Tragedi Patung

jesusweptokcbombingstatue

Purwakarta, Jawa Barat, 18 September 2011, ketenangan terusik dengan kejadian yang patut dipahami secara hati-hati. Sekelompok orang melakukan tindakan vandalisme terhadap beberapa patung yang berdiri di sudut-sudut kota. Beruntung media massa nasional kita merekam dengan baik kejadian tersebut di tengah hiruk pikuknya pemberitaan korupsi maupun berbagai penyalahgunaan kekuasaan yang lain.

Sekelompok massa beringas ini, seperti yang bisa kita lihat di televisi nasional, menumpahkan kemarahan mereka dengan merubuhkan patung-patung dari tokoh pewayangan. Alasan kemarahan mereka, seperti yang diungkap pada media massa, adalah kekecewaan terhadap kebijaksanaan sang kepala daerah yang dianggap tidak tepat, terutama dalam pembangunan simbol-simbol kota di tempat publik.

Tapi ekspresi kemarahan massa tersebut, tidak hanya menyiratkan suatu tindakan pembangkangan sipil, atau kekecewaan politis. Manifestasi kemarahan mereka justru menyiratkan kemarahan religiusitas tertentu. Pakaian yang mereka pakai, slogan-slogan dan yel-yel yang diteriakkan sepanjang aksi, serta bagaimana bahasa tubuh mereka tidak bisa membodohi masyarakat bahwa ini merupakan kemarahan berbasis pandangan keagamaan tertentu.

Bagaimana kejadian ini harus disikapi? Memperlakukannya sebagai sebuah peristiwa kriminal biasa, vandalisme, atau sebuah tindakan simbolis untuk kepentingan politik tertentu? Sejarah agama-agama besar dunia memberi pelajaran maha penting bagi kita: tragedi patung memperlihatkan anatomi kekerasan.

Dalam sejarah kekristenan awal, kita bisa menyimak bagaimana pertentangan antara kelompok pemuja ikon (ikonofil) melawan penentang ikon (Ikonoklas), terutama dimulai abad kedelapan. Pemujaan terhadap ikon-ikon bagi para penentangnya dianggap merendahkan nilai-nilai keilahian dan mencampurnya dengan sisi duniawi. Akibatnya mereka dianggap sesat, dikelompokkan sebagai bidat, karena itu layak mendapat penghukuman.

Motif pertentangan doktrin di dalam agama itu sendiri menjadi basis pemahaman dalam konteks peristiwa di atas. Pola yang lebih ekstrim muncul tatkala kelompok pemuja berhala atau pagan menjadi “korban” kekerasan atas nama agama. Ini yang terjadi tatkala penganut pagan berhadapan dengan Kekristenan awal yang bersekutu dengan kekuatan kekaisaran Romawi. Juga bagaimana melihat sejarah awal Islam dimana Muhammad melakukan pembersihan Mekah dari ratusan berhala dan hanya menyisakan satu di antaranya. Intensitas dan kualitas kekerasan semakin tinggi tatkala berhadapan dengan mereka yang berbeda keyakinan, atau sang liyan.

Bagaimana di masa modern ini? Dengan asumsi tingkat peradaban manusia yang semakin tinggi, dakwaan terhadap kekerasan yang bermotif religiusitas didominasi kekerasan yang bersifat simbolik. Tapi apakah tepat penilaian bahwa menghancurkan patung-patung yang menjadi simbol adanya keyakinan yang lain dimasukkan kategori kekerasan simbolik?

Kejadian di Afghanistan awal tahun 2001 menjadi preseden menarik untuk kita cermati. Di Provinsi Bamiyan, kelompok radikal keagamaan yang sedang berkuasa, yang sekarang kita kenal dengan nama Taliban, melakukan suatu tindakan yang memancing amarah dunia. Dua artefak bersejarah Budha dihancurkan oleh kelompok ini tanpa rasa penyesalan. Dunia semakin mahfum tatkala beberapa saat setelah kejadian tersebut, kelompok teroris yang berbasis di wilayah ini melancarkan serangan terorisme dengan memakai selubung agama.

Dunia terlambat menyadari bahwa apa yang selama ini kita asumsikan sebagai kekerasan simbolik itu dalam konteks kekerasan religiusitas tidak pernah terjadi. Kekerasan yang kita lihat masih dalam bentuk purbakala, baik itu letupan amarahnya maupun dendam warisan yang mungkin juga tidak akan pernah bisa dilupakan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: