Émile Henry

henry

Café Terminus, Paris, 12 Februari 1894, menjadi saksi mata tragedi yang menewaskan satu orang dan melukai dua puluh lainnya. Di masa itu perisitiwa kekerasan sipil seperti ini bukanlah suatu kewajaran, walaupun di tingkat negara-negara Eropa sedang bergerak menuju konflik terbuka.

Sang pengebom, pemuda berusia 22 tahun, segera bisa ditangkap walaupun sudah berusaha melarikan diri. Segera namanya menjadi terkenal di seantero negeri: Émile Henry. Peristiwa itu tidak hanya mempopulerkan Henry, yang kemudian di-guillotine-kan, tapi juga ideologi yang secara tragis dipopulerkan lewat peristiwa teror ini: anarkhisme.

Henry terus menjuluki dirinya sebagai seorang anarkhis, dia memperjuangkan suatu bentuk “propaganda aksi” melawan struktur kekuasaan, sekaligus misi membalas dendam kematian seorang anarkhis lainnya, Auguste Vaillant, juga dieksekusi karena melakukan pengeboman dua bulan sebelumnya. Profil seorang Émile Henry menunjukkan personalitas orang yang “biasa-biasa saja” tapi keterkaitannya dengan “anarkhisme” menunjukkan sisi lain yang cukup memberi konstribusi bagi kita tentang apa itu anarkhisme.

Dalam eksepsinya di pengadilan, Henry mengungkapkan dia sebelumnya adalah seorang yang dibesarkan dengan nilai-nilai moralitas, serta menghormati institusi-instusi sosial, seperti keluarga, negara, dan otoritas lain. Baru pada pertengahan 1891 dia mulai mengenal sekaligus masuk dalam gerakan-gerakan revolusioner. Hidup yang seakan-akan normal ini ternyata menyimpan satu retakan besar bagi Henry: “…But those educating the present generation all too often forget one thing – that life, indiscreet with its struggles and setbacks, its injustices and iniquities, sees to it that the scales are removed from the eyes of the ignorant and that they are opened to reality.”

Retakan tersebut adalah ketidakadilan, hidup penuh dengan penindasan. Pemahamannya sebagai seorang anarkhis menuding bahwa ada struktur yang menindas masyarakat, kapanpun, dimanapun, hidup menjadi penuh dengan ketidakadilan. Premis tersebut sangat familiar sekali jika dihubungkan dengan ide-ide Karl Marx. Jadi, pembahasan kita yang pertama harus mendefinisikan apa itu anarkhisme, dan apakah mempunyai hubungan dengan Marxisme? Kemudian dari situ kita bisa melihat secara jernih apakah anarkhisme bisa disamakan dengan terorisme?

Kaum anarkhis mempunyai premis paling mendasar, dan bersifat ideal, bahwa manusia pada dasarnya baik. Sebagai konsekuensinya, kaum anarkhis menolak setiap struktur kekuatan yang mengatur manusia dengan asumsi bahwa manusia punya kecenderungan “memangsa” manusia lain sehingga harus diorganisasi melalui sebuah pemerintahan (bandingkan dengan perspektif Hobbes tentang problematika kodrat manusia yang mengharuskan kita membuat kontrak sosial dengan pemerintah). Ini cukup menjelaskan asal kata anarkhis itu sendiri (dari bahasa Yunani anarchos atau tanpa penguasa).

Sisi historis anarkhisme juga menarik untuk disimak. Tumbuh subur sejak abad ke-17, ide-ide mendasarnya banyak diperoleh dari William Godwin, pemikir dari Inggris. Dari Prancis sendiri ada dua nama yang harus dicatat: Pierre-Joseph Proudhon dan Joseph Déjacque. Nama pertama banyak memberi sumbangan tentang teori modern anarkhi sedangkan nama terakhir tersohor karena menjadi figur seorang anarkhis yang lekat dengan pemikiran Komunis (fakta menarik tapi tidak terlalu mengejutkan adalah kelompok-kelompok sosialis radikal dan revolusioner berbondong-bondong masuk ke dalam Partai Komunis Prancis saat kebangkitannya pada 1920).

Sisi historis muncul dan berkembangnya ide anarkhisme juga bisa kita lihat signifikansinya dalam revolusi 1848. Jika kita bandingkan dengan “Arab Spring” akhir-akhir ini, maka revolusi 1848 ini adalah “Europe Spring”, dimana negara atau lebih tepatnya entitas politik besar di Eropa terguncang karena ketidakpuasan masyarakat dan keinginan demokratisasi yan lebih besar kepada monarkhi atau pemerintahannya. Revolusi menyebar di Italia, Jerman, Polandia, dan negara lain tanpa koordinasi di waktu yang hampir bersamaan. Negara besar yang terhindar dari revolusi ini hanya Inggris dengan kelas menengah yang mapan dan sistem monarkhi konstitusionalnya. Buntut dari revolusi ini, selain ide-ide Marxis yang popular, kekecewaan mendalam terhadap otoritas memunculkan kelompok anarkhis ini.

Dari perspektif teoritis, kita sudah mendapatkan kejelasan posisi mereka sebagai kelompok yang menekankan idealisme agen dan selalu menolak struktur, yang memaksa tindakan tertentu sehingga memasung voluntarisme agen. Kehidupan yang mereka dambakan adalah relasi manusia tanpa negara dan tanpa hirarkhi. Dan satu lagi, mereka sangat membenci property atau kepemilikan. Apakah Marx punya andil di sini?

Manifestasi tindakan kaum anarkhis membuat banyak label sebagai kelompok komunis radikal dilekatkan kepada mereka. Dan bukan rahasia lagi jika di masa itu, ide-ide Marx sangat mempengaruhi gerakan-gerakan revolusioner, salah satu diantaranya adalah anarkhisme (radikal). Ide Marxisme mungkin memberi pemahaman tentang struktur atau kelas yang menindas, tapi visi dan tujuan akhir kelompok anarkhis sangat bertolak belakang dengan negara sosialisme a la Marx. Bukti lainnya pengaruh Marxisme adalah perspektif umum dari anarkhis yang memakai pendekatan konflik dan nuansa perang antar kelas, seperti Henry yang mengidentifikasi musuhnya adalah “petty bourgeois”.

“…You, the bourgeois, who are in this café, you are not innocent. It’s because of you, the petty bourgeois. You support les gros,” the big ones, “on every possible occasion. You forget about us when your factory owners throw us out when we can no longer work any longer, or women workers happy not to have had to prostitute themselves in order to pay their rent and their husbands’ rent by the end of the month. But what you can never do is destroy anarchism. Its roots are too deep.”

Dari penuturan heroik Henry, kita bisa tahu dengan jelas apa alasannya mengebom kelompok borjuis (baca:kapitalis) kecil ini. Karena telah berkonstribusi dengan melanggengkan kaum penindas, mereka harus membayar harganya dengan kematian. Atau dengan kata lain, karena kaum anarkhis tidak bisa menjangkau langsung borjuis besar, maka para borjuis kecil ini yang harus menanggung akibatnya. Dengan modus “proxy war” ini, apakah serta merta kita bisa menyamakan anarkhisme dengan terorisme?

Terorisme sebagai sebuah isme (ideologi) sebenarnya sangat kekurangan ideologi. Praktik penggunaan metode kekerasan secara sistematis lebih mengemuka daripada ideologi apa yang diperjuangkan. Anarkhisme boleh mengklaim perjuangan mereka visioner, walaupun menggunakan praktik yang sama. Di sisi lain, terorisme juga lebih “baik hati” daripada kelompok anarkhis dalam proses revolusinya. Terorisme secara otomatis akan menggantikan struktur atau tatanan tertentu dengan yang lain, dengan karakteristik yang kurang lebih sama, tapi muatan serta perilakunya berbeda. Anarkhisme memastikan akan menegasikan semua struktur dan hirarkhis yang ada.

Terlepas dari semua kontroversi di atas, kaum anarkhis menantang kita semua untuk menjawab pertanyaan utamanya: apakah otoritas atau pemerintahan masih diperlukan lagi jika terus-menerus menyiksa rakyatnya sendiri?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: