Nasionalisme pada Pemuda?

nationalism

Tulisan singkat ini akan mencoba menelisik fenomena permukaan dan membawanya kepada pemahaman yang lebih mendalam terhadap bagaimana penilaian eksistensial pemuda Indonesia terhadap nasionalisme di tengah struktur globalisme dengan perangkat teknologi informasi yang menerobos sekat-sekat wilayah maupun waktu. Perspektif yang akan digunakan dalam bahasan kali ini adalah sudut pandang budaya, dalam artian pemahaman dan reaksi menusia terhadap pergolakan jamannya.

Narasi-narasi mengenai kepahlawanan dan peran dominan para pemuda dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan selalu kita dengar setiap perayaan kebangsaan. Merekalah yang menjadi generasi pendobrak (avant garde) sekaligus pembuka jalan bagi merekatnya bangsa dan negara ini dengan segala kelemahan ataupun kelebihannya. Merekalah anak-anak jaman yang mampu menangkap semangat jaman dan mengartikulasikannya secara tepat dan visioner.

Melompat 65 tahun setelah peristiwa kemerdekaan dan 82 tahun setelah kebulatan tekad yang dirumuskan lewat Sumpah Pemuda, perasaan dan semangat jaman itu tampaknya memerlukan pendefinisian yang lebih mengena dengan kekinian.

Globalisasi, modernitas, internasionalisasi, budaya pop, merupakan kata-kata yang amat sering kita dengar,sampai-sampai pengartiannya tidak terlalu penting. Kata-kata itu secara bertahap mensubstitusi konservatif, tradisionalisme, budaya elit, budaya klasik, sekaligus menciptakan moda baru bagaimana manusia bereaksi dan antisipatis terhadap dinamika jamannya. Pemuda tak ayal lagi menjadi pemeran utama dalam episode jaman kita sekarang ini.

Maka, karakter, atau tanda-tanda jaman yang tersaji bagi pemuda saat ini adalah: kecairan budaya massa, gaya hidup yang dilebihkan, terciptanya realitas virtual, serta keilmuan dan teknologi sebagai panglima. Inilah keempat faktor utama yang nantinya akan terus bergelut dengan dimensi nasionalisme.

Kecairan budaya massa memanfaatkan secara optimal kemajuan teknologi informasi dan transportasi. Kecairan di sini juga bisa dibaca sebagai hilangnya demarkasi budaya elit dan budaya massa. Budaya massa, seperti musik pop, gaya berpakaian, makanan cepat saji, bahkan gaya beribadah di gereja, memassa-kan budaya elit, sekaligus mengelit-kan budaya massa.

Gaya hidup yang dilebihkan, hiper-realitas, yang ditunjang industri kebudayaan, meminjam tinjauan akademis dari Jean Baudrillard (1987), bisa dipadatkan maknanya dengan proposisi: “more social than the social (the masses), more violent than the violent (terror), fatter than fat (obesity), more sexual than sex (obscenity), more real than real (simulation), more beautiful than beautiful (fashion)”.

Terciptanya realitas tak terbantahkan lagi muncul sebagai efek kemajuan teknologi informasi. Jejaring sosial di internet, ruang-ruang publik dan privat di dunia maya, di satu sisi memunculkan sinisme bahwa itu dunia yang tidak berpijak pada realitas (virtual reality). Tapi di sisi lain kita harus mulai mencermati, bahwa ada realitas dalam dunia virtual tersebut (the reality of the virtual).

Dan di atas itu semua, ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi struktur yang menjadi perangkat utama kebudayaan. Tren teknologi dan keilmuan melompat sangat jauh sehingga nilai-nilai tradisional, seperti norma sosial, agama,ataupun kultur tradisional, gagap ketika harus menyikapi setiap perubahan tersebut. Konsekuensinya, nilai-nilai tradisional tersebut dianggap tidak relevan lagi dengan perkembangan jaman.

Asupan-asupan sejak lahir sampai tua mengenai budaya, teknologi, transformasi, informasi, dan keilmuan, membentuk secara umum tiga reaksi pemuda terhadap jamannya, terutama menyingkapi nasionalisme.

Yang pertama adalah sikap konservatisme yang memegang teguh nilai-nilai dan artikulasi budaya-budaya lama yang diwarisi secara turun-temurun. Sikap defensif sekaligus proteksionisme yang sekarang sangat jarang kita temukan rujukan empirisnya.

Kedua, adanya suatu mix, percampuran kedua sisi tradisionalisme dan modernisme. Situasi yang cukup nanggung, tapi bisa kita temukan rujukan empirisnya pada percampuran unsur-unsur global dan lokal pada dunia musik Indonesia, terutama musik dangdut.

Dan sikap yang ketiga adalah kemunculan budaya baru sebagai hasil transformasi nilai-nilai tradisional kepada perubahan jaman. Budaya makan di restoran fast food, budaya transaksi keuangan secara elektronik, mode baru dalam berinteraksi secara sosial di internet adalah beberapa contohnya.

Jadi,kesimpulan awal yang harus dimaklumatkan kali ini adalah: apakah budaya kekinian pada pemuda ini akan mengeliminasi nasionalisme, atau bisa memperkuat jati diri nasionalisme itu sendiri, ataukah justru memunculkan nasionalisme gaya baru?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: