Media Massa dan “Whistleblower”

media-press-graphic

Pengantar
Media massa dan “whistleblower” menjadi bahasan menarik yang diusung oleh Forum Diskusi Mingguan Perhimpunan Pustaka Lewi (PPL) kali ini. Mengambil tempat di Student Center GMKI Surabaya, hari Sabtu (10/4), hadir narasumber Peter A. Rohi, jurnalis senior yang masih rajin berkiprah dan mencermati perkembangan media massa serta tokoh Kristen yang rajin memberi pencerahan kepada generasi muda mengenai permasalahan kontemporer di negara ini. Dimoderatori oleh Santo AV dari Divisi Litbang Pustaka Lewi, berikut adalah beberapa poin-poin penting yang bisa dicermati sebagai hasil diskusi kemarin sekaligus bahan untuk mendalami permasalahan lebih lanjut.

Menyoroti headline media massa nasional akhir-akhir ini hampir selalu penikmat media akan menemui sosok kontroversial, sekaligus newsmaker, Susno Duadji. Mantan kabareskrim ini mengalami dinamika yang cukup cepat terkait popularitas dirinya di mata masyarakat. Muncul sebagai sosok yang antagonis dalam skandal Bank Century akhir tahun 2009 yang berujung pada pelepasan jabatannya, kemudian narasi cepat berubah ketika akhir-akhir ini Susno memposisikan dirinya sebagai “whistleblower” atau sosok yang membuka skandal sejumlah penyelewengan jabatan dan keuangan di birokrasi dan institusi negara.

Momentum Reformasi Birokrasi
Terkait dengan konteks situasi tersebut, media massa, baik cetak maupun elektronik sangat berperan besar dalam mengangkat peran whistleblower ini. Pemberitaan yang sangat massif dan terkadang dilebih-lebihkan di satu sisi merupakan kelemahan dalam mengontrol kualitas pemberitaan,tapi di sisi yang lain juga sumber kekuatan tersendiri yang menggiring masyarakat pada opini tertentu.

Apalagi, momentumnya sangatlah tepat. Masyarakat secara umum sudah memberi stigma buruk terhadap semua lini birokrasi dan institusi pemerintah. Kasus suap, gratifikasi, biaya calo,sampai makelar kasus, jabatan, dan proyek sudah dimaklumi sebagai suatu hal yang lumrah terjadi. Begitu kasus Gayus Tambunan yang diduga melakukan penyelewengan jabatan dan keuangan di institusi perpajakan terungkap, yang terjadi adalah afirmasi dari semua bentuk kecurigaan sekaligus apatisme masyarakat terhadap reformasi birokrasi yang digalakkan pemerintah.

Media massa menangkapsemangat dan pesan dari aspirasi masyarakat ini untuk meneruskan pekerjaan rumah sejak reformasi yang belum selesai. Di saat itulah muncul sosok Susno Duadji yang kemudian memposisikan dirinya sebagai seorang whistleblower.

Di atas kertas cukup sulit untuk menggambarkan secara jelas bagaimana relasi antara media massa dan whistleblower. Resonansi yang nampak adalah bagaimana media dan whistleblower saling berinteraksi,atau lebih tepatnya bekerjasama, demi tujuan kemanusiaan.

Sisi Pragmatis atau Idealis Media?
Pilihan-pilihan yang harus diambil oleh media massa dalam relasinya dengan seorang whistleblower merupakan suatu pergulatan pemikiran dan moralitas tersendiri. Pertanyaan yang patut diajukan tentu mengarah kepada kedua kutub: apakah media massa akan terjebak pada sisi pragmatisme, ataukah media mampu menonjolkan sisi idealismenya?

Dalam aspek praktik di lapangan,memang tidak ada pilihan yang 100% murni idealis atau 100% pragmatis. Terkadang pula kedua sisi ini tercampur secara alami dan membentuk suatu perspektif baru. Jadi mungkin sangat sulit dan juga kurang komprehensif untuk menilai apakah sosok Susno yang diposisikan sebagai whistleblower benar-benar pilihan pragmatis maupun idealis.

Susno Duadji, sampai saat ini, memang bukan sosok whistleblower ideal,yang bebas dari segala kontroversi maupun potensi penyelewengan di masa lampau, beserta kepentingan pragmatis yang mungkin melekat pada dirinya. Tapi momentum,situasi, serta cita-cita melanjutkan misi reformasi, membuat media massa tidak punya pilihan lain selain mengeksploitasi sisi idealis Susno untuk membongkar segala kedok kejahatan di birokrasi pemerintah.

Sedangkan ribut-ribut mengenai “pragmatisme Vs idealisme” lebih tepat diarahkan kepada paradigma media massa nasional saat ini. Indikator utama terhadap sisi mana yang menonjol adalah seberapa besar dampak pemberitaan mereka terhadap kemanusiaan. Bagaimana mereka mampu memotret kondisi masyarakat kita secara riil mulai di tingkat bawah sampai elit. Dan kebanggaan terbesar bagi pihak jurnalis tentu adalah bagaimana efek pemberitannya bisa mengubah kebijakan pemerintah yang dianggap tidak berpihak pada aspek kemanusiaan.

Paradigma media inilah yang dirasa semakin memudar, baik di tingkat media massa nasional maupun lokal. Substansi media sebagai corong kemanusiaan seakan tergilas oleh banyaknya iklan-iklan komersil, pemberitaan-pemberitaan yang yang kurang berkualitas, maupun kepentingan segelintir oligarkhi tertentu. Indikator keberhasilan media bergeser kepada seberapa besar pemasukan iklan yang diterima perusahaan. Inilah otokritik bagi media massa kita.

Perlunya Media Membangun Visi ke Depan
Media massa, beserta perangkat dan pengaruhnya, merupakan salah satu stakeholder vital dalam pembentukan karakter bangsa ini. Itulah sebabnya kenapa media harus menentukan sikap dan ikut andil dalam membangun visi bangsa ini ke depan.

Tentu saja tugas mulia ini memerlukan beberapa prasyarat mutlak dari keberadaan media massa itu sendiri. Baru-baru ini beredar kabar acara di sebuah televisi swasta yang dipersoalkan mabes polri karena diduga merekayasa cerita mengenai makelar kasus di institusi tersebut mencerminkan kelemahan media massa dari sisi teknis peliputan berita dan kode etik jurnalistik. Tidak berupaya untuk menggeneralisir, tapi fenomena ini juga terjadi di institusi media massa lain karena berbagai faktor.

Ketakutan terbesar para pemilik jaringan media sekarang tentu bagaimana jika mereka sampai kehabisan modal. Karena itu mereka harus berkompromi dengan sisi pragmatisme pasar dan menjalankan manajemen berbasis keuntungan dengan tim pemasaran yang menonjol. Ini merupakan dilema tersendiri yang tentunya bukan tanpa ada solusi.

Jika membuka catatan sejarah, maka kita akan bisa membaca bahwa Sinar Harapan dan Kompas adalah media yang dulu getol menyuarakan misi-misi kemanusiaan dengan dukungan komunitas yang sangat kuat. Para pemangku kepentingan Kristen dipastikan hampir selalu memasang iklan di Sinar Harapan dengan harapan mampu menunjang sisi operasionalnya. Hal yang hampir sama terjadi Kompas yang didukung penuh pula oleh komunitas Katolik.

Dengan kemandirian, serta keberanian untuk mengorbankan keuntungan-keuntungan pragmatisme kapital, karakter media akan muncul dan mampu menunjang satu pandangan visioner tentang bagaimana bangsa ini seharusnya berjalan. Pandangan visioner ini juga harus menyelesaikan permasalahan-permasalahn di masa lampau. Berani mengungkap bahwa ideologi ekonomi maupun budaya kita telah gagal menciptakan pemerataan kesejahteraan dalam masyarakat. Mampu menyuarakan bahwa pandangan dan karakter politik kita juga masih jauh dari sempurna dalam menciptakan masyarakat adil, makmur, dan sejahtera sesuai cita-cita para pendiri bangsa kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: