Pakistan setelah Kematian Taseer

Salman-Taseer-007
Salman Taseer, 64 tahun, mungkin tidak sepopuler Benazir Bhutto, tapi pencapaian yang dilakukannya di bidang politik dalam menghadapi berbagai kelompok fundamentalis Pakistan, menorehkan sesuatu yang tak mungkin akan dilupakan dunia rakyat Pakistan dan dunia.Dan tanggal 4 Januari 2011, menjadi hari terakhir perjuangannya di dunia ini ketika pengawal pribadinya, Malik Mumtaz Qadri, memberondong sang Gubernur Punjab dengan senapan, tentu saja dengan dalih membela fundamentalisme agama, motif yang mirip dengan kematian Benazir Bhutto.

Muncul sebagai sosok vokal, cenderung berpikir liberal, dan berkarakter politik secara demokrat, menjadikan politisi yang berlatar belakang pengusaha ini menjadi salah satu “target” untuk dibungkam. Yang terakhir menjadi puncak kemarahan kaum fundamentalis di Pakistan adalah keberanian sang Gubernur dalam membela Asia Bibi, seorang wanita Kristen yang dikenai tuduhan kriminal dan terancam hukuman mati melalui undang-undang penghinaan agama (blasphemy), yang tentu saja kontroversial sekaligus absurb untuk ditafsirkan.

Undang-undang penghinaan agama ini tak terlepas dari sejarah Pakistan sebagai wilayah (negara) yang memisahkan diri dari India dengan faktor agama (Islam) sebagai landasan utamanya. Pertama kali diterapkan oleh Kaum Kolonial, undang-undang ini justru dipelihara dan diberi daya destruktif (hukuman mati) oleh kediktatoran militer pada dekade 1980-an.

Kembali kepada sosok Salman Taseer, setelah menempuh pendidikan tertingginya di London, Taseer memulai karir politiknya di Pakistan Peoples Party (PPP) sejak tahun 1960-an. Karirnya terus melaju dengan menjadi anggota dewan perwakilan rakyat di Punjab, sempat duduk di kementrian Industri, dan sejak pertengahan 2008 dipercaya oleh koalisi PPP untuk duduk sebagai Gubernur Punjab.

Kedudukan politik yang terus melaju seiring dengan berbagai ancaman serta tuduhan kelompok fundamentalis di Pakistan. Selain dukungan terhadap Asia Bibi yang sekaligus menandai perlawanan kelompok liberal Pakistan terhadap usaha amandemen undang-undang penghinaan agama. Rancangan yang sudah diajukan kepada parlemen Pakistan ini berusaha menghapus hukuman mati dan secara umum bertujuan meminimalisir kegagalan dalam mencapai keadilan (miscariage of justice). Resistensi langsung muncul dengan unjuk rasa sekitar 50 ribu orang menentang amandemen tersebut.

Selain itu Taseer secara terang-terangan juga membela keberadaan kelompok Ahmadiyah. Kita bisa sedikit berimajinasi dengan melakukan sedikit perbandingan berikut. Indonesia, yang dikenal sebagai muslim (yang mayoritas) moderat sebagian kelompoknya menolak keberadaan Ahmadiyah secara terang-terangan, bahkan melakukan kekerasan fisik, bagaimana dengan penolakan kelompok fundamentalis Pakistan yang punya reputasi “ringan tangan” dalam mengangkat senjata. Sebut saja insiden pembakaran gereja pada Agustus 2009 setelah muncul isu yang meragukan kitab suci Islam, atau penyerangan dua masjid Ahmadiyah pertengahan tahun lalu, bahkan kelompok Islam Shiah juga diserang pada September lalu yang menewaskan 35 orang.

Kematian tragis Taseer, mengingatkan kembali akan kematian Benazir Bhutto, dan memperburuk kesempatan bagi reformasi di Pakistan tanpa kehadiran kekerasan atas nama agama. Atas berbagai musibah dan semakin luasnya ruang gerak kelompok fundamentalis Pakistan, ada banyak pihak yang bisa disalahkan sekaligus dikoreksi.

Kelompok militer, pada dekade 1970-an bisa dituding sebagai biang munculnya banyak kelompok fundamentalis. Diktator Zia ul Haq melakukan kudeta tahun 1977 dan langsung menerapkan apa yang disebutnya sebagai hukum syariah. Penerusnya dari kelompok militer melanjutkan tradisi ini dan bahkan menggunakan “jasa” kelompok ekstrimis ini untuk menghadapi Afghanistan dan India. Kondisi serupa juga terjadi pada kaum politisi yang terlanjur menggunakan kelompok-kelompok tersebut untuk mencapai kekuasaan. Campur tangan asing (Amerika Serikat) juga tidak banyak membantu, malah pilihan kebijakan luar negeri (terhadap Perang Irak, Afganishtan, dan Iran) justru menimbulkan antipati yang lebih luas.

Sambil terus berdoa agar reformasi sosial-pemerintahan akan terjadi di Pakistan, ada baiknya mencoba melihat fenomena ini dari kacamata ke-Indonesia-an kita. Akar konflik berupa, dari apa yang bisa kita sebut kelompok fundamentalis agama versus kelompok yang lebih moderat (liberal) termanifestasi secara sempurna dalam intrik-intrik kekuasaan dan pemerintahan. Karena itu sangatlah kompleks untuk mengurai dari awal kekacauan di Pakistan. Hampir seluruh elemen bangsa terlibat, mulai dari militer, politisi, kelompok tradisional, sampai para tokoh agama. Kelompok inilah yang diperhadapkan vis a vis dengan para politisi berpandangan liberal seperti Bhutto maupun Taseer. Menggugat otoritas penafsiran agama kelompok fundamentalis yang sudah termaktub dalam konstitusi sama artinya dengan melawan para penguasa pemerintahan.

Kondisi di Indonesia memang tidak memiliki anatomi konflik dengan tingkat kedalaman seperti di Pakistan tersebut. Tapi bagaimanapun juga, potensi seperti itu masih terbuka lebar. Bibit-bibit fundamentalisme agama selalu hadir di sepanjang jaman, dengan manifestasi kekerasan fisik maupun kekerasan pikiran terhadap kelompok minoritas, seperti yang dialami kelompok Ahmadiyah sekarang.

Dari berbagai perspektif literatur, ada banyak solusi yang diajukan untuk melakukan resolusi masalah tersebut. Dari sisi kontestasi ideologis, harus ada penetrasi ideologi yang lebih moderat, kemudian penekanan institusional akan melihat aktor negara sebagai tangan kuat yang mengontrol munculnya fundamentalisme dan kekerasan atas nama agama, atau juga bisa dilihat dari sisi struktural dimana kepentingan ekonomi-politik menjadi invisible hand yang mengendalikan (memanipulasi) semua kontestasi tersebut.

Apakah modus pembasmian para tokoh publik mengatasnamakan pembelaan terhadap agama adalah cara terbaik, setidaknya bisa kita lihat dalam kasus Pakistan sekarang, dalam menentukan kebenaran. Metode yang dalam khazanah peradaban modern tergolong usang ini dulu dalam sejarah dunia kita juga temukan dalam model inquisition. Maka populerlah istilah “martir” yang merujuk kepada orang benar yang dikorbankan (atau mengorbankan diri) untuk mengungkap suatu kebenaran bagi generasi berikutnya. Mengingatkan kita akan kata-kata yang dikutip oleh William James bahwa “metode satu-satunya untuk menentukan kebenaran religius adalah kemartiran.

Sampai akhir tulisan ini, kita harus sepakat bahwa metode kemartiran bukan sesuatu yang mutlak diperlukan untuk membuktikan kebenaran dalam konteks peradaban manusia sekarang. Biarlah Salman Taseer, Lion of the Punjab, menjadi martir terakhir yang kita lihat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: