Ketika Generasi Muda Bicara Agama

youth

Hari Kamis (10/3) siang, penulis mendapat kesempatan berharga untuk mewakili sebuah organisasi keagamaan di Surabaya, melakukan dialog antar umat beragama yang diprakarsai oleh Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Surabaya. Ada beberapa catatan menarik, sekaligus mengganjal dari pertemuan tersebut yang patut dikemukakan di sini.

Memang ini bukan pertama kali penulis mengikuti dialog antar umat beragama, dan bukan kali ini saja penulis mengikuti berbagai forum dengan tema-tema bernuansa konflik keagamaan, seperti yang diperbincangkan kemarin mengenai keberadaan Ahmadiyah. Tapi, nuansa forum tersebut menjadi agak berbeda karena sekitar tiga puluh orang pesertanya adalah anak muda, dalam pemahaman sederhana, usianya belum melewati batas tiga puluh tahun.

Diskusi yang diprakarsai dan dihadiri langsung oleh Konsul AS tersebut membahas isu yang sedang panas, problem eksistensi Ahmadiyah yang semakin terancam akibat dikeluarkannya berbagai peraturan di tingkat daerah yang melarang keberadaan aliran minoritas ini. Dari pengantar yang penulis tangkap, forum ini berusaha menggali pendapat dari sisi anak muda yang menjadi representasi organisasi keagamannya masing-masing tentang bagaimana pendapat dan sikap mereka dalam masalah tersebut.

Seperti forum pembicaraan antar-umat-beragama yang lain, suasana diskusi cukup gayeng, lancar, dan bahkan tanpa perdebatan berarti tentang satu hal yang prinsipil sekalipun. Di awal forum ini memberi kesempatan bagi para pemuda Indonesia yang sempat menjalano program pertukaran pelajar dan menceritakan bagaimana tercipta kerukunan beragama di AS. Seperti yang penulis duga, walaupun tidak steril terhadap konflik keagamaan, pandangan mayoritas akan mengungkapkan bagaimana masyarakat di sana cukup dewasa untuk menerima pluralitas keagamaan.

Pendapat hampir semua dari rekan-rekan diskusi penulis sama semua. Mereka menilai kebebasan beragama patut ditegakkan karena itu menyangkut hak asasi dan konteks pluralisme maupun multikulturalisme harus dihadirkan di bumi nusantara tercinta ini. Pendapat bernuansa moralis sekaligus normatif yang penulis yakin akan sama dengan pendapat para “tetua” atau pimpinan organisasi keagamaan mereka. Tapi apakah itu yang benar-benar menjadi pandangan mereka?

Untuk menjawab keraguan tersebut, ketika mendapat kesempatan berbicara, penulis mencoba berbicara secara lugas dan dalam tataran se-realistis mungkin. Agama, walaupun berakar dalam hal yang sama, seperti agama-agama Samawi, tetaplah suatu entitas yang berbeda. Pandangan agama-agama atau berbagai keyakinan terhadap satu hal yang sama akan bisa berbeda, dan perbedaan tersebut cukup fundamental. Bukan hanya dalam kasus Ahmadiyah yang punya pandangan berbeda dalam menilai status religi seorang personal, dalam komunitas Kristen sendiri juga muncul konflik-konflik keagamaan karena berbeda pemahaman akidah.

Lebih lanjut, penulis melihat bahwa pendekatan-pendekatan konfliktual akan cukup relevan dalam memahami berbagai anatomi konflik keagamaan. Dan secara lebih komprehensif, pendekatan tersebut akan diperlengkapi dengan berbagai penyebab konflik struktural, seperti kepentingan-kepentingan tersembunyi (vested interest) politik, kekuasaan, maupun ekonomi yang bisa meng-eskalasi konflik keagamaan di titik ekstrim. Pendapat tersebut, sekaligus penulis ungkapkan untuk tidak menjadikan konsep-konsep pluralisme maupun multikulturalisme, atau lebih jauh lagi: sekularisme dalam artian ketatanegaraan, sebagai obat mujarab (panacea) bagi setiap potensi konflik keagamaan di republik ini.

Hakekat dari suatu konflik, termasuk konflik agama, selalu didasari dan di-drive oleh ketidakseimbangan, ketidakadilan, maupun ketidakmerataan sumber daya dalam masyarakat. Keadaan yang tidak simetris tersebut bisa muncul karena eksploitasi sesama manusia, penindasan terhadap hak-hak tertentu dalam masyarakat, ataupun modus yang melangkahi norma-norma keagamaan. Celakanya, oknum yang melakukan modus-modus ini sekarang bertindak sebagai “free rider” dan menggunakan agama sebagai sarana pencapaian tujuannya.

Rupanya, pandangan rekan-rekan diskusi saya cukup beragam menanggapi konstruksi pemahaman ini, terutama dalam konteks permasalahan Ahmadiyah. Ada yang menerima pandangan realistis tersebut secara kompromistis, walaupun tetap melihat dari kacamata “perbedaan akidah” yang mulai berani diucapkan. Hal yang di awal sampai pertengahan diskusi tidak penulis dapatkan.

Tapi ada pula yang mengungkapkan secara lugas dan terbuka kepada penulis, walaupun ketika sudah di luar forum. Mereka melihat bahwa memang ada kepentingan-kepentingan ekonomi maupun politik tertentu yang “mendiami” berbagai organisasi keagamaan, dan fenomena “satanisasi” seperti yang menimpa Ahmadiyah sekarang ternyata juga fenomena lazim di berbagai organisasi keagamaan. Hal-hal krusial ini yang penulis yakin menjadi tanda tanya besar bagi para pemuda, yang jika dilihat dari kapasitas mereka, akan menjadi pemimpin bagi organisasi-organisasi keagamaan yang mereka wakili sekarang.

Beginilah ketika generasi muda berusaha berbicara tentang agama. Di satu sisi mereka mendapat tuntutan bertutur maupun berperilaku secara idealis maupun normatif, seperti yang selama ini mereka lihat dari figur-figur pemimpin mereka. Di sisi lain juga timbul banyak keraguan serta tanda tanya besar begitu melihat realitas di dalam umatnya sendiri maupun realitas yang ada di dalam masyarakat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: