Globalisasi: Kebaikan Global atau Patologi Global?

global

Globalisasi sebagai sebuah realitas sosial yang sedang terjadi menuntut pemahaman yang mendalam untuk memperkokoh harapan-harapan akan terciptanya  suatu kebaikan bersama bagi masyarakat global. Dialektika terjadi ketika globalisasi sebagai sebuah konsep yang mewadahi semua bidang (sosial, ekonomi, budaya, politik) bertemu dengan prakondisi sosial yang beraneka ragam dan akibat-akibat globalisasi itu sendiri yang memenuhi semua spektrum. Pada akhirnya, dua skenario membentang di hadapan kita: globalisasi berhasil menciptakan kebaikan bersama atau globalisasi menjerumuskan kita dalam pekatnya patologi global?

Tulisan ini mencoba menguraikan globalisasi sebagai sebuah konsep dan realitas sosial dengan segala dinamika yang menyertainya. Uraian secara evaluatif menjadi pertimbangan utama untuk mencari suatu kesimpulan sementara mengenai bagaimana pengaruh globalisasi dalam konteks negara-bangsa Indonesia.

Globalisasi sebagai Sejarah Penaklukkan

Sejarah globalisasi sebagai sebuah fenomena sosial lintas batas terjadi tatkala usaha-usaha pelayaran dalam skala besar mampu melintasi benua sekaligus sebagai titik awal imperialisme global.Ekspedisi Cristobal Colon pada 3 Agustus 1492 dengan kapal berbendera Santa Maria mampu melintasi benua dan berlayar sampai Benua Amerika. Ekspedisi berikutnya dari Vasco da Gama pada 8 Juli 1497 dengan kapal berbendera Sao Gabriel mampu menjangkau benua lain. Inilah sejarah awal globalisasi sebagai usaha menemukan “dunia baru” dan serta merta menyingkirkan mitos bahwa dunia itu datar.

Setelah itu, ekpedisi dari dunia barat ke “dunia baru”diwarnai dengan semangat penaklukkan dunia yang dianggap “barbar”. Semangat 3G (Gold, Glory, Gospel) mengkatalisator kolonialisme dan imperialisme, terutama di Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Konsepsi globalisasi sebagai sebuah usaha melintasi batas geografis saat itu dan perkembangan kontemporernya menciptakan istilah “deteritorialisasi” dengan “individualisasi masyarakat” seperti yang diungkapkan Ulrich Beck.

 

Globalisasi diantara Homogenitas dan Heterogenitas

Berdasarkan pola dan mekanisme pembentukannya, globalisasi bisa kita lihat sebagai sebuah usaha penciptaan homogenitas (keseragaman) atau heterogenitas (keberagaman).

Globalisasi sebagai homogenitas terbaca tatkala melihat fenomena budaya global yang lahir sebagai hasil interaksi dengan kebudayaan lain. Kemajuan teknologi informasi dan transportasi memungkinkan manusia di sudut dunia yang berbeda punya perilaku konsumsi minuman, selera terhadap pakaian, maupun obsesi terhadap selebriti yang sama. Fenomena ini tentu menafikkan unsur-unsur lokalitas (dalam konteks tertentu) yang dianggap tidak signifikan.

Bentuk paling sempurna dari mode keseragaman ini tentunya kita dapatkan dalam kehidupan ekonomi praktis. Semua sistem ekonomi, mulai dari sistem mata uang, perbankan, penentuan suku bunga, sampai pasar saham, mengacu kepada suatu sistem internasional yang sama dan hanya dibedakan oleh waktu. Definisi globalisasi dari Giddens sebagai “sebuah restrukturisasi cara-cara kita dalam menjalani hidup dan dengan cara yang sangat mendalam”

Globalisasi agama atau kepercayaan secara umum juga bisa kita masukkan dalam katalog homogenitas ini. Fenomena “evangelisasi” dan “pentacostalism” merupakan wabah keagamaan yang serupa dan berakibat global yang leintasi batas nasionalisme atau kesukuan.

Aspek keberagaman dari globalisasi sering disalahpahami hanya sebagai sebuah reaksi penolakan konsep homogenitas. Globalisasi yang menuju kepada heterogenitas seperti yang dipahami oleh Robertson maupun Friedman menyiratkan karakter perpaduan budaya dan penolakan terhadap imperialisme kultural. Glocalization yang dipopuloerkan Robertson mengandaikan globalisasi sebagai sebuah proses interaksi antara dunia global dengan dunia lokal untuk menghasilkan sesuatu yang berbeda.

 

Mengevaluasi Globalisasi

Jika dihitung sejak masa ekpedisi Colon maupun Vasco da Gama, maka sudah lebih dari 500 tahun sejarah globalisasi. Bukan perkara mudah tentu untuk memilah kemudian mengevaluasi potongan sejarah tersebut. Diskursus yang terbuka dan ketat secara akademis setidaknya bisa membantu kita menemukan titik terang untuk melakukan kegiatan ini.

Evaluasi kita terhadap globalisasi tentu memunculkan pertanyaan terhadap dimensi ekonomi dan kultur global yang seakan memonopoli penggunaan konsep globalisasi.[1] Ekonomi memang penggerak utama globalisasi seperti semangat yang bisa kita tangkap tatkala pedagang dari Cina dan India menelusuri jalan sutera untuk melakukan perdagangan. Tapi, reduksi globalisasi sebagai sebuah internasionalisasi sistem ekonomi dengan sendirinya juga mereduksi signifikansi dari unsur-unsur globalitas lain seperti etika global[2].

Globalisasi budaya, atau lebih tepat kita sebut sebagai penciptaan budaya global merupakan dimensi lain yang unik, tapi tetap harus dievaluasi secara kritis. Fenomena “McDonaldisasi”,”CNN Effect”, “MTV Effect”, dan semacamnya menjadi simbol dari kemunculan budaya global dan terus mengancam dikotomi budaya elit-budaya massa. Budaya global juga dikatalisator oleh apa yang disebut Arjun Appadurai sebagai peningkatan imajinasi dan fantasi manusia. Budaya global ini justru paling banyak memunculkan pesimisme karena dianggap tidak memberikan konstribusi apapun terhadap peningkatan kualitas masyarakat. George Ritzer menamakan gejala ini sebagai “globalisation of nothing”.[3]

Indonesia sebagai sebuah komunitas bangsa menjadi contoh menarik evaluasi terhadap globalisasi. Keadaan masyarakat yang plural di satu sisi bisa disatukan lewat instrumen-instrumen globalisasi. Remaja di pelosok Wamena mungkin punya account di situs jejaring sosial dan milis di Yahoo sama seperti rekan sebayanya di Jakarta. Seorang spekulan di Ambon juga bisa melakukan transaksi di bursa saham dengan kompetitornya yang ada di Surabaya. Kondisi ini sangat memungkinkan suatu penilaian sosial dan perasaan psikologis yang sama. Hal yang bisa menjadi dasar bagi penciptaan konsepsi akan suatu kebaikan bersama.

Tapi di sisi lain, globalisasi sebagai sebuah gejala sosial juga melakukan degradasi terhadap kualitas masyarakat Indonesia itu sendiri. Globalisasi menjadi sebuah juggernaut[4] dan melindas siapa saja yang tidak bisa beradaptasi dengannya. Terciptalah “runaway world” (Giddens), “risk society” (Ulrich Beck), “simulacrum” (Jean Baudrillard) dan “Homo Sacer” (Giorgio Agamben) sebagai sisi gelap globalisasi. Semua manifestasi dari konsep-konsep ini bisa kita temukan dalam setiap lapis masyarakat kita.

Sisi gelap globalisasi atau yang bisa kita sebut patologi global muncul bukan hanya karena kegagalan pengaplikasian globalisasi, juga karena itu adalah suatu yang inheren dari sistem globalisasi itu sendiri.

Evaluasi terhadap potongan sejarah globalisasi ini berakhir pada kerinduan munculnya prasyarat utama globalisasi: sebuah komunitas global dengan semangat universalisme tulen.

Komunitas global dengan semangat kosmopolitanisme menghadapi tantangan beratnya ketika menjumpai sisi tradisionalisme atau fundamentalisme yang juga menggunakan instrumen-instrumen globalisasi untuk mengembangkan kekuatannya. Fasisme, primordialisme, fundamentalisme agama, sampai ke anarkhisme suporter sepakbola menggunakan kemajuan teknologi di berbagai bidang untuk membuktikan vitalitas mereka. Inilah salah satu sisi patologi global yang lain.


[1] Referensi menarik bisa kita dapat dari Ulrich Beck yang mendefinisikan globalisme sebagai pandangan yang melihat dunia yang didominasi aspek perekonomian dan ditopang oleh hegemoni pasar kapitalisme dan ideologi neoliberal.

[2] Konsepsi mengenai etika global secara lebih lanjut dapat dibaca dalam karya Hans Kung, “Global Ethics”.

[3] Lebih mudah untuk mengekspor bentuk-bentuk kosong ke seluruh dunia daripada mengekspor bentuk-bentuk yang berisi.

[4] “Juggernaut” adalah konsepsi dari Anthony Giddens tentang modernitas dan globalisasi merujuk kepada mitologi Hindi, patung Jagannath, yang berupa kereta besar dan konon diarak dan para pengikutnya melemparkan diri untuk dilindas kereta tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: