Memahami Ketidakdatangan Presiden Obama

obama

Kamis malam waktu Amerika Serikat, simpang siur mengenai kepastian lawatan Presiden Amerika Serikat, Barrack Obama terjawab sudah. Pihak Gedung Putih secara resmi menunda lawatan Presiden Obama ke Indonesia dan Australia.

Dibalik kekecewaan (atau mungkin kebahagiaan) terhadap penundaan lawatan ini, kita bisa mencoba mengeksplorasi dari sisi Obama, bagaimana gentingnya atau aspek urgensi pembatalannya ini. Setidaknya ada beberapa alasan yang bisa dijadikan indikasi kuat ketidakdatangan Presiden Obama dan mungkin kita bisa memaklumi dalam sisi yang lain.

Pertama, memanasnya situasi perpolitikan domestik AS terkait perjuangan Presiden Obama dan Partai Demokrat meloloskan Undang-Undang mengenai jaminan kesehatan universal. Jaminan kesehatan universal merupakan “jualan” utama Partai Demokrat dalam masa kampanye Obama dan sekarang mendapat tantangan sangat berat dari pihak yang tidak rela regulasi ini akan menambah beban negara dan masyarakat. Apalagi popularitas Presiden Obama dan Partai Demokrat dalam satu tahun pemerintahan ini menurun cukup signifikan.

Kedua, perbuatan sepihak Israel yang memutuskan membangun perumahan baru dan memicu reaksi kemarahan dunia, termasuk Amerika Serikat. Bukan rahasia lagi konflik Israel-Palestina menjadi “duri dalam daging” bagi citra AS sebagai negara adidaya. Rencana Israel membangun 1.600 unit rumah baru di Yerusalem Timur mendatangkan kecaman seluruh dunia. Parahnya lagi bagi AS, rencana Israel ini diumumkan tatkala lawatan Wakil Presiden Joe Biden di Israel.

Ketiga, Indonesia dan Australia merupakan negara penting bagi Amerika Serikat, tapi tidak mengandung unsur urgensi (kedaruratan) dalam konteks waktu sekarang. Tidak gejolak berarti dalam hubungan bilateral maupun multilateral AS dengan dua negara ini. Potret Indonesia sebagai negara demokrasi terbesar ketiga dunia cukup memberikan jaminan tersendiri bagi keberlangsungan kepentingan Amerika Serikat.

Ketiga alasan utama di atas dalam pertimbangan logis cukup untuk “membesarkan hati” kita semua untuk menerima penundaan kembali kedatangan Presiden Obama sampai Juni mendatang.

Yang juga menarik untuk dibahas, kehebohan dan histeria yang terjadi di dalam negeri untuk menyambut kunjungan Obama juga tidak bisa lagi diartikan dalam perspektif politik tradisional yang mengasumsikan negara dan hubungan antar negara sebagai sentral semua fenomena politik. Masyarakat global sudah mengambil sedikit peran tersebut. Atau juga bisa ditafsirkan sebagai pergeseran makna politik dari hard power menjadi soft power.

Antusiasme masyarakat Indonesia justru bisa dilihat sebagai sebuah penyebaran fenomena modernitas dalam aspek globalisasi politik. Lihat bagaimana patung Obama saat kecil sudah didirikan di Jakarta. Atau lihatlah bagaimana salah satu televisi swasta kita mengemas liputan mengenai persiapan kedatangan Obama bak sosialita dunia yang sedang mengunjungi penggemar fanatiknya.

Popularitas Barrack Husein Obama mendunia ketika berhasil melewati mitos keterkungkungan kaum kulit hitam dan sindrom WASP (White, Anglo-Saxon, Protestan). Bukan sebuah hasil instan tapi merupakan jerih perjuangan puluhan, bahkan ratusan tahun agar simptom diskriminasi ini terpinggirkan. Individu Barrack Obama juga bukan politisi kacangan yang berhasil memanfaatkan momentum. Rekan jejaknya di bidang sosial dan politik benar-benar dimulai dari bawah dan memerlukan banyak energi sekaligus pengorbanan.

Terlepas dari kepentingan domestik AS dan internasional apa yang diembannya, semoga kedatangan Presiden Obama Juni nanti memberikan suatu energi dan semangat positif bagi masyarakat Indonesia khususnya mengenai apa arti menjadi seorang politisi dan negarawan.

Bagi AS mungkin Indonesia negara penting di kawasan, tapi bukan prioritas utama dalam strategi internasionalnya. Demikian pula bagi masyarakat Indonesia, kedatangan Presiden Obama adalah penting, terutama bagi pencitraan secara internasional, Tapi bukan yang terpenting. Masih banyak pekerjaan rumah domestik yang harus kita benahi secara bersama-sama sebagai sebuah bangsa dan negara.

One Response

  1. se7…..masih buanyak pekerja’an rumah domestik yang harus kita benahi…….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: