Michael Woodford

Iya, Michael Woodford, adalah nama yang cukup menghebohkan media massa barat di akhir tahun 2011. Jika anda belum pernah mendengar namanya, maka simaklahlah sepenggal kisah perjalanan hidupnya yang memberi kita pelajaran (sekali lagi) tentang apa yang disebut benturan pemaknaan kebudayaan.

Terlahir tahun 1960 di Inggris dan berbekal status sebagai lulusan Millbank College of Commerce, sosok Woodford sebagai seorang businessman layaknya cerita klasik. Klasik dalam artian seorang pekerja keras dan brilian yang kemudian mendapat promosi sampai jenjang tertinggi karir seorang pegawai di satu perusahaan.

Kata satu perusahaan harus ditekankan karena dia adalah seorang “salary man”, istilah unik dalam kosakata barat untuk menyebut seorang pegawai yang hanya mendedikasikan waktu berkaryanya hanya untuk satu perusahaan saja. Dan perusahaan tersebut adalah Olympus. Olympus sendiri kita kenal di Indonesia melalui berbagai produk kamera digital yang cukup paten kualitasnya.

Tak ada yang salah dari perjalanan karir Woodford yang dimulainya tahun 1981 bekerja di unit perusahaan Olympus di Britania Raya sampai September 2011 dengan menjadi CEO yang menurut Woodford ditunjuk sendiri oleh chairman Olympus, Tsuyoshi Kikukawa. Bahkan status Woodford menjadi istimewa mengingat dia adalah orang non-Jepang (gaijin) pertama yang menjadi CEO di perusahaan berusia 92 tahun tersebut.

Berbagai pujian juga mengalir dari pihak Olympus sendiri yang secara singkat mencerminkan apresiasi mereka terhadap karakter Woodford yang dinilai mencerminkan karakter ke-Jepang-an mereka: kesetiaan, kerja keras, rasa hormat, dan kepatuhan. Dua hal pertama tak perlu diragukan dari dedikasi dan konstribusi Woodford yang telah mengabdi selama 30 tahun sehingga dia pernah berkata bahwa kesetiaan terhadap perusahaan bagi orang Jepang tak ubahnya seperti kesetiaan dalam pernikahan.

Sedangkan dua hal terakhir, rasa hormat dan kepatuhan, adalah problematika yang timbul karena ketidaksepakatan tentang apa maknanya bagi seorang Woodford dan orang-orang Olympus itu sendiri. Rasa hormat dan kepatuhan bagi orang yang dipromosikan, meminjam pernyataan mantan jurnalis Yomiuri Shinbun Jake Adelstein, adalah “harus tutup mulut terhadap hal-hal yang tidak mau dibicarakan orang”.

Di posisi yang antagonis, Woodford justru menilai rasa hormat dan kepatuhan ini adalah kultur yang destruktif bagi perusahaan. Hanya dalam waktu dua minggu Woodford membuktikan pemaknaannya tersebut melalui serangkaian investigasi penyelewengan keuangan perusahaan yang ditaksir oleh berbagai media massa mencapai 1,7 milyar Dollar AS.

Jumlah itu mencakup berbagai kerugian Olympus karena membeli serangkaian perusahaan bodong (dalam artian perusahaan yang memang berniat bankrut), mark-up jasa-jasa konsultasi proyek, serta dugaan berbagai transaksi mencurigakan ke tempat-tempat “tidak lazim” seperti Cayman Islands. Bagi kita yang pernah bergumul dengan dagelan atau tragedi ekonomi bernama skandal BLBI, nama Cayman Islands, atau sejenisnya seperti Cook Islands atau Virgin Islands tentu cukup familiar, serta pasti tahu apa maksudnya.

Dunia korporasi internasional cukup terguncang ketika data-data ini diungkap sang CEO ke publik. Saham Olympus sempat anjlok, dan sang chairman, Kikukawa, bisa dipastikan menyesal setengah mati dengan keputusannya mempromosikan Woodford. Pertengahan bulan Oktober 2011, dewan direksi yang diketuai Kikukawa memecat Woodford dengan setumpuk alasan kultural. Diantaranya adalah gaya orang Inggris yang tidak cocok bagi kultur kerja Olympus, berbagai investigasi yang dilakukan Woodford dinilai tidak layak dan tidak termaafkan, serta menurut Kikukawa, Woodford dinilai tidak menyukai jepang.

Entah alasan-alasan tersebut sebuah simplifikasi atau sebuah konvensi, yang jelas karir Woodford di Jepang berakhir bersamaan dengan terbunuhnya karakternya. Woodford jelas tidak terima dengan perlakuan yang diterimanya dari Olympus dan sempat membawa kasusnya ke meja hijau, walaupun berita terakhir menyebutkan bahwa dia tidak akan meneruskan kasusnya ini karena tekanan berat yang dialami dia dan keluarganya sebagai dampak ekspos besar-besaran kasus ini.

Perbedaan pemakanaan tentang apa itu suatu kebudayaan, dalam konteks tertentu, tentu tidak akan mampu menjelaskan setiap dimensi permasalahan ini. Baik Woodford maupun Olympus tentu mempunyai pemaknaan dan preferensinya sendiri tentang apa itu sebuah kebudayaan dan bagaimana artikulasinya dalam kehidupan sehari-hari.

Pemikir klasik Prancis, Rene Descartes, pernah mengungkap suatu paradoks penilaian kebudayaan yang dianggapnya sebagai tolak ukur apakah orang itu modern atau tidak. Bagi orang Prancis dan Eropa seperti dia, kebudayaan lain akan terlihat konyol bahkan gila karena tidak sesuai dengan kultur dan pandangannya terhadap dunia. Dan posisi paradoks, yang diajukan Descartes adalah apakah kebudayaannya juga dinilai konyol, gila, bahkan tak beradab atau primitif di mata orang yang mempunyai perbedaan kultur tersebut?

Jadi dalam konteks perbedaan pemaknaan kebudayaan yang dialami oleh Woodford, siapa yang konyol dan tak beradab, Woodford atau orang-orang Olympus yang ditudingnya korup? Di sini saya sepakat, bahwa akal sehatlah yang akan menjawabnya…

One Response

  1. There’s definately a lot to know about this subject. I really like all of the points you made.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: