Diskusi Bedah Buku “Membedah Soteriologi Salib”, Ioanes Rakhmat (2010)

cross

Pengantar

Hari Jum’at, 28 Mei 2010, Perhimpunan Pustaka Lewi, sebagai lembaga tangki pemikir generasi muda Kristen di Surabaya, menggelar diskusi bedah buku Ioanes Rakhmat berjudul “Membedah Soteriologi Salib”. Hadir sebagai pembedah buku adalah Pdt. Joko Waluyo dari GPPS yang juga aktif di Bamag Bojonegoro, dan Romo Irenaius Wiwit Budi Priyono dari Gereja Orthodox Indonesia Patriach Rusia yang berdomisili di Gresik. Kegiatan ini merupakan rangkaian dari kegiatan Pustaka Lewi di Bulan Mei menyambut Hari Kebangkitan Nasional dan Ulang Tahun Kota Surabaya. Diskusi bedah buku ini adalah yang kedua dalam bulan ini setelah membedah buku Gerry van Klinken berjudul “5 Tokoh Penggerak Bangsa yang Terlupakan” pada 20 Mei 2010. Berikut adalah rangkuman dari kegiatan dan pokok-pokok pikiran diskusi yang dimoderatori oleh Andhityas M. Fitroni dari Divisi Litbang Pustaka Lewi.

Membedah Soteriologi Salib sebagai Karya yang Harus Diapresiasi

Dengan tidak mengesampingkan aspek kontroversial serta efek kehadiran buku Membedah Soteriologi Salib (MSS) ini, sebuah karya harus dilihat dari sisi apresiasi maupun kritisi yang konstruktif. Seperti yang diungkapkan oleh Pdt.Joko Waluyo dalam pemaparan pertamanya, kita harus bersikap fair play terhadap karya-karya orang. Dari sisi personal penulis, Ioanes Rakhmat merupakan teolog yang dikenal sangat menggemari pemikiran yang bebas dan liberal, agak cuek terhadap sindiran, tapi mempunyai pondasi yang kuat sebagai seorang teolog, sebuah hal yang jarang kita temui dalam konteks Indonesia.

Hasil karya terbarunya, MSS, dipandang merupakan sebuah pergumulan teologis dengan motivasi ingin menjembatani teologi yang konservatif supaya bisa diterima oleh masyarakat luas. Romo Wiwit melihat konstribusi karya ini selain dari keberanian penulisnya dalam menghadapi arus yang kontra, juga melihat bahwa buku ini akan mendorong kekristenan (Indonesia) untuk terus mencari maknanya, bukan hanya dari Alkitab,tapi juga sumber tertulis lain (ekstra-kanonik). Selain dari kekristenan dengan corak teologi barat, yang menjadi arus utama di Indonesia saat ini, pembaca diajak mengeksplorasi kehidupan dan suasana teologis kekristenan awal dengan berbagai macam variannya.

Dari pespektif sosiologi agama, seperti yang diungkapkan Sdr. Santo AV dari Pustaka Lewi, titik yang dihujam oleh Ioanes Rakhmat, yakni soteriologi atau doktrin mengenai keselamatan (a la barat), mencerminkan pergumulan penulis melihat disfungsinya peran agama dalam kehidupan sosial-masyarakat.  Memakai kerangka agama sebagai realitas sosial dari Peter L. Berger, peran maksimal agama dalam eksternalisasi dan obyektivikasi kehidupan sosial, dan pada akhirnya menciptakan nomos, keteraturan hidup masyarakat, dipahami secara berbeda (menyimpang) oleh masyarakat. Keselamatan sebagai sebuah hal yang sakral dan mulia, justru dipandang sebagai sebuah anugerah cuma-cuma dan sedikit banyak menimbulkan nilai-nilai fatalis dalam masyarakat.

Apresiasi terhadap karya Ioanes Rakhmat ini harus dilihat sebagai kelanjutan trend  pergumulan teologi-teologi di Indonesia. Karya (atau lebih tepatnya pergumulan teologis) dalam sejarah Indonesia modern arus utama tidak terlihat kental perdebatan teologisnya pada masa revolusi dan perjuangan kemerdekaan. Energi seakan terkuras habis untuk mensinergikan kepentingan bangsa dan negara di atas segalanya.Maka tokoh-tokoh Kristen yang muncul seperti GSSJ Ratulangi, Sutan Gunung Mulia, Kasimo, sampai Amir Syarifudin bukan tokoh yang dilahirkan dari embrio gereja. Konsekuensinya, pemikiran-pemikiran besar mereka tidak menyentuh bahkan di tingkat permukaan teologis.

Karya-karya teologis berikutnya dari Eka Darmaputera dan TB Simatupang mencerminkan kegelisahan mereka terhadap agama dan perangkat teologisnya dalam konteks hubungan umat-gereja-masyarakat.  Muncullah usaha penyatuan gereja, dalam artian punya visi dan misi kebangsaan yang sama, dengan menekankan Pancasila sebagai apa yang disebut R. Bellah:“civil religion”. Meskipun tidak mengesampingkan pemikiran-pemikiran teolog-teolog besar Kristen yang lain, seperti Th Sumartana, atau Martin Lukito Sinaga, usaha perdebatan teologis secara umum masih menerpa ruang hampa dan sepi apresiasi umat. Apakah karya MSS ini nantinya akan muncul sebagai avant garde perdebatan teologis, dalam artian yang sebenarnya?

Membedah Soteriologi Salib sebagai Karya yang Harus Dikritisi

Dari dimensi emosional teologis maupun personal mungkin akan sangat banyak sekali nada-nada ketidaksukaan terhadap sebuah karya teologis yang dinilai menyimpang dari arus utama (mainstream). Buku MSS bisa dikategorikan sebagai salah satu buku teologis yang berposisi rawan seperti itu. Dari beberapa nada kritisi yang bisa disaring dalam pemahaman rasional dan kepala yang dingin adalah mengenai substansi dari buku itu sendiri.

Buku yang disusun secara menarik dan mengkritisi kiblat keselamatan melalui salib yang sayangnya justru bertindak kontraproduktif. Pdt. Joko Waluyo menilai bahwa karena muatan buku ini sangat mencemooh keyakinan kaum protestan maupun injili secara umum, terutama orang yang berpegang pada inerensi alkitab, maka berefek kontraproduktif dari tujuan mulia buku ini yang ingin menumbuhkembangkan suasana diskusi rasional.

Beberapa argumentasi yang digunakan oleh Ioanes Rakhmat dalam usahanya menolak soteriologi salib juga dinilai bermasalah secara filosofis maupun biblika. Hal-hal yang dipahami sebagai unsur kekerasan dalam konsep soteriologi salib tidak bisa diartikan secara kaku pula bahwa agama Kristen melegitimasi dan sangat berhasrat pada kekerasan ataupun kematian. Perayaan Jum’at Agung misalnya lebih menonjolkan aspek keyakinan teologis dan historis terhadap peristiwa itu, bukannya melegitimasi kekerasan. Proposal penulis mengenai soteriologi teosentris, dimana Allah mendatangi langsung tanpa perantara, kemudian bergerak kepada soteriologi logosentris, kepada sumber-sumber keselamatan alternatif dari pseudo injil, dan pada tahap berikutnya menuju soteriologi humanosentris, dimana manusia berbakat genetis untuk menjadi allah justru menggelisahkan. Menggelisahkan dalam artian bahwa satu jalan keselamatan saja sudah banyak mendatangkan gugatan, apalagi banyak alternatif, yang dirasa justru tidak menyelesaikan masalah.

Sementara itu Romo Wiwit melihat ada dua hal penting yang patut mendapat sorotan tajam. Pertama adalah sisi human sentris dari tulisan tersebut sangat mencerminkan pola teologi barat yang sangat menekankan bahwa keselamatan akan dicapai oleh usaha manusia saja. Hal yang dipandang akan menemui kesulitan dalam aspek rohaniah tubuh dan jiwa. Pola-pola pikir alternatif yang lain masih belum banyak dieksplorasi sebagai jawaban bagaimana pola pikir teologis itu seharusnya bekerja.

Romo Wiwit juga menilai aspek kehati-hatian dalam memilih referensi atau rujukan yang menjadi pondasi argumen dalam MSS. Dalam beberapa bagian buku MSS, penulis menganjurkan dan mengajak pembaca ke dalam kekristenan mula-mula yang secara doktrinal diragukan. Contohnya adalah Kekristenan ebion/ebionit dan beberapa sumber pembanding dari barat, injil Thomas, injil lain, serta berusaha memperkenalkan kekristenan perdana di Syria yang secara sejarah bukan bagian kekristenan resmi (arus utama) karena menganut paham gnostik (kepercayan yang serba dua), dirasa akan menimbulkan permasalahan teologis tersendiri nantinya.

Dari segi substansi teologis buku MSS maupun eksistensinya bagi perkembangan teologi di Indonesia memang banyak kritisi yang muncul. Argumentasi-argumentasi yang oleh pembaca masih dirasa absurb menjadi tantangan tersendiri bagaimana harus disampaikan dalam tataran ilmiah yang ada. Teologi, seperti kegelisahan para teolog Jerman,  memang kadangkala bersikap seolah-olah tidak ada apa-apa yang terjadi di dunia ini, tapi bagaimana mewartakan suatu ide teologis yang kontekstual dengan kondisi masyarakat adalah sebuah tantangan tersendiri.

Sebuah Kesimpulan Awal dari Membedah Soteriologi Salib

Berangkat dari premis Max Weber bahwa setiap (konstribusi) ilmiah selalu meminta untuk ‘dilampaui’ dan ‘ditinggalkan’, maka buku MSS ini harus mendapat porsi apresiasi dan kritisi secara adil. Trend diskusi maupun debat teologis secara apple to apple mungkin belum menjadi hal yang bisa diterima oleh masyarakat. Keberadaan ilmu pengetahuan, terutama ilmu-ilmu sosial yang mempelajari agama, seakan juga enggan menembus area perdebatan ini mungkin dengan pertimbangan kepentingan personal yang melekat pada ilmuwannya.

Kehadiran MSS dalam konteks Indonesia mempunyai banyak dimensi sekaligus makna yang harus disikapi secara dewasa. Membangun otokritik terhadap pembangunan teologi supaya belajar terbuka dan bersikap realistis terhadap keragaman teologi adalah hal pertama yang muncul sebagai respon dari kehadiran MSS. Hal berikutnya adalah bagaimana energi yang muncul dari perdebatan-perdebatan ini bisa disinergikan kemudian diarahkan sebagai kekuatan konstruktif bagi semua umat dalam memberi konstribusi bagi bangsa ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: