Hannah Arendt dan Antisemitisme

hannah_arendt_ap_img

Tak salah bila Hannah Arendt (lahir di Hannover tahun 1906) menyebut antisemitisme sebagai mitos terbesar bangsa Eropa. Gelombang kebencian tak masuk akal dan berbagai prasangka terhadap kaum Yahudi (Jews) selalu memenuhi setiap narasi dilengkapi dengan berbagai kesalahpahaman yang mengaburkan kebenaran sejati. Kebenaran memang lebih mudah timbul dari kesalahan, daripada sebuah kekacauan.

Mengikuti narasi yang dibangun Arendt tentang antisemitisme dalam bukunya “The Origin of Totalitarianism” (1951), kita dibawa untuk menurunkan ke bumi segala superioritas yang menjadi mitos dari bangsa Yahudi. Pendekatan kultural dan struktural menyingkap tabir patologi pikiran masyarakat Eropa (dan dunia) tentang apa dan bagaimana sebenarnya kiprah bangsa Yahudi.

Dalam pemahaman yang sederhana, tetapi eternal, antisemitisme merupakan kebencian terhadap kaum (kata kaum mungkin lebih netral daripada bangsa, suku, ras atau kelompok) Yahudi, di belahan dunia manapun, di sepanjang jaman. Antisemitisme modern, dalam pengertian yang timbul di Eropa disebut lebih bersifat politis daripada ekonomis. Bukan rahasia jika salah satu kebencian timbul karena orang Yahudi yang mengisi kelas menengah di negara-negara Eropa merupakan penghambat utama kapitalisme dengan sistem konsumsi mereka yang tidak terpusat serta lemahnya sistem produksi.

Kaum Yahudi dengan segala keistimewaanya secara budaya agama (Samawi) merupakan fenomena tersendiri dalam dunia internasional. Keberadaan mereka yang terdiaspora ke berbagai belahan dunia, terutama Eropa, menciptakan perdebatan sendiri tentang status mereka secara sosial-politik. Di Eropa sendiri, kaum Yahudi saat itu bisa didefinisikan sebagai individu yang tidak memiliki kewarganegaraan setempat (salah satu contohnya adalah Albert Einstein yang membeli kewarganegaraan Swiss meskipun tinggal lama di Jerman). Dan kebingungan paling utama adalah “kelas” apa mereka dalam struktur Eropa saat itu. Konsekuensinya, kaum Yahudi berstatus sebagai kaum paria dan sangat rentan untuk diperlakukan sewenang-wenang.

Fakta yang diungkap Arendt adalah hubungan dengan kaum bangsawan Eropa yang menjadi satu-satunya relasi yang pernah dibangun kaum Yahudi dalam struktur masyarakat. Dari karakteristik budaya, memang bangsa Yahudi sangat kuat berakar pada budaya leluhur dengan kepercayaan yang menjadi salah satu bagian tak terpisahkan dari mereka, Yudaisme. Ini yang tak akan hilang sepanjang jaman dimanapun mereka berada. Dan merekapun tidak mempunyai pemahaman yang kuat tentang struktur kekuasaan, karena itu kepentingan mereka ketika bersentuhan dengan kekuasaan adalah sekadar melancarkan tekanan politik lemah dengan tujuan untuk melindungi diri dan kelompok, tak lebih dari itu. Suatu kepolosan yang disebut Arendt tak pernah dipahami oleh sejarawan maupun negarawan non-yahudi. Ironisnya sampai sekarang kaum Yahudi sangat dipuja secara individu, tapi sangat dibenci sebagai sebuah bangsa. Suatu standard ganda yang lazim dipraktikkan, bahkan sampai sekarang.

Tapi fakta-fakta di atas tak melunturkan anti-semitisme sebagai sebuah mitos. Dan puncaknya seperti yang kita ketahui adalah pembantaian jutaan kaum Yahudi di Auschwitz. Kebencian Hitler terhadap kaum Yahudi yang dituduh melemahkan bangsa Jerman tentu saja sama sekali tidak relevan. Sama tidak relevannya dengan tuduhan terhadap kaum Yahudi pertengahan abad ke-14 bahwa mereka yang menyebabkan “black death” di Eropa.

Inilah interpretasi fakta yang dibawa oleh Arendt menyingkapi mitos Antisemitisme. Kemudian apakah pemikiran-pemikiran ini relevan untuk dibawa ke tanah air tercinta Indonesia..? Dari segi substansi isu adalah sangat relevan sekali memperbincangkan antisemitisme, meskipun terminologi ini sangat tidak populer sekali dibanding “zionisme”, “anti-yahudi”, maupun “konspirasi yahudi”, apalagi dibalut dengan pemikiran-pemikiran konspirasi melawan kaum muslim. Tak jarang pula ayat-ayat suci dipakai sebagai pengobar semangat (kebencian).

Menjadi suatu keprihatinan tatkala gerakan-gerakan anti-yahudi di Indonesia selalu mereduksi pemahaman faktual tentang keberadaan kaum Yahudi apalagi jika dikaitkan dengan konflik Israel-Palestina yang jika kita memakai kacamata kuda akan terlihat seperti konflik Islam melawan Yahudi dan atau Kristen. Suatu produk dari benturan antar kebudayaan. Dan suatu pelecehan terhadap akal sehat jika ternyata pemahaman tentang Yahudi di masyarakat kita selalu terpotong-potong sesuai kepentingan yang dibangun pihak tertentu.

Tidak bermotif untuk membela kepentingan salah satu pihak yang bertikai, konflik Israel-Palestina merupakan puncak utama gunung es kebencian sebagian masyarakat kita terhadap kaum Yahudi. Kebencian yang seringkali tanpa alasan. Reaksioner dan emosional, tapi juga cepat padam karena tidak dibangun dengan struktur rasionalitas yang kuat.

Hal ini yang menarik jika kita menengok kembali ke masa lalu. Kebencian utama terhadap kaum Yahudi secara historis bisa dipahami menggunakan kerangka “benturan teologis” antara Yudaisme yang menyebut dirinya “the Chosen People” dan menolak keilahian Yesus serta persepsi Kristen bahwa Yahudi adalah “pembunuh Kristus”. Persepsi yang punya konsekuensi politis serta berakibat panjang.Steven Beller (2007) mengungkapkan upaya-upaya pembunuhan massal kaum Yahudi bermotif agama sudah ada sejak Perang Salib Pertama (1906), kemudian pertengahan abad ke-12 kaum Yahudi juga diburu karena dituduh membuat ritual pembunuhan anak-anak kristen, serta pertengahan abad ke-13 dimana kaum Yahudi juga dituduh menyiksa anak-anak kristen dengan mengambil darah mereka untuk ritual tertentu. Tuduhan semakin irasional dan berbau tahayul (superstitious) yang tak pernah berakhir sepanjang jaman. Pantas saja jika Beller kemudian menamainya sebagai “the Burden of the Past”. Apakah tuduhan-tuduhan mereka yang membenci Israel sebagai bangsa Yahudi juga berkarakter seperti itu? Semoga saja tidak.

Sebagai sebuah epilog, ada baiknya kita melihat antisemitisme dari episode-episode negatif yang mereka alami, setidaknya itu yang menjadi basis pemikiran Hannah Arendt dalam melihat anti-semitisme. Dan tidak ada hal yang lebih menarik dalam mempelajari antisemitisme jika tidak berangkat dari peristiwa Holocaust. Virus kebencian terhadap kaum Yahudi ini menyebar sangat cepat seperti pandemi di benua Eropa sepanjang 1930-an dan 1940-an. Kebencian masa lalu yang mudah tersulut oleh pemantik api yang basah sekalipun. Sebuah ideologi, atau lebih tepatnya delusi, yang menghalalkan darah kaum Yahudi membuahkan kematian massal di Jerman, Rusia, dan perlu diperhitungkan juga di tempat-tempat lain yang belum tercatat di buku sejarah.

Holocaust sebagai sebuah tragedi memberi isyarat bagi kita bahwa pembantaian massal umat manusia dijustifikasi dengan serangkaian alasan manipulatif (terutama pengkambinghitaman) yang digerakkan pemimpin fasis-totaliter serta menggunakan aparatus militer dan birokrasi negara. Cara yang efektif dan sistematis dalam membunuh umat manusia yang disindir Zygmunt Bauman (1989) sebagai sesuatu yang rasional dalam konteks modernitas.

Mungkin benar apa yang dikatakan Jean-Paul Sartre ketika melihat bahwa anti-semitisme bukan merupakan masalah Yahudi itu sendiri, not a Jewish problem, anti-semitisme adalah masalah bagi orang-orang non-Yahudi, problem for a non-Jews, jika ingin menuding siapa yang bersalah dan harus bertanggungjawab maka jangan menyalahkan kaum Yahudi, timpakanlah kepada non-Jews itu sendiri.

Apa yang dikatakan Sartre ini tentu cukup naif dan terlalu mereduksi kaum Yahudi sebagai korban yang tak berdosa dan pasif, tapi cukup beralasan dan lebih reflektif bagi kita semua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: