Shinto (神道)

shinto

Konon, ada sebuah rumah paling menyeramkan di Jepang. Siapapun yang pernah masuk ke situ atau minimal pernah bersentuhan dengan tempat tersebut akan mati. Polisi, pelajar, ibu rumah tangga, nenek-nenek, sampai orang iseng menjadi korban dari arwah-arwah yang mati dibunuh serta bunuh diri di tempat tersebut. Mengikuti film ini tentu tidak akan terlintas lagi dalam pikiran kita apakah ini cerita fiktif atau betulan.

Penggemar film horor di ujung dunia mana pun akan tahu bahwa ini adalah alur cerita film The Grudge. Beberapa  karakter yang terkenal tentu hantu wanita “ngesot” (pelesetannya di film nasional adalah suster ngesot). Kemudian si anak yang terlihat masih seumuran sekolah dasar, berwujud seperti tuyul tapi lebih cakep dengan piaraan setianya, kucing hitam, dan kadang-kadang si anak juga bisa menelepon balik kita sembari berkata “moshi-moshi”!!. Terlepas dari semua keringat dingin kita yang keluar saat melihat film tersebut, adakah unsur religiusitas masyarakat Jepang di sini?

Dalam khazanah pemikiran mereka, hantu atau arwah penasaran yang terus membunuh manusia untuk balas dendam, adalah manifestasi kematian yang tidak disertai rasa syukur akan pengorbanan mereka. Salah satu cara mengatasinya, mungkin dalam kepercayaan lain juga ada, adalah melakukan upacara pembersihan. Tapi kenapa arwah keluarga tersebut terus membunuh siapapun yang berhubungan atau tidak dengannya adalah pertanyaan saya juga setelah melihat beberapa sekuel kelanjutan film ini.

Dari film bergenre horor tersebut, salah satu aspek menarik dari masyarakat Jepang adalah keberadaan Shintoisme (Shintō). Peradaban barat secara dominan menggolongkan Shinto (Shintoisme) sebagai sebuah bentuk kepercayaan atau agama. Dalam pemahaman dunia timur, kita akan lebih bisa memahami Shinto sebagai, apa yang dikonseptualkan oleh para pemikir pragmatisme tentang agama sebagai habitual action, sebuah jalan hidup.

Kenapa ada dikotomi “barat” vs “timur” ini. Selain masalah kontekstualitas, penulis secara subyektif memahami antagonisme antara rasional dan tidak-rasional lebih mengemuka, mungkin sebagai salah satu konsekuensi pencerahan. Dalam logika timur, pemahaman oposisi biner ini bisa diharmonisasikan (atau lebih tepatnya dikaburkan). Antagonisme bukan suatu kemutlakan dalam memahami konsep yang berlawanan sekalipun. Apakah ini bukti peradaban timur lebih maju atau sebaliknya, penulis tidak berani menjawabnya. Berikut adalah beberapa tinjauan literatur mengenai Shinto.

Secara tekstual Shinto atau dalam bahasa Jepang “kami-no-michi” diartikan sebagai jalan para dewa. “kami (神)” berarti spirit yang berada atas atau superior, merujuk kepada suatu entitas supernatural tertentu. Dimensi-dimensi mendasarnya akan kita lihat pada keterkaitannya dengan Budhisme, dimensi teologis dan historis, kemudian yang terakhir adalah dimensi sosial-politiknya.

Kenapa dimensi pertama adalah keterkaitan dengan Budhisme? Sulit untuk menjawab secara pasti karena sebelum Budhisme datang ke Jepang, kepercayaan Shinto sudah ada. Jadi sedikit banyak bisa dikatakan Shintoisme sebagai agama lokal yang punya aspek animisme dan politeisme bersentuhan dengan Budhisme. Dalam beberapa hal kita akan mudah menemukan unsur Budhisme dalam Shinto, tapi dalam banyak hal akan sulit melihat batas-batasnya secara jelas.

Beberapa dokumen sejarah, seperti Kojiki (Berbagai Catatan Para Ahli Terdahulu) pada ca 712 M dan Nihon Shoki (Tawarikh Jepang) pada ca 720 sudah mencatat keberadaan Shinto. Beberapa spekulasi juga menyatakan Shinto sudah ada jauh sebelum waktu tersebut karena budaya lisan yang saat itu lebih mengemuka daripada budaya tulis. Budhisme sendiri datang dan mulai diadopsi masyarakat Jepang sejak abad keenam masehi. Dari persentuhan atau sinkretisme inilah kita bisa memahami konsep “kami” yang bisa diartikan nama lain dari “Budha”, atau terminologi dewa matahari sekaligus leluhur keluarga kekaisaran Jepang “Amaterasu” yang bisa diparalelkan dengan “Dainichi Nyorai” (Budha Matahari Agung). Selain itu praktik pemujaan terhadap leluhur adalah unsur Budhisme yang tidak bisa kita lupakan.

Salah satu aspek lain, yang juga menyinggung dimensi kedua kita: teologis, juga menunjukkan pengaruh Budhisme. Aspek itu adalah adanya suatu siklus kehidupan atau reinkarnasi. Ada pemahaman bahwa “kami” tersebut mengalami suatu siklus, mulai hidup,mati, sampai dilahirkan kembali. Tapi pemahaman reinkarnasi ini akan lebih kompleks dalam Shintoisme.

Masuk ke dimensi kedua kita, historis dan teologis, kita bisa melihat lebih mendalam integrasi Shinto dalam masyarakat Jepang sampai saat ini. Seperti tadi kita singgung, ada beberapa entitas penting dalam spiritualisme Shinto. Selain “Amaterasu”, ada mitologi mengenai penciptaan (creation). Jika tradisi Judeo-Kristen mewariskan pemahaman bahwa Tuhan yang menciptakan dunia beserta segala isinya dalam proses tujuh hari, Shinto mewariskan suatu pandangan yang lebih kontekstual dan spesifik.

Dalam Kojiki digambarkan mitologi penciptaan Jepang, baik secara geografis maupun demografisnya. Dalam sisi politeisme, dikisahkan para dewa memanggil dua entitas: Izanagi-no-Mikoto (pria) dan Izanami-no-Mikoto (wanita), untuk menciptakan sebuah surga. Dengan menggunakan ujung tombak mereka menguras air dan tanah yang tercipta dari proses itu yang kita kenal dengan Jepang sekarang.

Sedangkan “kami” yang juga bisa diartikan banyak dewa, diyakini menjadi leluhur orang Jepang. Dalam konteks ini kita bisa memahami alur reinkarnasi dimana jiwa mereka yang mati bisa menjadi “kami”, dan sebaliknya,”kami” juga bisa menjelma menjadi obyek spiritual, seperti dalam pedang, atau obyek pemujaan yang lain.

Sedangkan dimensi historis Shinto bisa mengungkap bagaimana Shinto dipraktikkan oleh masayarakat Jepang kontemporer. Karakteristik monarkhi dalamkonteks Jepang kekaisaran akan memegang peran penting di sini. Kaisar diyakini sebagai keturunan dewa matahari Amaterasu, dimulai sejak Kaisar Jemmu (660 SM). Legitimasi keilahian ini yang menjadikan sentralitas kekaisaran sangat kuat bagi masyarakat Jepang, bahkan sesudah Kaisar Hirohito, dengan tekanan Amerika Serikat, mulai menanggalkan legitimasinya sebagai “dewa yang hidup” (arahitogami).

Satu fase periode sejarah lain yang tak kalah penting adalah restorasi meiji (1868). Pada mase ini shinto mendapat legitimasinya sebagai sebuah agama yang terorganisasi. Kebangkitan semangat Shinto klasik yang mengagungkan kaisar serta semangat restorasi meiji yang melakukan modernisasi terwujud kuat dalam sisi militernya yang kemudian menjadi salah satu kekuatan sentral dalam Perang Dunia II.

Dari dimensi sosial-politik kita bisa mulai dijelaskan lewat fase paska-Perang Dunia II yang boleh dibilang masa tersuram bagi Shintoisme. Dalam beberapa dokumen bahkan diungkap Jenderal Douglas McArthur meminta para misionaris barat untuk masuk ke Jepang serta melarang pendanaan publik bagi Shinto supaya pengaruhnya memudar, selain tentunya kerangka kebijakan pemisahan agama dan negara.

Berbagai rintangan ini menimbulkan karakter baru Shinto lebih sebagai sebuah ritual hidup daripada sebuah agama tradisional. Tidak ada kewajiban untuk berjemaah di kuil tertentu seperti di abad ke-17 atau abad ke-18. Masyarakat juga tidak harus melalui proses pentahbisan untuk didaftar di sebuah kuil. Beberapa aliran dalam Shinto sendiri juga mulai mengelompok berdasarkan ekspresi keagamaannya. Ada kelompok Shinto yang memusatkan aktivitas mereka di berbagai kuil. Kemudian ada Shinto yang hanya dipraktikkan oleh rumah tangga kekaisaran. Kelompok konservatif Shinto juga terwadahi di kelompok Shinto lama (koshinto).

Sampai saat ini, jika memakai berbagai indikator yang ketat, masih sulit untuk menjawab berapa jumlah pemeluk Shintoisme ini. Angka paling ekstrim yang didapat adalah 2,8 juta sampai 119 juta. Yang pertama menunjukkan perkiraan para pelaku ritualnya, dan yang terakhir menunjukkan estimasi orang masih mengaku Shintoisme sebagai agamanya. Sebuah survei yang dilakukan pada tahun 1970-an dan dikutip wikipedia pun menyebutkan fakta menarik. Sepertiga dari mereka yang disurvei dan menjawab mereka tidak mempercayai suatu keyakinan atau agama tertentu ternyata masih mempunyai altar Budha atau Shinto di rumahnya. Akhirnya, simplifikasi sedikit membantu kita dengan premis bahwa siapapun orang Jepang yang masih melakukan ritual Shinto, baik secara parsial maupun keseluruhan, bisa dikategorikan memeluk kepercayaan Shinto.

Dari semua aspek tersebut, Shintoisme sebagai sebuah paham atau -isme, terbukti mampu menjadi mesin sosial yang sangat dahsyat. Setidaknya itu yang bisa kita pelajari dari Jepang saat Perang Dunia II dan kebangkitan industri Jepang paska perang. Legitimasi keilahian dalam struktur masyarakat tradisional dan tersentral (kekaisaran), dilingkupi semangat progresif, adalah kombinasi yang sempurna untuk menjadi katalisator gerakan sosial-budaya secara masif dan revolusioner. Walaupun salah satu efek sampingnya adalah semangat chauvinistik yang berlebihan dan menjadi agresor bagi negara lain yang tampak saat Perang Dunia II, spirit dan semangat kebudayaan tersebut masih tertanam kuat pada masyarakat Jepang sekarang. Setidaknya itulah yang penulis lihat di berbagai film Jepang, selain The Grudge tadi tentunya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: