Kesadaran terhadap Liyan bagi Levinas

levinas

Emmanuel Levinas (1906-1995) menjadi salah satu ikon fenomenologi sekaligus menjadi penggerak gerbong post-strukturalisme Prancis. Sangat dipengaruhi oleh kajian-kajian fenomenologi Husserl, dan tentunya fenomenologi bercorak ontologis a la Heidegger, Levinas ternyata mampu menciptakan fenomenologi yang berbeda dengan kedua tokoh di atas.

Sebagai seorang Yahudi yang hidup di episentrum politik Eropa, dan pernah menjadi saksi hidup holocaust, peristiwa ini ternyata menjadi salah satu titik tolak pemikiran Levinas. Karena itu orang sulit untuk membedakan karya-karyanya sebagai sebuah karya filosofis atau religios. Ada beberapa individu yang mempengaruhi filosofi Levinas, selain Husserl, sang dewa fenomenologi, di Prancis Levinas banyak mendapat bimbingan dari Charles Blondel dan Maurice Pradines.

K. Bertens (2006) menyebut bahwa pengaruh agama Yahudi, pemikiran filosofis barat dan fenomenologis inilah yang kemudian menjadi corak pemikiran filosofis Levinas. Reputasi sebagai pembawa fenomenologi ke ranah Prancis, terutama melalui disertasi “La theorie de l’instuition dans la phenomenology de Husser”l (Teori tentang Intuisi dalam Fenomenologi Husserl/1930) dan bukunya “En decouvrant l’existence avec Husserl et et Heidegger” (Menemukan Eksistensi bersama Husserl dan Heidegger/1967), membawa Levinas untuk masuk ke dalam kajian-kajian kesadaran, eksistensi, dan tentu saja mengenai apa yang lain (the other). Ketiganya nanti mendapat legitimasi kuat dari Levinas sehingga berkorelasi satu sama lain secara holistik.

Di sini kita akan mulai menemukan pemikiran-pemikiran murni dari Levinas. Seperti tadi disebutkan, pengaruh filosofi barat, bertemu fenomenologi, dan khususnya, sebagai seorang Yahudi yang taat, Levinas sangat menghayati kepercayaannya. Mendalami teologi Yahudi bukan sesuatu yang asing bagi Levinas mengingat sejak kecil orangtuanya mengajarkan bahasa Ibrani dan Rusia kepadanya yang saat itu masih tinggal di Lithuania dengan harapan memperoleh masa depan yang lebih baik. Selain giat mempelajari Talmud dan bacaan-bacaan Yahudi lain, secara khusus Levinas juga sangat terkesan terhadap dua pemikir agama Yahudi: Martin Buber dan Franz Rosenzweig, dua tokoh pembaharu dalam Yudaisme.

Dan kita ingat Levinas ikut menjadi saksi hidup holocaust, atau pembantaian umat Yahudi, serta dinamika peran Yudaisme yang jatuh bangun terguncang peristiwa tersebut. Ini pula yang mengundang minat Levinas mendalami masa-masa krusial dinamika sebuah agama yang berusaha menuntun identitas umatnya kembali. Levinas sendiri merujuk kepada ayat Alkitab Yesaya 53 tentang  “Hamba Tuhan yang Menderita”. Masa-masa inilah krisis terbesar bagi Yudaisme, seperti yang diungkapkan Karen Armstrong dalam “History of God” bahwa “Tuhan orang Yahudi telah mati” di kamp Autscwithz, Dan zionisme sebagai sebuah gerakan politik kemudian merebut peran dan orientasi bangsa Yahudi setelah itu.

Menyoroti eksistensi, Levinas memulainya dengan memakai konsep-konsep fenomenologi: intensionalitas. Fenomenologi meminjam definisi Donny Gahral Adian (2005), adalah ilmu tentang esensi-esensi kesadaran dan esensi ideal dari obyek-obyek sebagai korelat kesadaran. Inti fenomenologi bagi Levinas adalah intensionalitas kesadaran. Kesadaran kita selalu mengarah dan menuju kepada sesuatu, yaitu intensionalitas. Kesadaran yang transendental a la Husserl ternyata tidak disepakati oleh Levinas yang justru lebih setuju bentuk yang lebih ontologis sesuai dengan pemikiran Martin Heidegger.

Menariknya lagi, Levinas yang meninggal pada Natal tahun 1995 ini  tidak berhenti pada sisi konseptual kesadaran itu saja, tapi juga melangkah ke ranah yang menjadi spesialisasi para filsuf psikoanalisis: liyan atau “the other”. Karya Levinas pada tahun 1961 berjudul Totalite et infini, Essai sur l’exteriorite (Totalitas dan Tak Berhingga, Esei tentang Eksteriorits) menjadi rujukan utama bagi kita untuk mendalami sang liyan bagi Levinas. Dalam buku ini Levinas mengkritik keras konsep totalitas yang cenderung egoistik. Levinas menyebutnya sebagai la philophie du Meme (the philosophy of the same).

Bagi Levinas, totalitas itu akan runtuh jika bertemu dengan sesuatu yang benar-benar lain, bukan termasuk totalitas egoistik itu, dan benar-benar sesuatu yang bukan aku. Yang dimaksud tentu saja adalah yang liyan atau the other atau Autrui. Inilah yang kemudian lebih dikonkritkan Levinas dalam konsepnya: wajah (visage). Dasar yang membedakan sang liyan Levinas dengan yang lain adalah bahwa sang liyan itu benar-benar bukan alter ego kita, bukan aku yang lain, tapi totally different. Dan relasi yang terjadi antara aku dan liyan bukan sesuatu yang timbal balik (resiprositas), tapi sesuatu yang asimetris. Mungkin ini mengingatkan kita tentang bagaimana Jacques Lacan memaknai cinta yang berarti memberi kepada orang lain apa yang tidak dipunyainya (Love is giving something one doesn’t have…). Universalitas other inilah yang nantinya dikritik oleh Sloterdijk, seperti yang diungkapkan oleh Slavoj Zizek dalam bukunya “Violence” (2008), bahwa ada liyan yang tidak diperhitungkan (imponderable other) yang tidak menerima prasyarat universalitas tersebut, liyan yang benar-benar musuh bagi kita.

Bila kita menelusuri lebih dalam sang wajah liyan tadi, maka kita akan bertemu pondasi-pondasi religius bernuansa humanis a la Levinas. Perjumpaan antara sang aku dan liyan dengan memakai instrumen bahasa yang etis akan membawa manusia kepada yang lain tapi berdimensi ilahi, yaitu Tuhan. Dalam bahasa yang lebih sederhana, perlakuan kita kepada yang liyan atau sesama (neighbour), juga menyiratkan relasi yang sama kepada Tuhan kita.

Konsepsi-konsepsi di atas menuntun kita pada kesimpulan Levinas bahwa kesadaran tidak timbul karena begitu mendalam intensitas egoistik kita, bukan karena intuisi yang muncul dari dalam diri kita yang mengakibatkan seorang anak manusia mengalami state of mind bernama kesadaran (consciousness). Tapi perjumpaannya dengan ‘wajah’ yang lain, dengan orang lain yang benar-benar berbeda dengan kita itu yang menimbulkan kesadaran, tapi bukan cogito(la conscience theorique) seperti yang diklaim Rene Descartes yang bernuansa egoistik, melainkan kesadaran yang bermoral (la conscience morale). Iya, moralitas dan hati nurani, itulah yang menjadi dasar utama filsafat bagi Emmanuel Levinas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: