Isu Papua dan Pemberdayaan Masyarakat Papua

papua

Diinisiasi oleh para aktivis Kristen yang tergabung dalam grup Blackberry “Pustakalewi”, Selasa (3/01) diadakan sebuah gathering di RM Mutiara Surabaya untuk membicarakan isu Papua dan bagaimana prospek pemberdayaan masyarakat Papua.

Hadir dalam kesempatan tersebut Sonny SS, Toga, Santo V, Hartley, Yappi, Daniel Rorong, Edy Gunawan, dan beberapa aktivis dari Merah Putih. Berlangsung selama lebih dari tiga jam, pertemuan informal ini digunakan sebagai forum mensharingkan visi dan persepsi dari sisi perspektif Kristiani terhadap isu Papua.

Bung Yappi, aktivis dari Papua yang aktif menggemakan isu Papua di berbagai forum pustakalewi, di awal pembicaraan mengungkap dimensi-dimensi resistensi masyarakat Papua terhadap Jakarta yang menjadi faktor-faktor munculnya konsepsi kemerdekaan Papua. Salah satunya adalah agama. Apalagi masyarakat di tingkat bawah, secara psikologis sudah banyak yang merasa “getir” ketika mengingat pengalaman kebijakan yang kurang tepat dari pusat.

Dimensi keberadaan Freeport, juga disinggung bung Yappi dengan membeberkan fakta bahwa Freeport telah berkonstribusi banyak bagi pengembangan Papua. Bahkan disebutkannya bahwa Freeport sampai tahun 2010 sudah mengucurkan dana dengan jumlah sangat besar. Dimensi Freeport ini yang juga ditarget sebagai salah satu konsekuensi konflik perebutan kekuasaan antara berbagai pihak, diantaranya adalah militer, kepolisian serta politisi.

Paparan ini langsung disambut oleh para aktivis Kristen Surabaya, seperti Edy Gunawan, Daniel Rorong, Hartley, maupun Sonny. Dengan benang merah yang sama diungkap keprihatinan terhadap semakin memanasnya isu Papua ini dan kemudian mempertanyakan konsepsi pemberdayaan masyarakat Papua itu sendiri jika memang memilih opsi untuk mandiri.

Pertanyaan terakhir ini patut diajukan, karena seperti yang diungkap bung Hartley, isu Papua ini tidak memperlihatkan kesolidan masyarakat Papua sendiri dalam bernegosiasi dengan Jakarta. Terlalu banyak konflik kepentingan yang menyebabkan OPM tidak seperti GAM yang mampu bernegosiasi memperjuangkan kepentingannya dengan Jakarta dalam posisi yang setara. Dengan kata lain, nada pesimisme muncul tatkala harus menjawab pertanyaan: apakah masyarakat Papua bisa menjadi berdaulat di tanahnya sendiri?

Di sisi lain forum ini juga menyinggung peran umat kristen, terutama gereja sebagai katalisator gerakan kemerdekaan Papua. Kesimpulan sementara pembicaraan ini mengungkap bahwa keberadaan simbol-simbol agama yang dibawa dalam ranah perjuangan politik, seperti yang kita lihat dalam teologi pembebasan di Amerika Latin, bisa diartikan sebagai kegagalan pemberdayaan politik masyarakat itu sendiri, atau dengan kata lain kegagalan memberi pengaruh ke luar tanpa membawa simbol-simbol agama yang cenderung sektarian.

Skisma gereja dan umat di Papua akibat perbedaan visi dan misi politik menjadi konsekuensi tak terelakkan dari mereka yang pro maupun kontra independensi Papua. Akibatnya tensi dan eskalasi konflik semakin meluas yang berpotensi menimbulkan konflik horisontal antar masyarakat Papua itu sendiri.

Tidak bisa dipungkiri, gereja, dan kekristenan adalah unsur vital dalam memahami masyarakat Papua. Pemahaman ini pula yang melandasi urun-rembug teman-teman aktivis yang sering bertemu dalam berbagai forum Pustakalewi. Langkah awal dalam gathering ini diharapkan bisa menjadi saluran komunikasi awal untuk membuat suatu langkah konkrit bagi kebaikan masyarakat Papua itu sendiri.

Ada beberapa usulan konkrit yang disampaikan teman-teman aktivis sehubungan dengan bagaimana memberi penguatan kapasitas sipil masyarakat Papua. Diantaranya adalah membuat suatu jalur komunikasi dan interaksi mendalam dalam format “capacity building” masyarakat itu sendiri. Potensi pemberdayaan masyarakat Papua dalam dimensi sipilnya sangat besar mengingat sudah banyak sumber daya manusia masyarakat Papua sendiri. Kemudian para aktivis ini juga sepakat untuk terus mendengungkan isu Papua kepada para stakeholders Kekristenan di Jawa Timur. Bukan dalam rangka motif politisasi isu Papua, tapi dalam kerangka perspektif keimanan apa yang bisa kita berikan dalam bagian penyelesaian masalah Papua ini.

Dengan langkah-langkah awal ini diharapkan timbul proses pembelajaran bagi semua pihak supaya lebih bijaksana dalam mencari format penyelesaian isu Papua. Proses perumusan kebijakan yang sentralistis, pemerintah pusat yang parsial dalam melihat permasalahan, berkelindannya kepentingan ekonomi-politik serta terdifusinya berbagai kepentingan masyarakat Papua itu sendiri menjadi akar permasalahan yang harus segera diselesaikan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: