Mendamaikan Agen dan (atau) Struktur

struktur

Mengatasi problematika hubungan antara agen dan struktur dalam ilmu sosial adalah proyek yang sangat ambisius, sekaligus mungkin prestisius. Dalam skala yang berbeda mungkin bisa disamakan dengan upaya ilmu biologi dalam memetakan struktur genetik manusia, atau upaya ilmu fisika dalam menentukan struktur dasar pembentuk semua materi di dunia ini.

Agen secara sederhana bisa kita pahami sebagai individu maupun kelompok terorganisir, organisasi, dan bangsa (Burns, 1986). Sementara struktur merujuk ke tingkat makro, yaitu sistem sosial berskala besar.

Masalah agen dan struktur sebenarnya tidak terlalu dipermasalahkan pada masa klasik. Terbukti upaya mengatasi ’keributan kecil’ ini muncul pada abad modern. Keributan mulai membesar tatkala jarak antara agen dan struktur bukan hanya menjauh, tapi sudah menegasikan satu sama lain. Tapi beda bila kita tanya pada pemerhati masalah ini. Hubungan antara agen dan struktur merupakan tema utama dalam ilmu-ilmu sosial. Margaret Archer menegaskan bahwa masalah agen dan struktur adalah masalah fundamental dalam sosiologi modern.

Bila kita absen siapa saja yang berorientasi agen atau individu, maka muncullah nama teori interaksionisme simbolik. Sedangkan yang memuja peran struktur adalah pendekatan fungsionalisme struktural, Marxisme, dan teori ’berbau’ sistem yang cukup banyak variannya.

Ada beberapa tokoh yang harus kita beri apresiasi di sini dengan dedikasi mereka mengatasi dikotomi agen-struktur. Berdasarkan buku “Teori Sosiologi Modern” dari George Ritzer dan Douglas Goodman, mereka diantaranya adalah Anthony Giddens, Margareth Archer, dan Pierre Bourdieu. Kita akan membahas pemikiran mereka satu-persatu.

Anthony Giddens, sang pangeran modernisme, mungkin paling terkenal dalam ambisinya untuk mengintegrasikan agen-struktur dalam kerangka besar teori strukturasi (structuration theory). Bangunan mewah yang dibangunnya, teori strukturasi, memerlukan imajinasi dan fantasi lebih untuk memahaminya. Dengan meramu berbagai masukan teoritis, Giddens mencoba merubah kontradiksi menjadi suatu resonansi yang tak terpisahkan antara agen dan struktur.

Kata kunci untuk memahami teori strukturasi adalah ’praktik sosial yang berulang dalam konteks ruang dan waktu’. Inilah landasan utama untuk mengatasi pertentangan agen vs struktur. Praktik atau yang lebih konkrit disebut sebagai aktivitas manusia dalam konteks ruang dan waktu tertentu inilah yang memunculkan struktur itu sendiri. Lalu dimana posisi struktur sosial yang seharusnya mengatur tindakan agen tersebut? Praktik sosial yang diciptakan berulang-ulang itulah yang memunculkan struktur sosial. Jadi posisi struktur di sini bukan suatu hal yang mendeterminasi tindakan individu, tapi merupakan hasil dari tindakan individu tersebut secara berulang-ulang.

Keagenan (agency) dalam konsepsi Giddens merupakan peran sosial individu tersebut, bukan tujuan yang harus dilakukan sebagai akibat struktur (teori sistem!). Jadi jelas sistem bukan penguasa atas tindakan individu. Struktur sosial tidak akan terjadi apabila agen juga tidak melakukan praktik sosialnya. Karena itu sistem sosial didefinisikan Giddens sebagai praktik sosial atau hubungan yang direproduksi antara aktor dan kolektivitas yang diorganisir. Premis Giddens ini yang sering dirujuk para penempuh jalan tengah globalisasi, yang tumbuh benih imannya tatkala membaca literatur Giddens bahwa agen punya peran dalam arus globalisasi ini.

Pemikiran Margareth Archer mengenai agen-struktur bisa dikatakan merupakan salah satu kritik terhadap Teori Strukturasi Giddens. Archer (1988) memperkenalkan konsep yang mungkin asing bagi kita, konsep ”morphogenesis”. Secara konseptual, morphogenis menyiratkan perubahan, sedangkan lawannya, morphostatis menyiratkan suatu keadaan statis.

Archer secara gamblang menyatakan ketidaksukaannya terhadap dualitas Giddens yang menyebabkan kaburnya peluang mengamati secara komprehensif bagaimana agen dan struktur saling mempengaruhi. Seakan-akan ada unsur yang hilang dari analisis konvensional mengenai agen-struktur. Dan bagian yang hilang itulah yang kemudian dimunculkan dalam konsep hubungan agen dan kultur untuk lebih memperlihatkan aspek kontekstualitasnya walaupun akhirnya juga tak luput dari berbagai kritik.

Kultur menjadi kata kunci bagi hubungan agen-kultur a la Archer. Inilah konsep yang dinamis dan secara implisit menyebutkan bahwa ini adalah faktor inheren dari relasi agen-struktur. Interaksi dan tindakan agen memunculkan struktur yang juga bereaksi dan berubah seiring tindakan dan interaksi para agennya. Dan perubahan itu senantiasa akan menciptakan perluasan struktural.

Pierre-Felix Bourdieu (meninggal pada 23 Januari 2002) merupakan ilmuwan sosial yang cukup komplit labelnya. Mulai sosiolog, antropolog, post-strukturalis, sampai post-modernisme. Cukup beralasan jika Bourdieu menggeluti masalah agen-struktur ini mengingat kegandrungannya pada masalah masyarakat dengan setiap dinamika interaksi dan struktur obyektif-subyektifnya. Realitas sosial inilah yang memaksa Bourdieu untuk melangkahi pertentangan agen-struktur karena sudah tidak memadai lagi digunakan sebagai alat analisis masyarakat.

Kata kunci dalam memutus ketidaklinearan agen dan struktur bagi Bourdieu adalah konsep ”habitus” dan ”ranah” (field). Dua konsep inilah yang nantinya menggantikan konsep ’agen’ dan ’struktur’ yang sudah usang karena sangat kompleksnya realitas sosial. Habitus merupakan semacam struktur ketidaksadaran dari individu-individu dan menciptakan suatu norma atau tatanan tingkah laku dalam konteks kelas-kelas dalam masyarakat. Kelas? Iya, kelas sosial memang masih populer dalam khazanah filsafat Prancis, terutama bagi Bourdieu. Dan habitus inilah yang berfungsi sebagai pembeda karena melalui habitus tercipta suatu skema yang membentuk praktik sosial tertentu yang mencerminkan kelasnya. Karena itulah Bourdieu juga mendefiniskan habitus sebagai rasa tentang kedudukan seseorang sebagai konsekuansi proses diferensiasi sosial.

Field (diterjemahkan juga sebagai ranah atau medan atau lingkungan) punya konotasi yang agak seram dalam pemikiran Bourdieu. Ranah tidak hanya merujuk kepada suatu keterangan tempat, tapi tempat dimana proses habitus terjadi. Ranah adalah lingkungan perjuangan. Di ranah inilah berbagai modalitas utama yang dikemukakan Bourdieu, ekonomi, kultur, sosial, simbolik; saling berkompetisi. Dan sejauh mana agen berperan akan ditentukan oleh kuantitas serta kualitas modalitas yang mereka punyai.

Secara umum, ketiga pemikiran ini berusaha merekonstruksi hubungan agen-struktur yang telah mati suri. Metode-metode yang dipergunakan menekankan karakteristik menghindari kontradiksi maupun dikotomi antara agen melawan struktur. Strategi Giddens dalam merekonstruksi pengertian agen dan struktur mencapai keseimbangannya dalam teori strukturasi dan menghasilkan konsep baru yang menekankan pada praktik sosial. Praktik sosial tampaknya juga menjadi salah satu kata kunci dari Bourdieu. Dengan cukup radikal, Bourdieu berani mengartikulasikan ketidakpercayaannya terhadap konsep lama ‘agen’ dan ‘struktur’ dan diganti konsep habitus dan ranah dengan aspek diskursif yang cukup dominan. Sedangkan Archer membangkitkan kembali aspek kultural dan menyelipkannya dalam pertentangan agen dan struktur.

Selalu muncul dukungan sekaligus kritik terhadap proyek keilmuan ini. Kritik yang paling sering diungkapkan adalah mengenai proyek pendamaian struktur-agen yang dipandang insignifikansinya dalam pengembangan ilmu sosial itu sendiri. Ilmu sosial lebih membutuhkan teori yang bersifat antitesis daripada suatu sintesis (Craib, 1992). Inilah dinamika sekaligus pertarungan yang secara tidak langsung mengkatalisator perkembangan ilmu sosial.

Mungkin benar apa yang diungkapkan Sztompka (1991) bahwa analisis terhadap relasi agen-struktur lebih berkaitan erat dengan analisis historis-dinamis, dan karena itu semoga para pendebat ini tidak terjebak dalam kepompong waktu, karena perdebatan utama bukanlah siapa yang kalah-menang, tapi bagaimana merumuskan suatu konseptual yang dinamis dalam mengoptimasi baik struktur maupun agen. Optimasi struktur bagi agen adalah bagaimana membuka transparansi struktur yang menjamin partisipasi agen dalam tingkatan tertentu. Sehingga struktur bukanlah suatu tembok penjara bagi seorang narapidana. Sedangkan optimasi agen bagi struktur mensyaratkan rasionalisasi pemikiran agen sedemikian rupa sehingga tercipta suatu rasionalitas sistem yang tidak akan melampaui batas rasionalisasi pemikiran agen tersebut. Di sini jelas agensi bukanlah suatu konsep totalitarianisme, tapi rasionalitas kolektif untuk menciptakan suatu sistem yang lebih humanis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: