahwa tidak ada area yang luput dari patologi modernitas, termasuk seni dan budaya, khususnya musik. Musik bukan urusan pribadi karena mengalami reifikasi sekaligus meleburkan kedudukan (beberapa)elemen seni kea rah kebudayaan massa. Apakaha nantinya kita harus lari dibelakang tirai ekslusivitas dan transedensi high culture, atau menerima

Bagaimana jika Adorno melihat perkembangan musik di Indonesia sekarang.  Ah.., mungkin dia akan bilang bahwa musik sebagai sebuah kebudayaan massa (pop) memang benar, apalagi jika menyinggung komodifikasi musik.., mungkin inilah tingkatan yang paling tinggi, par excellence.

Yang disebut musik di republik ini sekarang adalah apa yang muncul di media massa. Bukan sembarangan media massa, tapi media massa terutama televisi yang punya legitimasi sebagai penentu trend, terutama bagi anak muda, aktor penting dalam pasar karena mempunyai desiring machine yang terus direproduksi.

Kita tidak meragukan talenta yang diberikan Tuhan kepada sejumlah seniman musik Indonesia yang mampu menciptakan irama-irama berkualitas dengan syair mendalam. Tapi komodifikasi tidak memutlakkan unsur ini, apapun yang bisa mendulang popularitas dan mampu membangkitkan gairah pasar itulah yang menjadi absolut.

Konsekuensi berikutnya musik sebagai sebuah nilai tukar adalah memoles musik sebagai sebuah kesempurnaan. Baik dari segi instrumen, nada, vokal, sampai unsur pendukung  seperti audiens dan penari latar. Celakanya ini malah mengaburkan segi “kekurangan” yang merupakan bagian dari budaya itu sendiri. Akibatnya banalitas yang merajalela. Suara semakin sempurna dengan bantuan efek khusus, vocal pun bisa dibantu dengan lipsync. Mungkin ini yang disebut Jean Baudrillard sebagai efek stereofonik, musik terasa sangat sempurna bagi telinga manusia sampai kita bertanya-tanya, apakah ini yang disebut musik?

Akibatnya, selera pasar terdistorsi dari unsur seni dan budaya. Pemahaman (selera) musik sebagai sebuah hirarki atas ke bawah seakan menemukan resonansi sempurnanya di sini. Hubungan reifikasi yang memunculkan peran produsen-konsumen berlangsung nyaris tanpa cacat. Masyarakat bukan lagi penikmat musik, tapi buruh yang dieksploitasi sedemikian rupa dengan instrumen kebudayaan massa. Dan apa yang disebut Adorno sebagai homogenisasi, terutama dalam (komersialisasi) seni dianggap menjadi suatu keniscayaan oleh masyarakat.

Jika mengaitkan musik dengan persoalan klasifikasi budaya massa atau elit dalam konteks Indonesia, mungkin mengalami banyak persoalan. Umar Kayam dalam tulisannya di “Lifestyle Ecstasy: Kebudayaan Pop dalam Masyarakat Komoditas Indonesia” (2004), melihat dikotomi kebudayaan elit dan massa lebih cair, bahkan pada masyarakat urban sekalipun. Resistensi terhadap budaya massa dari high culture pun tampak kurang bertenaga dan cenderung eksklusif. Di sisi lain, idealisme para seniman musik pun akan habis juga jika tidak mendapat sokongan dan sinergi pihak lain.

Mungkin secara metodologis, pendekatan fenomenologis Husserl dirindukan di sini untuk menguak patologi ini. Yang diperlukan sekarang adalah bagaimana menemukan kembali “music” sebagai sesuatu yang esensial, bukan artifisal. Peran yang mungkin secara khusus patut kita harapkan dari music-musik aliran alternativ dan indie yang punya legitimasi budaya massa bersaing dengan aliran mainstream. Disini pula kita mengidealkan peran filsafat sebagai apa yang disebut Adorno : ”dialektika negatif”, elemen vital yang mengisi sekaligus menghantam relung-relung ketidaksadaran masyarakat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: