Anders Behring Breivik

breivik_2194965b

Anders Behring Breivik menambah catatan orang yang mengorbankan banyak orang secara sadis dengan tujuan yang dianggapnya “mulia”. Tulisan ini tidak akan membahas sisi psikologis seorang Breivik, tapi logika pemikiran apa yang mendasari perbuatan kejamnya, lebih pantas dikemukakan untuk menjadi cermin bagi kita semua.

Perbuatan Breivik belum cukup dipahami dengan alur cerita seorang fundamentalis agama (Kristen) yang membenci perkembangan agama lain (Islam) di tanah kelahirannya (Eropa). Simplifikasi seperti ini cenderung membuat penjelasan yang mudah dipahami, tapi bisa menyesatkan karena ada banyak variabel lain yang berperan signifikan, setidaknya sebagai faktor penjelas.

Ada beberapa posisi yang harus dijelaskan sebagai sebab, akibat, maupun faktor pengkondisian munculnya suatu fenomena. Yang pertama adalah keberadaan Islam di Eropa. Unsur vital pertama ini mendapat penjelasan lebih karena entah disadari atau tidak, terminologi Islam dan Muslim mengalami peyorasi makna di dunia barat setelah peristiwa 9/11.

Islamofobia di Eropa mencapai puncaknya begitu muncul istilah “Eurabia”. Terminologi ini dipopulerkan oleh seorang jurnalis Italia, Oriana Fallaci, untuk menentang “serbuan” Islam (terutama populasi) yang mendominasi benua biru. Ada lagi seorang tokoh politik konservatif kelahiran Skotlandia, Niall Ferguson, yang melihat Islam dalam bentuk yang radikal, sehingga perlu dilawan. Kardinal Ratzinger, bahkan sebelum menjadi paus, dikenal sebagai salah satu penentang masuknya Turki ke Uni Eropa dengan asumsi perbedaan kultur.

Wacana-wacana yang dikemukakan tokoh tersebut di atas diklasifikasikan secara umum sebagai kelompok konservatif. Ada juga yang menambahi sebagai sayap kanan konservatif, untuk menjelaskan spektrum religiusitas dan nilai konservatif yang termaktub di dalamnya. Kalau boleh ditahbiskan sebagai juru bicaranya, maka sosok anggota parlemen Belanda, Geert Wilders, harus berada di daftar teratas. Sosok kontroversial kelahiran Venlo ini dikenal sangat keras menantang populasi Muslim yang memadati Eropa, dengan segala perbedaan paradigmanya, yang dinilai mengancam nilai-nilai kultural dan religiusitas Eropa.

Unsur kedua adalah Anders Breivik, tokoh utama kita kali ini. Sebenarnya tidak banyak hal yang bisa diceritakan mengenai personal Breivik. Yang menarik justru bagaimana dia mengidentifikasikan pilihan-pilihan politiknya. Breivik melabeli dirinya “kristen kultural”, untuk menggambarkan dirinya yang benar-benar menjadi orang Eropa Kristen (kulit putih), dan punya tugas suci memerangi ancaman dari luar. Tapi kenapa dia membantai bangsanya sendiri?

Breivik punya alasan tersendiri. Testimoninya setebal 1.500 halaman yang tersebar di internet menyingkap suatu pemahaman baru, dia harus mempersalahkan para politisi (Eropa) yang memberi kesempatan bagi masuknya ancaman bagi Eropa. Kelompok itu yang ditudingnya menganut “Marxis kultural” dan mempromosikan multikulturalisme. Pertentangan ideologis lama antara Fasis dan Marxis seakan dibangkitkan kembali.

Dan unsur ketiga yang tak kalah pentingnya dalam memahami peristiwa ini, terlepas apapun konteksnya, adalah berbagai reaksi kelompok “fundamentalisme baru” ini terhadap personal Breivik maupun terhadap perbuatannya. Bisa diduga, hampir semua suara akan mengintimidasi perilaku Breivik. Salah satunya, Abraham Foxman, penentang utama pembangunan masjid di kawasan Ground Zero, dalam sebuah editorial di Washington Post mencela pemahaman dan perbuatan Breivik. Satu hal besar yang dilewatkannya: dia dan kelompok-kelompok tersebut terus mengkampayekan kebencian dan membuka ruang bagi orang-orang seperti Breivik.

Secara umum, inilah pola yang sedang diperlihatkan sebagian Eropa kepada kita. Kelompok yang merasa terancam dengan perubahan-perubahan dari dunia luar, dan mereka masih mengalami gegar historis, sehingga mengidentifikasi dirinya pada identitas kuno: Eropa yang Kristen, dimana agama dan negara menyatu, berperang dengan Muslim (yang masih dianggap barbar), tidak lupa menyibak rasa berpuas diri dan superioritas sempit. Sayangnya fenomena ini juga terlihat pada munculnya tokoh-tokoh konservatif menjelang pemilihan presiden AS 2012.

Apakah ini semata-mata hanya perang identitas? Konflik ideologis? Dendam lama antar agama?

Dan pada akhirnya, pilihan-pilihan harus diambil secara tegas. Jika kita secara subyektif melihat bahwa pembantaian Oslo oleh Breivik yang merangkai konfrontasi terhadap Islam sebagai deviasi suatu sistem,maka konsistensi pilihan yang telah diambil Eropa dengan keterbukaan, liberalisme, dan demokrasi mereka diuji di sini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: