Resensi Buku: Global Pentecostalism

Jesus-is-Lord-Manila-1

Fenomena meluasnya gereja-gereja pentakosta dan kharismatik di Indonesia menjadi suatu kajian menarik. Dan tentu saja fenomena ini tidak hanya bisa dilihat dari satu sisi, tapi mengandung banyak dimensi (multifacets), yang tentu saja saling melengkapi.

Kurangnya pemikiran sosiologi agama di Indonesia menjadi keprihatinan sendiri tatkala fenomena di atas sama sekali tidak terjamah oleh ilmu-ilmu sosial dan terkesan menjadi monopoli teologi, dari perspektif tertentu pastinya yang terkontaminasi dikotomi “pro-kontra” dogmatis. Karena itu, buku karangan Donald Miller dan Tetsunao Yamamori ini menjadi sangat layak untuk dibaca dan menjadi pisau analisis yang lebih obyektif untuk memahami (verstehen) dan menjelaskan (erklaren) gairah pentakosta di Indonesia.

Memang buku ini tidak tertuju khusus menyoroti gejala pentakosta di Indonesia, tapi secara global, dan lebih spesifik lagi di negara-negara dunia ketiga. Sebelumnya, tentu kita harus mengapresiasi penulis karena mengangkat topik agama yang sebenarnya tidak populer lagi dalam khazanah barat. Tapi secara brilian mereka berhasil menjungkirbalikkan paradigma sekularisasi, terutama dalam menyoroti perkembangan agama-agama di negara dunia ketiga.

Menariknya, penulis mengangkat isu krusial yang menjadi fokus utama studinya: keterlibatan aktif gerakan-gerakan pentakosta dalam isu-isu sosial, kemudian merangkumnya dalam suatu konsep: pentakosta progresif (progressive pentecostals).

Bisa disebut menarik karena stigma yang beredar luas di kalangan Kristen mainstream mengidentikkan pentakosta maupun kharismatik sebagai gerakan yang didominasi ibadah meriah, penuh roh kudus, bahasa lidah, karunia roh, dan semacamnya sehingga memunculkan istilah generik: spirit-inspired-Christian. Stigma inilah yang kemudian coba dikoreksi Miller dan Yamamori.

Setidaknya ada tiga stereotip tentang pentakosta. Yang pertama pentakosta identik dengan ibadah penuh roh kudus yang berbuah bahasa roh, kegirangan berlebihan, disertai penyembuhan ilahi. Kedua, pentakosta identik dengan masyarakat kelas bawah, yang termarjinalisasi dalam masyarakat, dan mencari penghiburan di gereja. Dan terakhir, pentakosta sangat menekankan kehidupan di surga (heavenly-minded), sehingga melupakan realitas sosial di sekitarnya. Ketiga stereotip di atas dinilai tidak selalu relevan dalam menjelaskan fenomena gerakan pentakosta sekarang.

Dan inilah fenomena yang ditunjukkan kelompok pentakosta progresif. Kelompok yang mentransformasikan keimanan mereka menjadi suatu gerakan sosial kontekstual yang luar biasa. Kelompok yang mampu menyeimbangkan orientasi keilahian dengan realitas sosial di masyarakat.

Di Uganda, Kampala Pentecostal Church membangun tiga desa dalam rangka mengatasi permasalahan anak yatim piatu yang mencapai sekitar dua juta anak akibat AIDS. Di Kenya, Nairobi Pentecostal membangun asrama, sekolah, dan klinik kesehatan bagi anak-anak miskin dan tertinggal. Di Afrika Selatan, Highway Assembly of God Church mendirikan Safe and Sound preschool yang membekali masyarakat kulit hitam di Johannesburg keahlian kerja. Semangat yang sama ditunjukkan Stephen Children’s yang membantu anak-anak pemungut sampah di Kairo, Mesir.

Di benua Asia, City Harvest Church, gereja terbesar di Singapura yang memiliki 13.000 anggota dan mayoritas pemuda, menjalankan proram-program sosial bagi para penghuni penjara, pengidap AIDS, dan kelompok terbelakang mental di sana. Di India, The Assemblies of God Church menyediakan fasilitas pendidikan bagi 16.800 orang dan rumah sakit bagi sekitar 70.000 masyarakat pertahun di Calcutta, dimana sebagian besar merupakan pemeluk Hindu. Pelayanan yang hampir sama juga dikerjakan oleh kelompok-kelompok pentakosta di Amerika Latin, terutama di Caracas, Venezuela, dan Buenos Aires, Argentina, dimana permasalahan anak-anak jalanan dibareni kemiskinan selalu hadir sebagai bagian masyarakat urban.

Secara konkrit, bisa dirangkum delapan tipe program atau pelayanan berdimensi sosial yang ada di gerakan-gerakan pentakosta. Mulai dari mercy ministries (pemberian makanan, pengadaan pakaian, dan tempat penampungan); emergency services (penanggulangan bencana alam, bahaya kelaparan); education (pendirian sekolah, kursus); counseling services (kecanduan narkotika, depresi, perceraian); medical assistance (klinik kesehatan, bantuan psikologis); economic development (kredit mikro, pelatihan tenaga kerja); the arts (pelatihan music, tari, drama); dan policy change (melawan korupsi, pemantauan pemilu).

Buku ini memberikan banyak arti dan pemahaman baru dalam melihat potensi agama sebagai kekuatan sosial yang kuat, jika didayagunakan secara tepat. Secara kuantitas, jumlah penganut pentakosta akan terus meningkat. Berdasar data World Encyclopedia of Christianity, di tahun 1970 hanya kurang dari sepuluh persen jumlah penganut Pentakosta. Tapi diprediksikan pada tahun 2025, sepertiga dari jumlah umat Kristen di dunia ini akan mengidentifikasikan dirinya sebagai penganut pentakosta.

Ini mungkin “keajaiban” yang terjadi di Pentakosta mengingat usia aliran ini yang masih baru dan bisa disebut “new kids on the block”. Fenomena yang mungkin belum bisa dijelaskan, Miller serta Yamamori pun tampaknya berusaha menghindari narasi besar yang bisa menjelaskan booming pentakosta ini. Dalam buku ini pembaca diberikan beberapa alternatif penjelasan merebaknya pentakosta, mulai dari reaksinya terhadap kegagalan modernitas di negara-negara dunia ketiga, kemampuan pentakosta mengisi “ectasy deficit” dalam era postmodern ini, serta beberapa penjelasan domestik yang mempostulatkan bahwa gereja-gereja pentakosta mampu mengisi momentum gairah keagamaan yang baru setelah terlepas dari kekuasaan otoriter, hal yang tidak bisa dilakukan gereja mainstream yang terlanjur “tidur”.

Tapi perlu diingat, potensi sosial tadi akan terwujud jika secara internal muncul komitmen mendalam terhadap isu-isu sosial serta dibarengi kemampuan menerjemahkan permasalahan-permasalahan social di sekitarnya. Dan secara eksternal, harus ada suatu struktur yang mendukung dan mengarahkan gerakan-gerakan sosial dalam tubuh pentakosta. Tapi yang paling penting adalah terciptanya suasana kondusif antar denominasi, maupun antar agama.

One Response

  1. ” keajaiban” si ” new kids on the block”…..menurutku keajaiban adalah jika generasi tua menjadi pelopor perubahan & penyegaran ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: