Agama bagi Sam Harris

sam_harris

Membaca postur dan bahasa tubuh dari seorang Sam Harris, mungkin tak ada orang yang akan berpikir bahwa dia adalah salah satu orang di muka bumi ini yang menuding agama sebagai sumber kejahatan. Lahir tahun 1967 dari ayah seorang Quaker dan ibunya yang Yahudi, Harris merupakan sosok yang elegan, tenang, berwajah lembut, dan konon tak pernah meninggikan sedikitpun intonasi suaranya dalam debat sepanas apapun.

Meski tak pernah menunjukkan gelagat marah, tapi tulisan-tulisannya lebih menunjukkan gelagat kemurkaan daripada penulisnya. Hal yang kemudian diakui oleh Harris sendiri: “My writing is angrier than Iam”, sahutnya sambil tersenyum a la womanizer. Inilah yang dapat kita temukan dalam buku “The End of Faith” serta “Letter to a Christian Nation”, buah pengalaman dan studi mendalamnya terhadap berbagai agama dan keyakinan dunia selama kurang lebih 20 tahun.

“The End of Faith” menunjukkan bagaimana cemoohan dan cibiran terhadap kejahatan religius dibeberkan secara jelas. Secara imbang dia menyerang fundamentalisme Kristen di satu sisi dan dengan cara yang sama juga menghantam radikalisme Islam. Ditulis beberapa saat setelah peristiwa 9/11, buku ini memang dimaklumi jika memproklamirkan agama sebagai “the root of all evil”. Dalam berbagai kesempatan, Tuhan dalam proyeksi Judeo-Kristen, terutama dalam Perjanjian Lama, dikecam dan dituduh sebagai biang kesalahan, termasuk menghalalkan perbudakan. Kisah Yesus dalam Perjanjian Baru pun hanya dilihat sebagai dongeng belaka. Kitab Suci umat Muslim pun tak luput dari tuduhannya sebagai “a manifesto for religious divisiveness”. Tak pelak, Sam Harris menjadi ikon dari mereka yang mempertanyakan legitimasi agama sebagai apa yang disebut sosiolog Peter L. Berger “mengatasi anomi”.

Meskipun sempat ditolak belasan penerbit, “The End of Faith” meraih penghargaan “The PEN/Martha Albrand Award” tahun 2005 untuk karya non-fiksi dan terjual lebih dari 270.000 eksemplar dan setidaknya menjadi pertanda bahwa cita-cita Harris untuk mengeluarkan agama dan Tuhan dari lapangan pertandingan didukung oleh suporter yang tidak sedikit. Sam Harris menjadi sosok high-profile, mampu memanfaatkan momentum, dan juga tak lepas dari kritisi karena dirasa terlalu menyederhanakan pemikiran-pemikiran keagamaan. Meskipun kecil kemungkinan dia bernasib sama seperti Salman Rushdie yang dicap “halal darahnya untuk ditumpahkan”, butuh keberanian sendiri untuk secara frontal menyerang agama.

Salah satu sikap tersebut ditunjukkan ketika perdebatan menarik antara Sam Harris dengan kaum agamawan terjadi tahun 2007 dengan difasilitasi oleh Newsweek. Dan lawan debatnya tidak tanggung-tanggung: Rick Warren, salah satu pendeta paling kondang yang setiap hari Minggu ada 25.000 orang yang datang ke Gerejanya. Tanpa sungkan-sungkan Harris terus berucap bahwa tidak ada bukti bagi keberadaan Tuhan,  dan tanpa agama, moralitas manusia akan tetap terjaga. Pendirian yang terus dikritisi oleh Warren dan dijawab dengan lugas oleh Harris: “Here’s the difference between you and me. I am open to the possibility that I am wrong in certain areas, and you are not.”

Berbagai kritikan serta masukan terhadap “The End of Faith” kemudian mendorongnya menulis “Letter to a Christian Nation” dan diterbitkan tahun 2006. Sesuai judulnya, buku ini berisi himbauan kepada negara-negara Kristen akan bahaya dari agama itu sendiri. Titik tolaknya tetap berangkat dari proposisinya di “The End of Faith”: “We can no longer ignore the fact that billions of our neighbors believe in the metaphysics of martyrdom, or in the literal truth of the Book of Revelation, or any of the other fantastical notions that have lurked in the minds of the faithful for millenia-because our neighbors are now armed with chemical, biological, and nuclear weapons.”

Dan menariknya, sisi kontroversial Sam Harris muncul tatkala dia melihat bahwa penyiksaan merupakan suatu hal yang sah. “We know (torture) works. It has worked. It’s just a lie to say that it has never worked”. Kemudian, “Accidentally torturing a few innocent people” is no big deal next to bombing them, he continues. Why sweat it? Tentu saja ini nada satire sebagai reaksinya tatkala mereka yang mengatasnamakan agama menghalalkan membunuh, termasuk korban tak berdosa. Kemajuan teknologi juga mempermudah manusia untuk membunuh ribuan nyawa dengan hanya menekan tombol, tapi kenapa menyiksa satu orang dengan tangan sendiri dirasa lebih “berdosa”?  Baginya jika membunuh saja dibolehkan, kenapa menyiksa tidak boleh.

Apa yang dibawa atheisme abad 21 ini memang tidak ada yang baru. Semua isu-isu lama yang dikemas dengan adaptasi pada fenomena-fenomena terbaru. Materi-materi lama seperti masalah eksistensi Tuhan, sumber moralitas, intoleransi iman, keberadaan agama dan institusinya secara konstan direproduksi dan diadaptasi sesuai perkembangan jaman sebagai sumber manifesto kaum atheis. Baik Sam Harris, Daniel Dennet, Christopher Hitchens, dan Richard Dawkins, secara konsisten menjalankan peran “devil” mereka dari sudut para pembela agama. Dari sisi yang lebih obyektif kita bisa mengapresiasi mereka sebagai pengritik sekaligus pengontrol jika ada sesuatu yang salah dengan agama. Meskipun tidak pernah tercipta model balance of power, di sinilah diskursus theis dan atheis menjumpai titik persinggungannya.

Slavoj Zizek dalam suatu kesempatan mengungkapkan dialektika menarik antara kaum atheis dan kaum agamawan. Konteks kemunculan para atheis sekarang dengan basis materialisme yang kuat sekarang merupakan hal yang aneh. Disebut aneh atau anomali karena kemunculan kedua belah pihak yang beroposisi di mencapai titik ekstrimnya masing-masing. Di satu sisi fundamentalisme agama muncul diiringi menifestasi kekerasannya sebagai reaksi terhadap modernitas, di sisi yang lain di saat yang bersamaan kaum materialis hadir secara “vulgar” di masyarakat diiringi nada-nada tinggi kemarahan.

Dan pada akhirnya, hanya dua skenario, para pembela agama yang benar, dan Harris harus masuk neraka jahanam, atau dia yang benar. Tapi itu bukanlah sesuatu yang membangun secara karakter dan fungsi sosial jika terus meributkan hal tersebut. Mungkin benar apa yang pernah diungkapkan Harris, sebaiknya kita tidak pernah menamai diri kita dengan sebutan apapun.

One Response

  1. Resensi yg bgiku sangat objektif dan brmutu. Tks bgi penulisx. Btw sy jga merasa, mungkin sama dg kegelisahan Harris. Sy korban dr fundamentalisme kristiani sekter tertentu. Tp syukur padaNya saya sdh sehat kembali. Sy kira, hmmm, kalo ttg religion, mungkin Karen Armstrong lebih ballance. But anyway,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: