Pancasila sebagai Panacea?

pancasila

Situasi hubungan antar elemen masyarakat, pemerintahan, dan struktur sosial, ekonomi, dan budaya bangsa ini berada di titik nadir. Itu setidaknya yang tercermin dari kekecewaan kolektif kita sebagai bangsa terhadap hal-hal berikut: ketimpangan ekonomi yang semakin parah, kohesi sosial antar elemen masyarakat yang renggang, dinamika politik dan pemerintahan yang terus menimbulkan keputusasaan, tantangan besar terhadap keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, serta fundamentalisme agama yang berwujud kekerasan. Masih ada banyak kekecewaan yang jika disebutkan satu per satu akan sangat panjang. Dalam konteks pembicaraan kita yang berkembang dalam konteks umat Kristen,maka dua isu terakhir adalah yang paling mendapat banyak perhatian.

Dalam pergumulan tersebut, lahir inisiatif dari para pemipin lembaga tinggi negara kita. Seperti hasil pertemuan di Jakarta, 24 Mei 2011, yang melahirkan sebuah rencana aksi nasional untuk mensosialisasikan kembali nilai-nilai Pancasila. Pancasila, hal yang sudah lama terpinggirkan dari diskusi publik kembali dimunculkan sebagai panacea, obat penyembuh segala penyakit kronis bangsa ini.

Secara historis, Pancasila dilahirkan sebagai rangkuman semesta pemikiran sekaligus visi bangsa Indonesia dulu, sekarang, dan di masa mendatang. Ir.Soekarno sebagai penggagas tidak mencipta dari nol nilai-nilai yang terkandung di Pancasila tersebut. Pertama kali diperdengarkan dalam sidang BPUPKI 1 Juni 19451, kemudian dalam kesempatan yang monumental, Pidato di PBB tanggal 30 September 1960, Pancasila disebutkan secara lantang oleh beliau di forum internasional dengan menyebutnya sebagai: sesuatu yang lahir dari pengalaman dan sejarah bangsa Indonesia sendiri; ditambahkan pula bahwa sesuatu itu lain daripada komunis maupun liberalis, dan itulah yang disebut Pancasila. Pancasila itu yang dimaksud Bung Karno sebagai pandangan tentang dunia (weltanschauung) bangsa Indonesia.

Pancasila inilah yang setiap 1 Juni kita peringati sebagai hari kelahirannya. Perlu ditekankan di sini karena ada “pancasila lain” yang mencerminkan perjuangan politik kelompok tertentu. Ada Pancasila versi 22 Juni 1945, secara generik dikenal dengan nama Piagam Jakarta, merujuk kepada kepentingan kelompok yang ingin mewujudkan negara berbasis Islam. Kemudian ada Pancasila versi Muhammad Yamin, 29 Mei 1945, dengan menyebutkan peri-kebangsaan, peri-kemanusiaan, peri-ketuhanan, peri-kerakyatan, dan kesejahteraan rakyat.

Terkait kemunculan kembali wacana tersebut, ada tiga hal yang patut dipertanyakan:
1.Masih relevankah Pancasila dimunculkan (lagi)?
2.Kenapa harus Pancasila yang dimunculkan sebagai panacea?
3.Bagaimana format atau bentuk Pancasila yang kita butuhkan sekarang?

Pertanyaan pertama sangat mudah untuk dijawab, sekaligus sulit untuk dilakukan. Mudah sekali untuk menemukan beribu alasan dari sisi moralitas, nasionalisme, maupun landasan filosofis untuk memperkuat argumentasi tentang pentingnya Pancasila. Kesulitan yang dihadapi adalah menempatkan Pancasila sebagai satu-satunya rujukan nilai-nilai, moralitas, ideologi, landasan filosofis, di tengah-tengah masyarakat kita sekarang. Permasalahannya adalah pluralitas ideologi maupun ide-ide yang dikatalisator oleh kemajuan teknologi informasi dan teknologi, secara gradual menghapus sekat-sekat ideologis tersebut. Dalam rumusan yang lebih eksak, semakin banyak ide atau -isme isme, berbanding lurus dengan semakin sulitnya individu atau komunitas menerima satu ide saja, dan

Untuk pertanyaan kedua tidak perlu dijawab, karena sifatnya reflektif-instropektif. Di satu sisi Pancasila dirasa bisa menjadi common ground bagi setiap elemen bangsa, di sisi yang lain, fungsi kohesi sosial, pemersatu masyarakat, maupun penjaga nilai-nilai dan moralitas belum berhasil dilakukan oleh agama beserta perangkatnya.

Untuk menjawab pertanyaan ketiga, saya mengajukan beberapa hipotesis, sekaligus proposal, dari berbagai perdebatan tentang Pancasila seperti apa yang kita butuhkan dalam konteks sekarang:
a. Pancasila sebagai ideologi
b. Pancasila sebagai kontrak sosial
c. Pancasila sebagai agama sipil (civil religion)

Posisi pertama, Pancasila sebagai ideologi adalah pandangan mayoritas mulai Orde Baru sampai saat ini. Penetapan Hari Kesaktian Pancasila, kemudian penerapan Pancasila sebagai asas tunggal, menjadi tonggak penting mengakarnya ideologi Pancasila. Tapi, pengalaman historis bangsa ini justru memperlihatkan Pancasila sebagai ideologi yang diperalat untuk perpanjangan kekuasaan. Keberadaan Pancasila sebagai ideologi pada akhirnya harus diterjemahkan sebagai seperangkat kepercayaan politik, sehingga mau tidak mau unsur kepentingan politik akan sangat dominan.

Posisi kedua, Pancasila sebagai kontrak sosial, mencoba mengkoreksi kekeliruan pemahaman Pancasila yang terlalu ideologis. Onghokham, sejarawan senior Indonesia, menempatkan Pancasila sama kedudukannya seperti Magna Charta di Inggris, Bill of Rights di Amerika Serikat, maupun Droit de l’homme di Prancis yang berfungsi sebagai kontrak sosial. Rumusan historis tersebut yang menurut Onghokham terlupakan ketika embrio Pancasila adalah ideologi mengemuka medio 1950-an di tengah konflik pemerintah pusat dengan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia. Kesalahan terbesar Orde Baru terhadap Pancasila menurutnya adalah ketika Pancasila sebagai kontrak sosial difungsikan sebagai ideologi negara, akibatnya Pancasila harus bersaing dengan ideologi-ideologi lain yang juga berkembang dalam masyarakat. Pendapat hampir serupa dikemukakan Franz Magnis Suseno yang melihat Pancasila lebih sebagai kerangka nilai atau cita-cita luhur bangsa, daripada Pancasila sebagai ideologi.

Posisi ketiga, Pancasila sebagai agama sipil merupakan konstruksi yang bisa kita pelajari dari bangsa Amerika Serikat. Sosiolog Robert Bellah memperkenalkan konsep ini untuk menjelaskan bagaimana agama sipil yang didefinisikannya sebagai seperangkat kepercayaan religius beserta simbol dan ritualnya, yang muncul dan berkembang dari historis pengalaman bangsa Amerika dalam menginterpretasikan dimensi transendennya. inilah jalan alternatif bagi masyarakat modern dalam memaknai dan mengekspresikan religiusitasnya dalam dimensi kebangsaan. Dan seperti yang dijelaskannya, konsepsi ini memperkuat legitimasi bagi terbentuk dan berkembangnya bangsa Amerika itu sendiri, mengintegrasikan dan memperkuat kohesi sosial, serta punya fungsi profetik dalam hal normatif. Pancasila punya potensi besar untuk menempati fungsi seperti ini tanpa menunjukkan karakter ideologis yang sarat kepentingan politis sesaat.

Di antara berbagai posisi pemakanaan terhadap Pancasila tersebut, dimanakah posisi umat Kristen Indonesia? Dan pilihan-pilihan apa yang nanti harus diambil?

Menelusuri jejak pergumulan kekristenan Indonesia dengan isu-isu kebangsaan bukanlah pekerjaan mudah sekarang. Referensi yang paling jelas bisa ditemukan di perdebatan kelompok protestan sejak awal masa kemerdekaan, yang sebagian besar tergabung dalam PGI, untuk merumuskan bagaimana relasi iman Kristen dan kebangsaan. Salah seorang pemikir Kristen yang menonjol saat itu, TB Simatupang, dengan latar belakang militeristik dan nasonalisme yang kental, menempatkan Pancasila sebagai gatra sakti bagi hubungan umat Kristen dengan elemen bangsa yang lain. Berikut pokok-pokok pikirannya:

“Negara Pancasila adalah berdasarkan prinsip ‘baik ini maupun itu’ yang bersifat inklusif, yang bagi kami mungkin karena kami bukanlah orang-orang barat. Kami mencoba untuk menciptakan sesuatu yang merangkum semua unsur, yang, dari sudut pandangan barat, bertentangan satu sama lain… Namun Pancasila adalah lebih dari sekadar payung. Ia menjadi sebuah ideologi.Juga sebuah pandangan hidup….Pancasila, karenanya, harus dipahami dari latar belakang sejarah Indonesia. Dalam arti tertentu, ia adalah sebuah ideologi. Tetapi juga lebih dari itu, ia adalah sebuah modus vivendi yang isinya ditentukan melalui proses dialog, melalui kerja sama, dan melayani bersama yang terus-menerus, menghadapi tantang bersama oleh seluruh bangsa”

Pemahaman yang mendalam terhadap relasi Pancasila dan umat kristen dilanjutkan oleh Pdt. Eka Darmaputera. Dalam disertasinya berjudul Pandangan TB Simatupang ini boleh dikatakan mewakili pandangan mayoritas umat Kristen terhadap fungsi Pancasila sebagai ideologi yang “menentramkan” hubungan antar elemen masyarakat, terutama hubungan gereja dengan pemeluk agama lain. Sayangnya pemahaman seperti ini tidak menciptakan momentum atau pemahaman bahwa Pancasila adalah ideologi terbuka yang selalu menuntut re-kontekstualisasi maupun rekonstruksi terus-menerus seperti yang diharapkan oleh TB Simatupang.

Akhirnya, seperti yang kita lihat di masa Orde Baru, suara umat Kristen mayoritas justru tunduk di bawah bayang-bayang pemerintah yang menggunakan Pancasila sebagai tamengnya. Puncaknya adalah ketika beberapa gelintir pihak mempersembahkan emas kepada penguasa Orde Baru, inilah tragedi terbesar kekristenan Indonesia saat itu seperti yang dikatakan oleh Pdt. Eka Darmaputera. Di masa reformasi, ketika momentum revitalisasi Pancasila terlewatkan, signifikansi kehadiran umat Kristen dalam isu-isu kebangsaan terus menurun. Sementara itu, elemen bangsa lain terus melakukan pergumulan mendalam terhadap isu-isu kebangsaan dengan tidak meninggalkan basis keagamaannya. Tantangan yang walaupun terlambat, harus segera dijawab oleh umat kristen Indonesia sekarang.

Ada beberapa preseden menarik di luar negeri yang bisa mengilhami langkah apa yang harus diambil oleh umat kristen Indonesia saat ini. Yang pertama adalah semakin menurunnya peran kaum evangelical di Amerika Serikat dalam kehidupan sosial-politik. Dan kedua adalah keberadaan kelompok muslim, juga di Amerika Serikat yang banyak dikritisi karena gagal membangun kontruksi positif di internal. Ada poin penting yang bisa diambil dari dua kejadian di atas.

Preseden yang pertama adalah semakin lemahnya signifikansi kaum evangelical menjadi catatan tersendiri. Menjadi kekuatan politik yang besar selama ini dengan membawa nilai-nilai kekeluargaan, moralitas, dan religiusitas ternyata tidak menjamin pilihan-pilihan politiknya menjadi tepat. Kritisi terbesar yang dialamatkan kepada mereka saat ini justru karena terlalu terpaku pada isu-isu moralitas. Salah satunya adalah isu homoseksualitas. Bahkan ketika pemilihan presiden 2004, George W. Bush, yang tengah menjadi orang paling dibenci di seluruh dunia karena kebijakan luar negerinya, mendapat dukungan besar kelompok ini hanya karena Bush menempatkan isu-isu moralitas di kampanyenya. Menempatkan isu homoseksualitas sebagai prioritas dan subyek perjuangan politik bagi kaum evangelical akhirnya justru memarjinalkan mereka sendiri dari permasalahan utama saat ini: pengangguran, kesejahteraan, hutang nasional, maupun isu ekonomi lainnya.

Dari eksistensi muslim di Amerika yang menjadi minoritas (1,8 Juta) terjadi perubahan drastis semenjak peristiwa 11 September. Secara dominan, berbagai kampanye bahwa mayoritas muslim Amerika mengutuk tindakan terorisme, kemudian menjalin dialog antar iman, serta kerjasama penegakan hukum di komunitas mereka dengan pemerintah AS ternyata tidak serta merta menghilangkan terorisme di komunitas mereka. Terbukti dengan keberadaan dua warga negara AS yang justru menjadi teroris, Farooque Ahmed dan Abdel Hameed Shehadeh, memperlihatkan potensi kegagalan perang melawan ideologi terorisme dalam umat muslim Amerika itu sendiri, selain juga disorot rendahnya partisipasi publik mereka dalam kegiatan-kegiatan komunal di publik.

Poin penting yang bisa kita ambil dari dua komunitas keagamaan tersebut adalah kesukaran dalam menentukan pilihan-pilihan isu atau subyek apa yang menjadi prioritas perjuangan di ruang publik serta kesulitan dalam membangun konstruksi yang kondusif di internal komunitas keagamaan itu sendiri yang biasanya selalu ditutupi dengan usaha-usaha pencitraan. Apakah ini juga menjadi karakter masyarakat Kristen Indonesia?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: