Lagu Indonesia Raya dan Nasionalisme di Rapat Paripurna

indonesia raya

Sidang paripurna DPR menindaklanjuti rekomendasi dari panitia khusus (pansus) Bank Century Rabu (3/3) malam itu berlangsung panas dan melelahkan. Hasil rapat paripurna akhirnya memunculkan opsi C sebagai pilihan utama yang didukung oleh 325 anggota.

Beberapa episode menarik bisa kita lihat di layar kaca sepanjang sidang hari pertama dan kedua.  Salah satunya adalah ketika sidang paripurna akan ditutup, datang usulan dari Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mustafa Kamal, agar lagu Indonesia Raya dinyanyikan. Usulan ini diterima Marzuki Alie sebagai pimpinan sidang dan seperti yang kita lihat, suasana khidmat tercipta menutup sekaligus mengiringi dengan indah kemenangan mereka yang berjuang demi terbukanya kebenaran kasus talangan Bank Century.

Entah suasana apa yang meliputi ruangan sidang saat itu, dan apa yang menjadi motif seorang Mustafa Kamal, sampai inisiatif untuk membangkitkan simbol nasionalisme kita disuarakan.Yang pasti apresiasi mendalam harus kita sampaikan baik secara pribadi maupun kelompok kepada PKS karena keberaniannya ini. Sikap Fraksi PKS  dan berbagai argumentasi yang mereka bangun malam itu benar-benar memukau sehingga layak menjadi salah satu “bintang”.

Lagu kebangsaan sebagai salah satu simptom rasa cinta tanah air dan bangsa punya fungsi penting untuk terus menjaga dan merekatkan perasaan berbangsa tersebut dalam situasi seburuk apapun.  Benedict Anderson dalam “Imagined Communities”(1991) mencatat bahwa national anthem, sebanal apapun syairnya atau seburuk apapun nadanya, tidak mengurangi magisme dari lagu kebangsaan untuk menggiring setiap orang yang tidak saling mengenal menyanyikan ayat-ayat kebangsaan yang sama.

Perasaan dan pengalaman inilah yang disebutnya sebagai unisonance. Bagaimana orang menyanyikan God Save the Queen, Marseillaise, Waltzing Matilda, atau Indonesia Raya, merupakan ekspresi unisonalitas dan manifestasi fisik dari apa yang disebutnya bangsa sebagai komunitas yang dibayangkan (imagined community).

Jika kita kembalikan konsepsi ideal ini dengan kejadian di rapat paripurna DPR kemarin, suasana terbatas sebagai sebuah kesatuan (uni) bangsa masih sulit tercermin. Apalagi kondisi psikologis seakan bermuara pada zero-sum game. Dinyanyikannya Indonesia Raya di akhir rapat seakan mengharu-biru suasana, tapi itu tidak merehabilitasi mereka yang “kalah” secara politik. Simbol-simbol nasionalisme seakan hanya mengafirmasi kemenangan salah satu pihak, di pihak yang lain simbol itu menjadi sebuah sindiran tanpa substansi bagi mereka yang meletakkan kepentingan partai politik di atas kepentingan bangsa.

Meminjam konsepsi Ernest Gellner, nasionalisme sebagai sebuah sentimen, atau sebuah gerakan mendapat arti terbaiknya ketika diwujudkan menjadi sebuah prinsip-prinsip politik yang kokoh. Inisiasi terhadap simbol nasionalisme, seperti yang dilakukan PKS untuk menyanyikan “Indonesia Raya”, menjadi sempurna tatkala prinsip-prinsip politik PKS terwujud dan menyangga kesatuan negara-bangsa Indonesia ini.

Dari setiap individu yang masih mau mengaku sebagai warga negara Indonesia, patut pula diajukan permintaan yang sama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: