Nobody to Watch Over Me (誰も守ってくれない)

nobody

Pernah membayangkan hal buruk,kesialan, dan semua beban dunia jatuh di pundak seseorang yang mengubah seluruh kehidupan manusia dalam waktu singkat? Nobody to Wath Over Me (rilis 24 Januari 2009) besutan Ryôichi Kimizuka memang tidak menampilkan penderitaan di titik ekstrim, tapi lebih menonjolkan ketegangan mentalitas personal dan bersangkut paut dengan kultur sosial masyarakat yang membuat narasinya menjadi sangat orisinil dan segar.

Lagu bernuansa khidmat dari Libera, You were There, yang ditampilkan di awal tidak mampu membunyikan nuansa ketegangan ini tatkala narasi dengan cepat menyajikan adegan polisi mengepung rumah tersangka pembunuhan dua orang anak perempuan. Nuansa shocking segera menyelimuti keluarga tatkala sang tersangka, anak lelakinya yang masih berusia 18 tahun, digelandang oleh polisi di tengah kepungan “nyamuk-nyamuk pers” yang setengah meliput dan setengah menghakimi.

Sudut pandang narasi masih kabur ketika dalam hitungan jam anggota keluarga yang lain berkumpul dan dimintai keterangan, masih di rumah. Sang ayah, Reiji Funamura (diperankan Koji Sato), sang ibu, Sumie Funamura (Satomi Nagano), dan sang adik, Saori Funamura (Mirai Shida) “disidang” plus diinterogasi di bawah kerumunan awak media yang mengelilingi rumah serta umpatan tetangga yang merasa terganggu.

Menariknya adalah, dalam konteks kultural Jepang yang kuat tentunya, aparat hukum segera bertindak cepat dengan mengajukan usulan supaya sang ayah dan sang ibu bercerai sehingga ketika anaknya diumumkan menjadi tersangka, dengan memakai marga ayahnya, si ibu dan putrinya yang telah “bercerai kilat” ini bisa terhindar dari tekanan sosial. Instansi-instansi terkait seperti pendidikan juga langsung datang untuk membereskan urusan keluarga ini.

Fokus segera beralih kepada sang adik yang dipastikan mendapat suasana shocking di usianya yang baru 15 tahun. Saori Funamura hanya bisa terbengong tatkala melihat kedua orangtuanya menuruti usulan untuk bercerai di depan matanya dan bertambah lagi tatkala disembunyikan oleh dua detektif Takumi Katsuyoshi (Kôichi Satô) dan Shogo Mishima (Ryûhei Matsuda) yang ditugaskan khusus untuk melindungi si adik dari tekanan media, lingkungan, serta usaha bunuh diri. Narasi berlanjut dengan perjalanan Katsuyoshi dengan Saori dengan ciri khas Japanese Movie: lambat alurnya tapi menawan dalam detail.

Ada beberapa nuansa baru yang layak menjadi pegangan atau setidaknya pertimbangan memahami apa yang bisa didapat dari narasi ini. Nuansa kultural harus diakui di negara-negara Asia Timur (Jepang, Korea, dan Cina) dangat kuat. Kuat dalam pemahaman konstruktif secara sosial tapi juga sangat destruktif ketika melakukan hukuman sosial. Aspek ini yang mungkin dalam pembacaan subyektif mengharuskan negara mengintervensi ruang privat dengan asumsi anggota keluarga lain yang tidak bersalah tidak terkena getahnya.

Nuansa berikutnya yang masih bersangkut paut adalah apa yang bisa kita dapatkan dari sudut pandang Saori (adik si tersangka pembunuhan). Rumusnya sederhana: keluarga tersangka atau pelaku kejahatan juga bisa menjadi korban itu sendiri, dan dalam narasi ini digambarkan menderita beban yang lebih berat. Dalam konteks Jepang, bahkan beberapa anggota keluarga pelaku kejahatan lazim melakukan bunuh diri karena tidak kuat menanggung malu serta tekanan sosial.

Memberi suatu pencerahan kepada kita bahwa perspektif “victim” bisa ditafsirkan dalam banyak arti. Korban tidak hanya mereka yang menderita langsung oleh sang pelaku, tapi juga relasi-relasi terdekat sang pelaku kejahatan juga bisa menjadi “korban” dalam artian yang sesungguhnya. Saori Funamura menjadi contoh sempurna dalam konteks tersebut, semua relasi pertemanan, pacaran, tetangga, dan yang paling dekat di keluarga inti menjadi rusak dan tidak bisa tersembuhkan. Akibatnya mentalitas distrust muncul dan melemparkan pertanyaan kepada kita semua: siapa yang lebih pantas kita sebut sebagai korban dalam konteks narasi ini?

Bisa dipastikan sulit untuk menjawab pertanyaan tersebut setelah merubah sudut pandang korban ke Saori Funamura. Bisa diperkirakan sulit juga untuk melakukan suatu rekonsiliasi sosial bagi Saori yang masih berusia 15 tahun dan bisa dipastikan resiliensinya tidak sematang orang dewasa, mungkin hal yang paling realistis adalah pindah ke komunitas sosial yang baru. Satu hal yang pasti adalah tidak ada sistem sosial yang flawless, baik dalam mencegah kejahatan yang paling primitif (menghilangkan nyawa orang lain) maupun untuk melakukan rehabilitasi dan rekonsiliasi pelaku kejahatan tersebut supaya bisa diterima dalam masyarakat.

Dan terakhir yang perlu ditulis untuk mengapresiasi film ini adalah beberapa penghargaan internasional yang didapatnya, terutama dalam Best Screenplay dalam Montreal World Film Festival 2008 dan yang paling monumental ialah menjadi seleksi resmi yang mewakili Jepang dalam nominasi Academy Award ke-82 untuk kategori film berbahasa asing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: