“Kemunculan Komunisme Indonesia”

PKI-1925-Commisariate_Batavia

“Kemunculan Komunisme Indonesia” karangan Ruth McVey dirasa sangat terlambat untuk diterjemahkan dan didistribusikan untuk masyarakat Indonesia.Ini adalah pendapat serupa yang terlontar dari Airlangga Pribadi dan Benedict Anderson dalam acara bedah buku yang sebenarnya terbit pertama kali tahun 1965 ini.

Acara bedah buku ini diselenggarakan oleh beberapa organisasi seperti Laksmi, Lintas Merah Generasi, dan Komite Indonesia Tionghoa Untuk Pemilu di Aula Restoran Halo Surabaya Kamis (25/02) siang.

Airlangga Pribadi, dosen di Departemen Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga yang tergabung Serikat Dosen Progresif , dalam memberi gambaran awal tentang buku yang mendeskripsikan perkembangan awal komunisme di Indonesia. Komunisme dan gagasan-gagasan Marxisme yang berbasis material-historis ternyata mampu diterima oleh kalangan bumiputera yang kuat landasan religiusnya. Tesis yang dikemukakan oleh buku ini adalah para momentum kehadiran komunisme ini sangat tepat mengisi kehausan masyarakat akan sebuah sistem yang membela masyarakat tertindas.

Benedict Anderson, Profesor Emiritus di Cornel University, yang beberapa hari sebelumnya mengisi kegiatan serupa di Malang berangkat dari kebehasilan penulis buku untuk memotret komunisme di Indonesia yang kemudian dikombinasikan dengan analisis perkembangan komunisme internasional. Ini merupakan bukti kapasitas akademis Ruth yang menguasai literatur secara maksimal karena didukung kemampuan berbahasa Belanda, Rusia, Prancis, dan Indonesia. Dengan gaya pembicaraannya yang khas, Ben Anderson mencoba menyentil para peserta di ruangan dengan pernyataan provokatif, mengapa komunisme bisa tumbuh dan berkembang di tengah-tengah orang yang masih berpikiran tradisional, memakai blankon, batik, serta banyak juga yang buta huruf.

Salah satu temuan menarik dari buku ini yang kemudian dieksplorasi lebih lanjut adalah keberhasilan para komunis bumiputera dalam menempatkan ideologinya secara kontekstual. Dialektika dengan konteks masyarakat lokal memunculkan kaum komunis yang masih berpegang teguh pada Islam, bahkan pada hal-hal tahayul yang selama ini menjadi momok modernitas. Seperti yang disebutkan Airlangga Pribadi, berkembangnya komunisme di daerah basis Wahabi seperti di Padang, kemudian di daerah-daerah basis santri seperti di Banten, Solo, dan Yogyakarta, serta bagaimana juga pengaruh kejawen terhadap komunisme di Pulau Jawa menarik untuk dicermati lebih mendalam.

Tapi perkembangan berikutnya, kemampuan menerjemahkan diri dalam masyarakat berbasis religius ternyata juga menyebabkan kelemahan komunisme di Indonesia. Ada perlawanan dari faksi internal seperti Haji Agus Salim dan Cokroaminoto dan ketegangan dengan komintern yang dimasa Lenin sangat membenci ideologi berbasis agama seperti Pan Islamisme. Sebaliknya salah satu figur penting komunis Indonesia, Tan Malaka, optimis bahwa Pan Islamisme dan Internationale punya basis kepentingan yang sama: perlawanan terhadap kaum kolonial. Inilah bukti bahwa kaum komunis Indonesia saat itu berhasil melakukan proses agensi aktif, sebuah tahap artikulasi terhadap seperangkat ide yang berasal dari luar.

Konteks dinamika perpolitikan internasional ini pula yang menentukan eksistensi ideologi komunisme di Indonesia. Seperti yang kita tahu, setelah Perang Dunia I, di Belanda terjadi revolusi pada tahun 1918. Dari sini muncul tokoh Hendricus Josephus Franciscus Marie Sneevliet (lebih sering disebut Sneevliet) yang membawa karakter radikal pada perkembangan komunisme di Indonesia. Tapi bibit komunisme radikal ini tidak dijumpai pada angkatan awal komunisme Indonesia yang kebanyakan tokohnya lahir pada awal abad ke-19.

Ben Anderson mengungkapkan bahwa angkatan itu masih kental dengan nasionalisme yang menjadikan kaum kolonial sebagai musuh utama mereka dan pengalaman mereka sebagai pemikir dan politisi yang sering bepergian ke luar negeri membuat pemikiran mereka tentang komunisme Indonesia berbeda dengan komunisme paska kemerdekaan. DN Aidit misalnya, salah satu tokoh komunis terkemuka Indonesia yang besar di jaman Jepang dan tidak punya pengalaman di luar negeri disebutnya cukup radikal dalam mengembangkan komunisme dan malah terjerumus dalam apa yang dinamakannya “nasionalisme picik”.

Wacana komunisme di tengah eforia kebebasan intelektualisme memang menarik dan sangat menggoda. Buku ini meskipun terlambat bisa digunakan sebagai katalisator kita mempelajari komunisme sebagai bagian dari sejarah kita. Tapi tentu saja pembelajaran obyektif dengan tidak melupakan sejarah manis ataupun kelam dari komunisme di Indonesia sebagai basis utama pembelajaran kolektif kita sebagai sebuah bangsa dan negara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: