Peter L. Berger: Protestanism and the Quest for Certainty

berger-photo

Dinamika pemikiran mengenai agama dari kacamata ilmu sosial menjadi dimensi yang hadir dan sekaligus memperkaya pemahaman kita untuk melihat secara partikular agama itu sendiri. Peter Ludwig Berger, adalah salah seorang yang berdiri dari sisi ini. Tanpa melepaskan status kepercayaan yang diyakininya, penulis buku ‘The Sacred Canopy’ ini mampu menghadirkan pembicaraan tanpa putus dan penuh semangat akan agama dari kerangka ilmu sosial. Tulisannya berjudul ‘Protestanism and the Quest for Certainty’ dipublikasikan dalam The Christian Century 26 Agustus-2 September 1998, halaman 782-796, dan berikut adalah intisari dari pemikirannya tersebut.

Sesuai dengan judulnya,pencarian akan suatu kepastian, dalam konteks religius, bertitik tolak dari dua premis awal yang diajukan Berger di awal tulisan ini. Dua premis awal tersebut adalah satu koreksi dan satunya lagi pemahaman. Koreksi akan pemikiran Berger sendiri muncul tatkala harus merevisi hampir semua tesis terhadap agama di dekade 1950-an dan 1960-an yang menyebutkan modernitas akan menggilas keberadaan agama. Keberadaan modernitas dan globalisasi dengan semangat rasionalisasi yang ketat ternyata tidak menghapus eksistensi agama.  Fenomena yang disebut penuh teka-teki sekaligus jebakan jika kita terlalu intens memperdebatkan kenapa hal itu terjadi.

Kedua, pemahaman yang mendalam diperoleh Berger menyebutkan bahwa situasi pluralistik dan keberadaan pluralisme, sebagai salah satu konsekuansi modernitas,  akan melemahkan penerimaan apa adanya (taken-for-grantedness) dari sistem nilai dan kepercayaan, dalam konteks ini adalah protestanisme. Pluralisme sebagai koeksistensi dan wadah interaksi sosial bagi berbagai ragam entitas yang berbeda mempengarui secara halus tapi signifikan, terutama dalam proses sosialisasi yang bukan lagi seragam, tapi bermacam-macam. Proses sosialisasi yang bermacam-macam sebagai kondisi yang disyaratkan pluralisme memproduksi tafsir realitas yang punya banyak dimensi dan inilah yang akan melemahkan fenomena taken-for-granted. Pencarian akan kepastian  akan segera dimulai dari sini.

Unsur kepastian adalah sesuatu yang vital sekaligus inheren dengan agama itu sendiri. Kepastian akan janji keselamatan, kepastian akan datangnya mesias, sampai kepastian akan kebenaran dari agamanya sendiri adalah sumber dinamika pemikiran agama. Klaim-klaim absolutisme yang selama ini dibawa oleh agama mulai kehilangan legitimasinya tatkala situasi pluralistik menjamin kebebasan klaim-klaim tersebut disorot dari berbagai dimensi dan perspektif. Protestanisme di Amerika Serikat juga mengalami gejolak akan pencarian kepastian tersebut. Dan Peter Berger mengklasifikasikan tiga jalan yang selama ini ditempuh untuk memperoleh kepastian tersebut.

Pertama, pencarian akan kepastian tersebut bisa didapat melalui institusi keagamaan, yaitu gereja. Kecenderungan ini bisa kita temui dalam komunitas Anglikan, Lutheran (khususnya di wilayah Skandinavia), dan di lingkungan gereja-gereja timur yang sekarang kita sebut gereja ortodoks. Bentuk yang paling sempurna dari dimensi ini tentu saja katolik roma dengan sentralitas kekuasaan ilahian di Vatikan.

Kedua,basis akan kepastian dan absolutisme bisa ditemukan dalam lingkungan yang mendasarkan diri pada basis biblikal kitab suci. Semua fenomena akan diterjemahkan selaras dengan pemahaman biblikal yang juga dilematis karena sifat teks itu sendiri yang multitafsir. Dasar rasionalitas dan metode berpikir yang ketat ini menjadi corak dominan kalangan protestan di AS. Dalam klasifikasi yang lebih partikular, komunitas ini yang secara populer disebut sebagai kaum injili (evangelical).

Dan yang ketiga, kepastian bisa ditemukan lewat pengalaman religius itu sendiri. Jawaban-jawaban yang dirasakan dan dialami lewat pengalaman-pengalaman religius ini bisa kita temui dalam spektrum yang sangat luas, mulai kalangan methodis sampai denominasi pentakosta yang menjadi “bintang panggung” kekristenan kontemporer. Kondisi pengalaman religius ini seringkali juga dimediasi oleh para tokoh agama kharismatik, para santo dan santa, serta perangkat agama lain yang dianggap merepresentasikan kuasa keilahian.

Dan seperti yang diungkap Berger, tiga basis kepastian tersebut, saling menegasi satu sama lain dengan dialektika yang menarik. Absolutisasi dari institusi keagamaan dilemahkan legitimasinya oleh prinsip ecclesia semper reformanda. Kekokohan basis teks dari kitab suci dibelokkan oleh metode eksegis yang dikembangkan Luther. Nasib serupa dialami oleh mereka yang mengagungkan pengalaman personal ketika arus utama Lutheran, Calvinis, dan para teolog Anglikan menyerang mengecilkan arti ‘enthusiasme’. Belum lagi jika kita memasukkan proses deligitimasi dari luar. Sumber utamanya adalah kemajuan ilmu pengetahuan dari peradaban manusia.

Menariknya, Berger berusaha mendamaikan jurang tak terkira di antara dua kutub, relativisme dan absolutisme ini dengan merujuk pemahaman Protestan terhadap Lord’s Supper. Protestanisme klasik menurutnya di satu sisi menolak pemahaman ‘kiri’ bahwa sakramen tersebut murni pengalaman manusia dan simbolik tanpa ada unsur supranatural di dalamnya. Dan di sisi lain, protestanisme menolak doktrin transubstansiasi . Kehadiran kristus dalam sakramen memang diakui, dalam pemahaman Lutheran: in, with, and under, tapi tanpa menghadirkan transformasi metafisis dari realitas.

Peter L. Berger meminjam istilah ‘quest for certainty’ ini dari John Dewey untuk menunjukkan vitalitasnya dalam kehidupan manusia. Pencarian akan kepastian terhadap agama dalam situasi pluralistik, dalam konteks AS khususnya, menimbulkan tantangan baru dalam menjalankan syiar kekristenan dan praktik keagamaan dalam ruang publik. Melakukan reformulasi dengan konsekuensi status agama yang lebih “weak” adalah salah satu kebutuhan mendesak. Apakah fenomena ini juga terjadi dalam kekristenan di Indonesia?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: