Tantangan Methodis

methodist

United Methodist Church (UMC), denominasi Methodis terbesar di Amerika Serikat dengan jemaat sekitar 12 juta orang di seluruh dunia menggelar Konferensi Umum setiap 4 tahun sekali yang kali ini dihelat di Tampa, Florida. Diantara sekian isu yang dibahas, isu besar kali ini adalah apakah kelompok-kelompok LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender) diakomodasi oleh UMC. Dan jawabannya kali ini adalah: tidak!

Jawaban tersebut muncul dengan alas an bahwa LGBT tidak sesuai dengan ajaran-ajaran Kristen seperti yang diyakini oleh UMC dan karena itu tidak mengubah pandangan mereka ke arah yang lebih moderat seperti yang diperjuangkan terutama oleh kelompok-kelompok pejuang hak kaum gay. Dengan kata lain, UMC tidak merubah Book of Discipline yang selama ini menjadi pegangan gereja melihat berbagai permasalahan di dunia, salah satunya fenomena LGBT.

Kontan saja hasil voting dari sekitar 1000 delegasi UMC ini menimbulkan ketidakpuasan, terutama mereka yang tergabung dalam Common Witness Coalition, sebuah kelompok yang memperjuangkan hak kaum gay. Besok paginya (03/05) mereka sempat menduduki tempat rapat sebelum sempat ditenangkan oleh beberapa pimpinan gereja yang menyatakan kata-kata simpatik “bahwa mereka memahami rasa sakit yang dialami kelompok pro-homoseksusal ini”.

Apa yang terjadi dalam Konferensi Umum UMC ini menjadi refleksi bersama bagi kelompok Kristen manapun dalam menjawab setiap tantangan jaman, tak terkecuali isu-isu LGBT.

Seperti biasa, tulisan ini tidak akan menjawab pertanyaan mengenai kemana seharusnya arah jawaban bagi tantangan Methodis tersebut, tapi menyibak faktor-faktor determinan apa yang seharusnya dipertimbangkan dalam proses menjawab tantangan jaman tersebut.

Pertama dan yang paling utama adalah munculnya kelompok LGBT sebagai kekuatan baru di ruang publik dan jika dilihat trendnya akan semakin mendapat banyak simpati, tak terkecuali di lingkungan komunitas Kristen. Pelan tapi pasti, hambatan-hambatan kultural mampu mereka atasi dan akhirnya menjadi faksi tersendiri yang menuntut pengakuan akan identitas dan keberadaan mereka. Fase berikutnya mungkin tuntutan akan perlakuan yang sama, termasuk menduduki jabatan-jabatan gerejawi.

Melompat dari ruang lingkup UMC, coba kita simak apa hasil survei terbaru dari Public Religion Research Institute mengenai bagaimana pandangan generasi milenial Amerika (usia 18-29) menyikapi hak-hak kelompok homoseksual. Angkanya cukup mengejutkan dengan dukungan terhadap kelompok homoseksual ini untuk menikah di angka 62%. Secara sederhana bisa diambil kesimpulan, generasi mendatang akan semakin terbuka dan semakin berkurang resistensinya kepada kelompok LGBT.

Jika kita asumsikan faktor pertama tadi adalah sisi eksternal, maka faktor kedua harus dilihat dalam perspektif internal gerejawi. Tak lain adalah bergesernya, setidaknya secara kuantitas, sentral kekristenan yang bisa dibaca dari indikator jumlah umat di AS dan di luar AS. Dari 12 juta jemaat UMC yang berdiri sejak 1968, 40% diantaranya berada di negara-negara Asia dan Afrika, di AS sendiri malah jumlahnya semakin menyusut. Denominasi Kristen yang berkembang paling pesat, Mormon, juga mencatat angka 57% jemaatnya berada di luar AS dari total 14 juta jemaatnya di seluruh dunia.

Pergeseran secara kuantitas kekristenan ke belahan yang mayoritas negara dunia ketiga niscaya juga menggeser isu-isu krusial yang dihadapi gereja. Isu-isu pemberdayaan ekonomi masyarakat, kepedulian sosial, pengentasan kemiskinan dan demokratisasi merupakan tema-tema sentral di negara-negara Asia, Afrika dan Amerika Latin. Tapi berkembangnya isu-isu tersebut juga tidak secara otomatis menghapus isu-isu khas negara maju: hak asasi manusia, sekularisasi, dan liberalisasi.

Implikasi langsungnya adalah kontestasi wacana atau isu-isu sentral diantara du kutub tersebut. Pola patronase atau adopsi tema-tema sentral dari gereja pusat (negara-negara barat) ke gereja cabang (negara-negara berkembang) akan menghadapi tuntutan desentralisasi. Menyimak tren ini, maka kelompok yang pro terhadap hak-hak kaum LGBT harus juga secepatnya menyesuaikan tuntutan mereka dengan tema-tema sentral di negara-negara berkembang karena masa depan gereja akan ditentukan di sana. Demikian pula bagi kelompok yang kontra terhadap keberadaan LGBT dalam komunitas gereja, sikap menutup mata akan semakin signifikannya jumlah kelompok ini menjadi sesuatu yang perlu dicermati terus-menerus mengingat ruang publik yang ditempati gereja semakin terbuka terhadap eksistensi mereka.

Penulis yakin bahwa kedua faktor tersebut akan menjadi determinan utama menjawab isu-isu yang berkembang dalam tubuh gereja. Tidak hanya permasalahan homoseksual, isu gender, rasial, etnisitas, kelas sosial, juga menjadi momok tersendiri bagi gereja di belahan dunia manapun. Penulis juga yakin bahwa tidak akan ada jawaban tunggal dan seragam dari setiap denominasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: