Silvio Berlusconi

berlusconi

Kisah Berlusconi sebagai seorang Perdana Menteri mendunia bukan karena kiprahnya di kancah internasional. Tapi karena warga negaranya sendiri yang bernama Massimo Tartaglia.

Hari Minggu bagi sebagian besar rakyat Italia merupakan hari sakral. Secara reguler di hari minggu itulah ada dua peristiwa penting yang tak boleh dilewatkan: ritual ke gereja dan ritual sepakbola. Tapi bagi Silvio Berlusconi, sang pemilik klub sepakbola legendaris Italia, AC Milan, bukan gereja atau sepakbola yang membuatnya menjadi headline koran-koran besar seantero jagat.

Massimo Tartaglia, yang punya rekam jejak medis menderita gangguan jiwa selama 10 tahun, tiba-tiba saja mendekat dan melemparkan patung replika Katedral Duomo ke wajah sang perdana menteri. Akibatnya sang perdana menteri mengalami retak di hidung, kehilangan dua gigi, dan bibirnya robek. Natal dan Tahun Baru harus dilewatkan di vila pribadinya sambil menahan rasa sakit.

Perbuatan Tartaglia ini tentu perbuatan masuk dalam kategori tolol, atau yang disebut orang Italia sebagai fallo stupido. Tapi minimal Tartaglia memberi contoh bagi kita, bahwa yang dilakukannya adalah sesuatu kewajaran, suatu hal yang harus dilakukan orang waras. Mungkin suatu tanda-tanda langit ketika ada rakyat menimpuk rajanya yang lalim. Tak heran ketika ada group di facebook yang menyatakan dukungan kepada (perbuatan) Tartaglia, yang bergabung dalam hitungan jam sudah mencapai 60 ribu orang.

Ada beberapa preseden menarik sebelum peristiwa seorang gila yang menghajar perdana menterinya sendiri. Yang pertama adalah skandal seksual Berlusconi dan tuduhan keterlibatannya dalam jaringan mafia dan korupsi. Koalisi kanan tengah yang dipimpinnya juga terancam pecah mengingat perseteruan yang terus dibuat Berlusconi.

Skandal seks dan wanita juga membuat perkawinannya di ujung tanduk. Istrinya, Veronica Lario, memuncak kemarahannya dan mengajukan gugatan cerai ke pengadilan dengan meminta kompensasi sebesar 43 juta euro setelah Berlusconi menghadiri pesta ulang tahun ke-18 seorang remaja cantik, Naoemi Letizia, di Napoli. Napoli sebuah kota indah di Italia Selatan yang ironisnya terpampang poster Lario dengan pakaian dalam seksi di pusat kotanya.

Tapi peristiwa ini juga blessing in disguise bagi Berlusconi yang terus menurun populasinya karena berbagai skandal seksual dan keterlibatannya dalam jaringan mafia. Jajak pendapat oleh stasiun televisi RAI memperlihatkan indikator kenaikan popularitas sang pemilik jaringan Mediaset ini. Tentu saja popularitas yang naik karena simpati, atau lebih tepatnya kasihan. Kasihan dalam bahasa politik adalah rasa iba yang sementara dan mudah terlupa.

Rekam jejak Berlusconi dalam kancah politik Italia menjadi suatu kontroversi sendiri dalam kajian politik kontemporer. Berlusconi merupakan tipikal pengusaha sukses yang memutuskan mulai terjun ke kancah politik sejak awal 1990-an. Sekarang ketika Berlusconi berusia 73 tahun, dia berada di puncak karir politiknya dengan menjabat lagi kursi perdana menteri. Tapi ada juga yang bilang kalau saat ini adalah titik jenuh karir politik Berlusconi.

Italia, di bawah komando Berlusconi, tidak menjadi semakin tentram. Berbagai konflik kepentingan, terutama bisnisnya, dan rekam jejak yang tidak kompeten untuk seorang pemimpin publik, menjadikan Italia semakin menjauh dari substansi demokrasi. Sisi kontroversial kebijakannya juga terungkap tatkala Berlusconi memilih “teman-teman politik yang berbahaya”. Muammar Qaddafi, Vladimir Putin, dan Alyksandr Lukashenka bukanlah pilihan yang bijak untuk bersinergi, meskipun dengan alasan national interest.  Ketidakberuntungan Italia juga semakin lengkap tatkala perekonomian semakin menunjukkan sinyal bahaya di tengah ancaman resesi.

Apakah ini isyarat bahwa rakyat Italia sudah muak dengan kepemimpinannya, atau memang saatnya Berlusconi harus mengucapkan “adio” sekarang?

Untuk yang pertama kita bisa berharap banyak. Dimulai dari jalanan di Roma, beberapa hari lalu, sudah ada kampanye massa untuk menunjukkan rasa muak tersebut: “No Berlusconi Day”. Lawan-lawan politik, serta koalisinya sendiri, mulai sensitif begitu skandal demi skandal Berlusconi dibuka.

Tapi, untuk yang kedua, kita harus mahfum bahwa Berlusconi bukanlah Sonia Gandhi yang ikhlas memberi kursi perdana menteri kepada Mammohan Singh demi mencegah konflik luas di masyarakat India. Lagipula sang Perdana Menteri tidak merasa seluruh rakyat Italia membencinya. “Saya akan mengingat dua hal tentang hari-hari ini: kebencian dari beberapa pihak dan cinta dari banyak, banyak sekali rakyat Italia”, komentarnya beberapa hari setelah dihantam Tartaglia.

Tapi, bagaimana dengan gerakan-gerakan perlawanan dan gelombang kebencian dari masyarakat terhadap kepemimpinan sang Perdana Menteri? Mungkin perkataan Letizia masih relevan dalam konteks ini: “Daddy Silvio akan mengurusnya”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: