Daniel Bell = Sosialis + Liberal + Konservatif

Daniel-Bell-007

Hari itu, seorang anak keturunan Yahudi berumur 13 tahun mengambil sebuah keputusan mahabesar dalam hidupnya. Dengan mengeraskan hati dan membulatkan tekad, ia memproklamasikan keputusannya kepada seorang rabbi dengan berkata, “Aku sudah menemukan apa itu kebenaran. Aku sudah tidak percaya lagi pada Tuhan…Sekarang, aku sudah bergabung dengan Liga Anak Muda Sosialis”. Tanpa dinyana, sang rabbi balik berkata: “Baik nak, kamu tidak percaya pada Tuhan. Sekarang coba katakan kepadaku, kamu pikir apa Tuhan peduli?

Anak yang berusia 13 tahun itu dicatat oleh sejarah akan terus mempertahankan pendapatnya tersebut, bahkan si sosialis kecil ini kelak menjadi salah satu orang paling berpengaruh bagi dunia pemikiran, di Amerika Serikat tentunya. Dia adalah Daniel Bell, salah satu personal yang patut kita cermati, sekaligus untuk menghormati dedikasinya sampai hari kematiannya, 25 Januari 2011.

Daniel Bell, yang mewarisi nama keluarga Bolotsky, tidak hanya belajar sosialisme, tapi juga sosiologi. Ini yang mengantarnya tidak hanya menjadi pelajar, tapi aktivis yang gandrung menggumuli permasalahan sosial di sekitarnya. Setelah lulus dari City College of New York (CCNY) tahun 1938, Bell muda hanya singgah setahun di Columbia University, yang kemudian ditinggalkannya begitu saja untuk menjadi seorang jurnalis. Salah satu publikasi berpengaruh yang pernah diurusnya adalah jurnal The New Leader.

Karir akademisnya sendiri dimulai tahun 1945 dengan mengajar ilmu sosial di University of Chicago. Setelah menempuh doktoral di Columbia, karirnya berlanjut di Harvard dan memperoleh jabatan prestisius, Henry Ford II Professor of Social Sciences tahun 1980.

Layaknya para pemikir yang lain, sumbangan Daniel Bell terhadap dunia pemikiran bisa kita telusuri lewat karya-karyanya, yang terkesan futuristik (social forecasting), terutama mengenai kondisi masyarakat paska-industrial (post-industry society).

Karya pertamanya yang muncul di publik adalah Marxian Socialism in the United States. Menunjukkan minat yang mendalam terhadap sosialisme, Bell menelisik kenapa sosialisme tidak muncul di Amerika Serikat, bahkan di saat krisis ekonomi parah. Kesimpulannya sederhana tapi cukup mengena: sosialisme sebagai sebuah sistem terlalu kaku bagi masyarakat Amerika Serikat yang berkultur liberal.

The End of Ideology (1960), yang merupakan kumpulan essai yang ditulis Bell sepanjang dekade 1950-an, menjadi tanda-tanda jaman pertama yang ditulis oleh Bell tentang masyarakat modern dengan inspirasi memudarnya pengaruh Uni Soviet. Berbagai ide-ide berbasis humanisme, dilihat akan terus luntur oleh berbagai tekanan jaman, dan digantikan oleh sistem pemikiran yang sempit. Sempit dalam pemaknaan bahwa masyarakat akan bersikap lebih praktis, daripada teoritis, empirisisme akan lebih diutamakan daripada teori. Orientasi praktisnya tersaji di alinea berikut: “The ladder to the City of Heaven can nolonger be a ‘faith ladder,’ but an empirical one. A utopia has to specify where one wants to go, how to get there, the costs of the enterprise, and some realization of, justification for the determination of who is to pay.”

Dalam karya berikutnya, The Coming of Post-Industrial Society (1973), Bell memproklamirkan datangnya era masyarakat paska-industri. Masyarakat paska-industri tidak lagi berbasis pada industri, tapi mengalami pergeseran kepada basis informasi dan jasa, ditunjang oleh generasi baru ilmu pengetahuan dan teknologi yang menopang industri, serta bermuara kepada lahirnya kelas baru dalam masyarakat. Kelas baru sekaligus stratifikasi sosial masyarakat paska-kapitalis ini diulas lebih mendalam di tiga karyanya yang lain: “Work and Its Discontents”, “The Reforming Education”, dan “The Cultural Contradicitions of Capitalism”.

The Cultural Contradicitions of Capitalism (1976) bisa dinilai memiliki nilai-nilai moralitas yang mendalam tentang bagaimana kita menyikapi sistem ekonomi kapitalis. Secara detil dengan nuansa paska-modern yang cukup kental, Bell menggambarkan bagaimana kapitalisme dan budaya saling berkaitan satu sama lain untuk melahirkan cara produksi dan konsumsi baru masyarakat paska-industri.Buku ini pula yang menjadi inspirasi bagi pidato kenegaraan Jimmy Carter yang menyoroti krisis spiritual masyarakat Amerika Serikat di tengah hantaman krisis ekonomi. Pidato yang mungkin sejalan dengan sinisme ditulis Bell: “The greatest single engine in the destruction of the Protestant ethic was the invention of the installment plan, or instant credit.”

Pengaruh yang cukup besar di kalangan sesama akademisi dan para pengambil kebijakan tidak menutupi beberapa kritik tajam terhadap pemikiran pria kelahiran New York ini. Beberapa pihak melabeli Bell, yang menikah tiga kali, dengan sebutan kelompok neo-konservatif, karena kecurigaan mendalam Bell terhadap setiap bentuk ekstrimisme. Dari sisi pendekatan keilmuan, tradisi fungsionalisme dan penekanan terhadap dimensi struktural ekonomi yang dominan, membuat pembacanya akan selalu mengingat sosok Karl Marx dengan determinisme ekonominya. Bell sendiri tidak menyangkal hal tersebut dan melihat relevansi ekonomi dan struktur sosial cukup kuat.

Ada beberapa hal yang harus terus kita ingat terhadap pencapaian Daniel Bell. Yang pertama adalah komitmennya kepada moral dan etika. Sosialisme sebagai ide yang terus ia gumuli tidak begitu saja melunturkan pengutamaan nilai-nilai moralitas dalam setiap sisi pemikirannya. Salah satu indikator nilai-nilai tersebut bisa kita lihat tentang bagaimana dia mendeskripsikan universalisme identitasnya.

Lihat saja bagaimana ia berusaha mendefinisikan dirinya sebagai seorang Yahudi: “I am Jewish (but) I am not a Jew by faith in the fundamentalist sense; I’m not believer in the narrow sense.i am a Jew by fate in terms of who we are. And that, it seems to me, has always been true, that Judaism has never been religion. Judaism is defined as being a people.”

Kemudian, konsepsinya tentang perubahan sosial masyarakat, dengan segala kekuatan dan kritisi terhadapnya, konsisten menempatkan negara kesejahteraan (welfare state) sebagai yang utama dengan landasan liberalisme a la Amerika Serikat. Ini pula yang menempatkan Bell sebagai akademisi yang berkonstribusi langsung kepada negara dan bangsanya dengan ikut langsung dalam proses perumusan kebijakan publik. Dalam tingkat komparasi yang berbeda, kita bisa menempatkan status Daniel Bell dan Richard Rorty dalam satu wadah yang berlabel pragmatis dan nasionalis, karakter akademisi Amerika Serikat yang menjadi inspirasi generasi penerusnya.

Inilah sepenggal narasi kehidupan seorang Daniel Bell yang menjadi warisan bagi generasi penerusnya, seorang yang dengan percaya diri berkata : “I am a socialist in economics, a liberal in politics, and a conservative in culture”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: